Guru besar pendidikan di Unesa, board member dari International Journal of Reserach on Vocational Education and Training, anggota World Educational Research Association. Pernah menjadi Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti dan Rektor Unesa.
[1] Penyederhanaan dari makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional bertema “Meneropong Arah Pendidikan Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya, Tanggal 19 Juli 2020.
Ketika memberikan paparan tentang pembelajaran di era pandemic covid-19, saya selalu mengatakan jangan-jangan covid-19 itu bagian dari Allah swt memberi pelajaran kepada kaum pendidik. Bukankah dalam bidang lain penggunaan teknologi digital (IT) telah kira rasakan. Kita sudah hampir tidak pernah mengambil uang ke bank, karena lebih enak ke ATM. Bahkan akhir-akhir ini mengirim ke suadara atau membayar sesuatu kita menggunakan mobile banking. Ketika bepergian naik kereta kita membeli tiket online dan chek in di stasiun juga menggunakan mesin chek in. Majalah, jurnal dan buku elektronik (e-magazine, e-journal, e-book) telah kita unduh dan kita baca. Pertanyaannya, mengapa kita belum mencoba pembelajaran online (e-instruction)?
Setelah selama 6 bulan kita terpaksa melaksanakan pembelajaran onlie, tampaknya guru, dosen, siswa, mahasiswa juga mulai terbiasa. Kita juga terpaksa melakukan rapat-rapat secara online. Bahwa banyak kendala dan banyak kekurangan kita harus mengakui. Namun kita juga harus mengakui ada beberapa manfaat yang kita petik dalam melaksanaan pembeajaran online dan rapat online selama enam bulan ini.
Guru sedang mengajar secara online-murid belajar secara online dari rumah
Tidak semua topik/kompetensi dapat dilaksanakan dengan pembelajaran online. Ada yang bisa dengan mudah, ada yang bisa tetapi tidak mudah, dan ada yang rasanya tidak mungkin dilakukan secara online. Teman-teman guru dan dosen tentu dapat merasakan itu. Hal-hal yang terkait dengan aspek kognitif dan levelnya informatif, guru dapat memandu siswa mencariya di berbagai sumber online. Mbah google adalah salah satu “penunjuk jalannya”. Namun ketika mulai melakukan analisis terhadap informasi tersebut, tampaknya pendampingan secara intensif sangat diperlukan. Penerapan suatu rumus tampaknya juga memerlukan pendampingan. Yang rasanya sulit untuk dilaksanakan secara onlie adalah yang terkait dengan skills. Yang sederhana dan tidak berbahaya masih bisa walaupun tidak mudah. Namun jika gerakan atau keterampilan itu kompleks dan atau berbahaya akan sangat sulit, sehingga memerlukan pendampingan secara tatap muka.
Beberapa aspek karakter dan yang terkait dengan “rasa” memerlukan keteladanan sehingga interaksi secara fisikal diperlukan. Memang bisa dicontohkan melalui video tetapi dalam tahap tertentu, keteladanan secara nyata sangat diperlukan. Apalagi kita telah faham bahwa penumbuhkan karakter itu memerlukan waktu lama dan konsistensi dalam kehidupan keseharian.
Di sisi lain, pembelajaran online ternyata juga memberikan dampak positif. Siswa yang biasanya jarang bertanya ketika pembelajaran dilakukan secara tatap muka, tiba-tiba menjadi aktif bertanya dan menyampaikan pendapat. Siswa menjadi terlatih mencari informasi. Jika ketika tatap muka, guru cenderung memberikan informasi secara ceramah, saat pembelajaran online siswa terbiasa mencarinya dari sumber-sumber di dunia maya melalui internet. Rapat secara online ternyata juga efetif, karena peserta dapat mengikuti dari mana saja. Peserta rapat juga menjadi lebih aktif. Bahkan akhir-akhir ini seminar online seakan mewabah dan banyak yang gratis.
Pertanyaannya, apakah ketika pandemic covid-19 dan sekolah telah “dibuka” kembali, apakah pembelajaran online akan hilang dan pola pembelajaran kembali seperti dulu? Sebelum mencoba melakukan analisis, ijinkan saya bercerita dahulu. Beberapa minggu lalu saya ketemu dan ngobrol dengan teman yang menekuni dunia marketing. Beliau mengatakan nanti mall itu akan berubah fungsi. Bukan tempat orang jual-beli, tetapi tempat orang jalan-jalan untuk mencuci mata dan sekaligus sebagai show room. Lantas, dimana jual-belinya? Online. Jadi orang ke mall untuk melihat barang, melihat harga dan jika perlu mencobanya. Tetapi tidak membeli. Setelah mengetahui barang yang dirasa cocok dan jalan-jalan juga sudah puas, akan pulang untuk membelinya secara online dari rumah. Mengapa? Karena harganya lebih murah. Prediksi seperti itu juga sudah disadari oleh para pengusaha, sehingga disamping membuka gerai di mall mereka juga menyediakan layanan penjualan online.
Apa semua barang aman diberi secara online? Ternyata tidak. Kalau barang yang dibeli suatu produk yang standar, misalnya sepatu merk tertentu. Baju merk tertentu, katanya aman dibeli secara online. Tetapi untuk barang-barang yang khas, misalnya baju batik, perhiasan sejenis emas yang tidak memiliki standar tertentu, pembelian sebaiknya dilakukan secara langsung.
Bagaimana dengan gofood? Apakah rumah makan akan sepi setelah pandemic berakhi? Menurut teman saya tadi, tidak. Namun berubah. Orang yang ke rumah makan atau warung adalah mereka yang ingin makan sambil santai bersama dengan teman-teman. Di samping itu, makanan seringkali “berubah rasa” ketika dibawa pulang. Oleh karena itu, rumah makan tidak akan banyak tergerus seperti gerai di mall yang menjual barang non makanan matang. Apa gofood atau sejenisnya akan berhenti? Juga tidak. Orang yang ingin makan karena lapar bukan ingin santai, apalagi malas keluar rumah atau keluar kantor, akan tetapi menggunakan gofood. Jadi keduanya akan tetap jalan.
Blended Learning
Nah sekolah, bagaimana dengan proses pembelajaran? Saya meyakini, walaupun nanti pandemic sudah berakhir, pembelajaran online akan tetap berjalan. Tidak sendirian, tetapi berpadu dengan “pembelajaran tradisional”. Itulah yan disebut blended learning, atau sederhananya campuran antara pembelajaran online dengan tatap muka. Bukan berarti siswa tidak datang ke sekolah. Bisa saja siswa berada di dalam kelas, tetapi mereka sedang mempelajari materi secara online. Bukan berarti tidak ada guru. Guru ada, tetapi fungsinya membantu jika siswa mengalami kesulitan. Bisa saja setelah beberapa saat siswa belajar online dilanjutkan latihan memecahkan masalah yang dilakukan secara interaktif langsung bersama guru. Alias seperti yang dahulu dilakukan.
Nah yang sekarang perlu dipikirkan dan disiapkan adalah mana bagian yang dapat atau lebih efektif dilakukan secara online dan mana yang harus secara interaksi tatap muka dengan guru. Terkait dengan online atau tatap muka, mungkin aspek kognitif, afektif dan psikomotor memerlukan cara yang tidak tepat sama. Mungkin juga level SD, SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi juga memerlukan pendekatan yang berbeda. Semua ini masih baru dan belum ada yang punya pengalaman. Sebaiknya semua guru, dosen apalagi mereka yang ahli pembelajaran melakukan inovasi untuk menyongsong era baru, era blended learning. Semoga.
Ketika pertama kali saya menggunakan istilah life skill, di dalam naskah pidato pengukuhan guru besar pada 14 Desember 1998, banyak kawan mempertanyakan apa maknanya. Apakah itu sama dengan basic skill dalam konsep pendidikan vokasional atau skill dalam taksonomi Bloom? Jawaban saya saat itu life skill adalah kecakapan hidup, yaitu kecakapan yang diperlukan seseorang untuk dapat sukses dalam kehidupannya, persis seperti yang kita temukan dalam bab Mencermati Orang-orang Sukses.
Sengaja digunakan istilah ”kecakapan” sebagai kata Indonesia (terjemahan) dari ”skill” dan bukan ”keterampilan”. Hal itu semata-mata untuk menghindari penyempitan arti skill sebagai keterampilan manual. Mengapa demikian? Karena selama ini, istilah keterampilan diasosiasikan dengan keterampilan psikomotorik dari taksonomi Bloom, sehingga maknanya menyempit menjadi keterampilan yang bersifat manual saja. Akibatnya, ketika konsep life skill diperkenalkan kepada sekolah, banyak SD dan SMP yang mengadakan program keterampilan bagi siswa, misalnya siswa SD diajari memelihara itik, membuat keset (untuk membersihkan kaki, sebelum masuk rumah) dan sebagainya. Bukan berarti, siswa SD tidak boleh berlajar keterampilan manual, tetapi life skill jauh lebih luas dari sekadar ketrampilan manual.
Penggunaan kata life skill dalam makna lain, juga terjadi pada Undang-undang nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 26, ayat (3) disebutkan bahwa pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Rumusan tersebut mengesankan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan bentuk ”program pendidikan”, seperti program pendidikan kepemudaan dan sebagainya. Jadi bukan suatu substansi pendidikan.
Seperti yang akan diuraian lebih lanjut, pada buku ini pendidikan kecakapan hidup (life skill education) dimaknai sebagai substansi pendidikan, yaitu pendidikan yang mengajarkan kecakapan untuk menggapai kesuksesan hidup, sebagaimana digambarkan pada bab Mencermati Orang-orang Sukses. Substansi life skill dapat masuk ke berbagai program pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan memang menyiapkan anak didik agar sukses di kehidupannya kelak.
Saya merasa heran ketika pada tahun 2001 istilah life skill tiba-tiba muncul dan cepat populer di Indonesia dan bahkan dari penelusuran di media internet, ternyata juga banyak negara yang sudah menggunakan istilah itu dengan arti yang berbeda-beda. Dalam dunia maya (internet) kini ada beberapa situs yang namanya terkait dengan life skill. Bahkan ada banyak situs yang secara khusus memuat berbagai hal yang terkait dengan life skill, misalnya program life skill untuk remaja dan bahkan ada program life skill khusus untuk isteri pelaut. Unesco juga pernah menyeponsori pertemuan yang membahas program-program life skill education, salah satunya di Seoul Korea Selatan, pada Desember 2003.
Salah satu negara yang relatif sangat serius dalam mengembangkan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) adalah Hongkong. Melalui Basic Education Curriculum Guide: Building in Strength 2002, Hongkong tampak berusaha menyempurnakan pendidikannya dengan memasukkan life skill ke dalamnya. Dalam naskah tersebut dimuat, apa yang mereka sebut sebagai National Learning Goals, yang ternyata isinya juga mirip dengan life skill yang kita hasilkan lewat proses induksi, seperti diuraikan di bab terdahulu.
Negara lain yang juga getol mengembangkan konsep pendidikan yang mirip life skill adalah New Zealand. Dari berbagai dokumen, diketahui bahwa mereka telah merumuskannya pada tahun 1993, dalam The New Zealand Curriculum Framework. Mereka menyebutnya dengan istilah ”the essential skills”, yang ingin dikembangkan melalui pendidikan di negara tersebut. Dalam dokumen tersebut tertulis, the essential skills merupakan kecakapan yang diperlukan generasi muda, untuk dapat berpatisipasi secara efektif dalam kehidupan di masyarakat.
Walaupun makna life skill yang dipakai oleh para pengguna dari berbagai negara berbeda-beda, tetapi jika dicermati mengandung satu makna universal, yaitu kecakapan yang diperlukan untuk menghadapi problema kehidupan dan kemudian secara aktif dan kreatif memecahkannya. Bukankah pengertian itu identik dengan pengertian yang kita gunakan pada bab Mencermati Orang-orang Sukses? Bukankah untuk sukses, memang diperlukan kecakapan untuk menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan secara kreatif? Bahkan beberapa ahli menyatakan, diperlukan kecakapan untuk mengantisipasi akan adanya masalah dan kemudian mengubah masalah tersebut menjadi manfaat. Oleh karena itu, dalam buku ini, life skill tetap diartikan sebagai kecakapan yang diperlukan untuk menggapai kesuksesan hidup.
Kata ”sukses” mengandung makna yang luas dan tidak tepat sama rinciannya bagi setiap orang. Seperti disinggung pada bab sebelumnya, tentu orang tua tidak ingin anaknya hanya sukses dalam aspek karier dan materi, tetapi gagal dalam membina rumah tangga. Orang tua juga tidak ingin anaknya sukses dalam membina rumah tangga dan materi, tetapi tidak disenangi oleh masyarakat sekitarnya. Mereka tidak ingin anaknya sukses dalam karier dan kaya, tetapi tidak taat beragama. Sebaliknya orangtua tidak puas jika anaknya anaknya taat menjalankan ibadah ritual, seperti shalat, puasa dan membayar zakat serta telah melaksanakan ibadah haji, tetapi gagal dalam karier dan berumah tangga.
Jika peran manusia dalam kehidupan dapat diidentifikasi, kita dapat melakukan analisis untuk menemukan kecakapan hidup yang diperlukan untuk melaksanakan peran tersebut. Jika kecakapan hidup dapat ditemukan, maka kita dapat menyiapkan pola pendidikan yang mampu mengembangkan kecakapan tersebut, baik itu untuk dilaksanakan di keluarga maupun di sekolah. Dengan cara itu, pendidikan yang kita lakukan akan benar-benar mengembangkan kecakapan yang diperlukan untuk memerankan diri dalam kehidupan di masa datang.
Empat Peran dalam Kehidupan
Dari berbagai referensi dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, saya mencoba mengkonstruksi peran manusia dalam kehidupan, seperti tampak pada Gambar 2. Setiap orang memiliki empat peran dalam kehidupan, yang dilaksanakan secara bersama-sama dan simultan, yaitu sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari lingkungan alam, dan terakhir tetapi sangat penting adalah sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai pribadi yang mandiri, seseorang dituntut untuk mampu menghadapi dan memecahkan problema yang dihadapi. Di dalam pekerjaan, tentu selalu ada problema yang harus dipecahkan dan bahkan orang yang tidak bekerja, dalam arti mencari uang seperti ibu rumah tangga, juga selalu menghadapi problema. Anak kecil yang rewel dan minyak goreng habis, di saat akan masak adalah contoh problema bagi ibu rumah tangga. Anak sekolah juga selalu menghadapi problema, misalnya harus mengerjakan PR (pekerjaan rumah) di saat ingin ikut ibunya ke toko atau besuk akan ulangan tetapi sore ini ada siaran final AFI (Akademi Fantasi) di Indosiar. Pramuka yang sedang sendirian di hutan, juga menghadapi problema seperti itu, misalnya ketika berjalan ada sungai di depannya, sehingga harus memilih menyeberang dengan risiko basah dan bahkan tenggelam atau berjalan melingkar tetapi jauh atau ada cara lain yang harus ditemukan.
Kecakapan seperti itu seringkali disebut kecakapan personal (personal skill), yaitu kecakapan yang diperlukan untuk mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Kecakapan personal diperlukan, walaupun yang bersangkutan hidup seorang diri di tengah hutan. Untuk itu diperlukan kecakapan untuk memahami problema yang dihadapi, menggali informasi yang relevan guna menyempurnakan pemahaman tersebut, menganalisis dan menemukan alternatif-alternatif untuk mengatasi problema tadi, serta mengambil keputusan alternatif mana yang akan diambil.
Setiap orang akan selalu menghadapi problema dalam kehidupannya, yang jenis dan tingkatannya berbeda sesuai dengan usia dan profesinya. Problema yang dihadapi siswa SD tentu berbeda dengan yang dihadapi mahasiswa, berbeda dengan ibu rumah tangga, berbeda dengan pedagang, berbeda dengan pegawai di kantor pemerintahan. Tetapi yang pasti, setiap orang akan selalu menghadapi problema yang menuntut untuk dipecahkan secara kreatif dan arif.
Untuk mampu memahami suatu masalah secara utuh, diperlukan berbagai informasi yang relevan. Berbagai informasi tersebut selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh dan akurat. Tanpa adanya informasi yang lengkap dan analisis yang baik, pemahaman tidak akan dapat sempurna. Oleh karena itu, kecakapan menggali dan menganalisis informasi merupakan bagian dari pemahaman suatu problema.
Pemecahan yang kreatif adalah yang mampu menghasilkan solusi yang efektif dengan waktu cepat, tenaga sedikit dan biaya yang minimal, sedangkan pemecahan yang arif artinya pemecahan yang memperhitungkan dampak negatif yang terjadi, baik bagi diri sendiri, orang-orang lain yang terkait maupun lingkungan alam sekitarnya.
Orang yang mampu memecahkan problema yang dihadapinya secara kreatif dan arif, seringkali menyebabkan yang bersangkutan sukses dalam profesinya. Orang seperti itu seakan justru memperoleh manfaat dari problema yang dihadapi, karena lebih dahulu menemukan solusi dibanding orang lain yang menghadapi problema serupa. Seorang guru yang menghadapi siswa yang nakal, kemudian menemukan metoda mengajar yang mampu mengarahkan kenakalan siswa tadi, menjadi semangat berkompetisi, akan menjadikan yang bersangkutan sebagai rujukan atau guru tempat bertanya bagi guru yang lain. Seorang pedagang yang menghadapi problema harga barang naik-turun, kemudian menemukan metoda untuk mengantisipasinya, akan menjadi pedagang yang terus memperoleh keuntungan.
Untuk mampu memahami masalah yang dihadapi, menggali informasi yang terkait, melakukan analisis secara cermat, menemukan alternatif-alternatif yang ada dan mampu memilih alternatif yang paling baik, tentu diperlukan keahlian yang terkait dengan bidang tersebut. Pada contoh kasus Pak Didik, si tukang bengkel mobil pada Bab sebelumnya, disebut sebagai ciri menguasai bidang pekerjaannya.
Kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tukang bengkel tentu berbeda dengan kemapuan menjadi guru dan berbeda dengan politisi. Oleh karena itu kecakapan hidup seperti itu disebut kecakapan hidup spesifik (specific skill). Apakah kecakapan hidup spesifik cukup sebagai bekal sukses dalam menekuni keahliannya? Ternyata tidak cukup. Diperlukan kemampuan menggali informasi lain yang terkait, melakukan analisis yang holistik dan cermat, menemukan beberapa alternatif pemecahan dan mampu memilih alternatif yang terbaik.
Mungkin ada yang bertanya, apakah ada orang ahli dalam bidangnya, tetapi tidak mampu melakukan analisis terhadap problem yang dihadapi dan mencari alternatif pemecahannya. Di sini perlu diklarifikasi. Ada orang yang penguasaan bidangnya hanya sempit dan itu-itu saja, tetapi ada juga orang yang penguasaan bidang keahliannya terus berkembang, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, tukang bengkel yang keahliannya menyetel mobil terbatas pada karborator dan platina, akan kebingunan saat menghadapi mobil generasi baru, yang menggunakan CDI dan sistem injeksi pada aliran bahan bakar. Guru yang keahliannya hanya menjelaskan isi buku tertentu kepada siswa, akan kelabakan ketika tahu siswanya sudah lebih dahulu membaca kasus mutakhir di majalah atau internet dan kemudian menanyakannya di kelas.
Nah di situ tampak, perbedaan antara ahli dalam pengertian pertama, yaitu dari itu – ke itu saja dan ahli dalam pengertian terus mengikuti perkembangan. Bukankah, untuk dapat mengikuti perkembangan, seorang yang sudah ahli harus terus belajar, yaitu menggali informasi, kemudian menganalisis bagaimana keterkaitan dengan keahlian yang selama ini telah dikuasai dan selanjutnya mengintegrasikan menjadi ”keahlian baru” yang lebih mutakhir?
Pada kondisi lain, ada orang yang keahliannya hanya terbatas dan tidak memahami jika hal itu terkait dengan bidang lain. Sebagai contoh, pada umumnya petani kita hanya paham bagaimana cara yang baik dalam menanam padi, jagung, atau kedele. Mereka tidak paham, berapa kebutuhan padi, jagung dan kedele di daerahnya dan kapan ketiga hasil panen itu diperlukan masyarakat, serta berapa harga per kilo dari padi, jagung dan kedele yang wajar. Akibatnya, mereka seringkali dihadapkan pada kenyataan hasil panennya bagus, tetapi harganya jatuh. Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali menjual hasil panennya dengan merugi.
Pada kasus seperti itu, gagasan Pak Badrun, si pedagang sukses yang diceritakan pada bab terdahulu dapat menjadi pelajaran. Pak Badrun, mampu mengaitkan bidang pertanian dengan kebutuhan masyarakat, sehingga memunculkan gagasan menanam padi secara tradional, tanpa pupuk kimia dan bahan pestisida. Walaupun hasil panennya lebih sedikit, tetapi harga jualnya justru lebih besar.
Pola pikir petani yang dicontohkan di atas, disebut pola pikir yang parsial dengan skemata lepas. Artinya menganggap pekerjaan bertani adalah menanam padi, jagung, kedele, sayuran serta buah-buahan dengan sebaik-baiknya dan itu tidak ada hubungannya dengan perdagangan. Padahal, kenyataannya hasil pertanian akan masuk dalam dunia perdagangan, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, pola pikir Pak Badrun dengan cara holistik-integratif, lebih cocok untuk digunakan dan dalam praktiknya memang lebih memberikan keuntungan.
Sayangnya, dalam pendidikan kita, pola pikir parsial itulah yang banyak digunakan. Siswa diminta belajar Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, PPKn, Ekonomi dan sebagainya, dan hanya sedikit sekali (kalau tidak dapat dikatakan tidak pernah) diajak belajar mengintegrasikannya dalam dalam pola pikir yang utuh guna memahami suatu masalah kehidupan. Ungkapan Pak Wahyu, arsitek profesional yang sukses pada bab sebelumnya, yang mengatakan bahwa dia lebih banyak belajar dari arsitek seniornya di tempat kerja, dibanding di bangku kuliah, ada benarnya. Dari seniornya itulah, Pak Wahyu banyak belajar kearifan hidup dan bagaimana menjadi arsitek profesional, bukan sekadar belajar mata kuliah-mata kuliah, secara parsial (terpisah-pisah).
Secara psikologis, kecakapan-kecakapan yang disebutkan di atas, terkait erat dengan kecakapan berpikir, baik berpikir rasional/secara keilmuan, maupun berpikir lateral/secara kreatif. Berpikir rasional sangat diperlukan pada saat melakukan analisis, sedangkan berpikir lateral sangat diperlukan pada saat mencari alternatif pemecahan masalah.Oleh sebab itu, kecakapan-kecakapan tersebut dapat digolongkan sebagai kecakapan berpikir (thinking skill).
Di samping harus memiliki thinking skill yang baik, untuk dapat menjadi pribadi mandiri yang sukses, seseorang juga harus disiplin, jujur, kerja keras, ulet, sabar, pantang menyerah dan berani mengambil risiko. Meskipun hidup seorang diri, jika ingin sukses orang tetap harus disiplin, misalnya disiplin dalam mengatur waktu dan dalam mengerjakan tugasnya, jujur dalam menerapkan prosedur kerja, kerja keras serta ulet dan pantang menyerah di saat mengahadapi kesulitan. Pada saat tertentu, seseorang juga harus berani mengambil risiko.
Kecakapan-kecakapan yang disebutkan terakhir lebih dekat dengan sikap (attitude), dibanding dengan kecakapan berpikir. Oleh karena itu, kecakapan-kecakapan tersebut dapat digolongkan sebagai sikap hidup (life attitude). Walau demikian, dari pengalaman, aspek ini tidak kalah penting dibanding kecakapan berpikir. Bahkan para ahli mengatakan bahwa EQ (emotional quotient) lebih menentukan keberhasilan seseorang dibanding dengan IQ (intelectual quotient), dan kecakapan-kecapan yang berwujud sikap itulah isi dari EQ. Dan kini, IQ dan EQ tidak cukup, karena keduanya harus dipandu oleh SQ (spiritual quotient).
Sayangnya sikap hidup tesebut kurang mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di sekolah selama ini. Guru/dosen sepertinya terlalu sibuk ”memompakan” materi ajar dan lupa akan pentingnya sikap hidup, yang ternyata beperan besar dalam kesuksesan hidup seseorang. Atau mungkin, mereka berpikir bahwa pengembangkan sikap hidup itu hanya tugas guru Agama dan guru PPKn. Sedihnya, guru Agama dan guru PPKn juga disibukkan untuk ”memompakan” materi ajar pada tataran kognitif dan tidak sampai pada penghayatan serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi hasilnya juga diukur melaalui hasil ulangan/ujian tertulis, yang tentu belum menyentuh aspek pengamalan.
Oleh karena itu, dapat dimengerti jika menyontek kini telah menjadi fenomena keseharian di sekolah, mulai dari siswa SD sampai mahasiswa pasca sarjana. Sedihnya, guru dan orangtua (termasuk kita semua) tidak risau dengan gejala tersebut. Padahal, menyontek adalah awal dari perbuatan korupsi, karena ingin mendapatkan nilai baik tanpa mau belajar keras. Hal itu analog dengan ingin berpenghasilan besar tanpa mau bekerja keras. Bukankah itu pola pikir orang korupsi?
Saya punya pengalaman menyedihkan. Ketika memberi ujian kepada mahasiswa S2 dengan model take home (dikerjakan di rumah), ada dua mahasiswa yang menyerahkan pekerjaan dengan isi sangat mirip. Padahal, soal ujian tersebut berbentuk kasus dan peserta ujian diminta untuk mengajukan pemecahan masalah. Logikanya, setiap orang memiliki gagasan masing-masing, tentang bagaimana cara memecahkan kasus tersebut. Akhirnya kedua mahasiswa yang pekerjaannya mirip tersebut saya tunda pengumuman hasil ujiannya, sampai ada yang mengaku, siapa yang menyontek. Akhirnya, salah seorang di antaranya menemui saya dan mengakui dialah yang menyotek, kemudian meminta maaf dengan berbagai alasan.
Ketika pengalaman tersebut saya ceritakan kepada dosen lain, bahkan kepada rekan dosen di perguruan tinggi lain, mereka mengatakan bahwa hal itu juga terjadi di kelasnya. Ada seorang rekan dosen yang sedang kuliah di S3 bercerita, kalau ujian semester seringkali direpotkan oleh temannya yang terus bertanya-tanya, padahal dia sendiri belum selesai mengerjakan. Dan kejadian seperti itu tidak hanya pada seseorang, tetapi banyak mahasiswa S3. Sungguh menyedihkan.
Social Skill dalam Keluarga dan Masyarakat
Peran kedua manusia dalam kehidupan adalah sebagai bagian dari keluarga, misalnya sebagai anak ketika masih kecil, sebagai suami atau istri ketika sudah berkeluarga, dan sebagai adik-kakak-keponakan-kakek-nenek, ketika kita menerapkan kehidupan keluarga besar dalam budaya Indonesia. Agar dapat menjadi anggota keluarga yang baik, seseorang memerlukan kecakapan hidup yang berbeda dengan personal skill. Dalam kehidupan di keluarga, seseorang memerlukan kecakapan antara lain, toleransi atas perbedaan, menghargai orang lain, berkomunikasi dengan sopan, bekerja sama dengan penuh tanggung jawab, berempati pada penderitaan orang lain, membantu orang yang sedang kesulitan dan sebagainya. Seringkali kecakapan tersebut disebut sebagai kecakapan sosial (social skill), yaitu kecakapan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Walaupun dalam satu keluarga, tentu ada perbedaan pendapat. Oleh karena itu diperlukan toleransi dan saling menghargai terhadap perbedaan pendapat tersebut. Keributan dalam rumah tangga dan bahkan perceraian, seringkali diawali oleh adanya kurang toleransi dan kurangnya saling menghargai terhadap perbedaan pendapat antara suami dan isteri. Hubungan antara orangtua dan anak yang tidak harmonis, seringkali juga diawali oleh adanya kurang toleransi dan kurang menghargai perbedaan pendapat.
Kemampuan berkomunikasi juga sangat penting dalam keluarga. Seringkali penyampaian pendapat memperoleh tanggapan negatif, bukan karena materi/gagasan yang disampaikan, tetapi karena cara menyampaikan kurang tepat. Sebaliknya kritik seringkali dapat diterima oleh yang dikritik, karena cara menyampaikannya sopan dan tidak menyinggung perasaan.
Walapun dalam satu keluarga, tentu setiap anggota keluarga memiliki cara perikir masing-masing, apalagi usia berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang. Oleh karena itu, biasanya antara anak dan orangtua memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu kejadian. Jika perbedaan pendapat seperti itu, disampaikan dengan cara yang keliru, misalnya kurang sopan dan menyinggung perasaan lawan bicara, akan dapat menimbulkan salah pengertian. Apalagi, jika lawan bicaranya kurang memiliki rasa toleransi atas perbedaan pendapat.
Dalam setiap keluarga tentu selalu ada aktivitas yang memerlukan bentuk kerja sama. Mendidik anak merupakan tugas bersama antara suami dan isteri. Mengatur dan membersihkan rumah merupakan kerja sama antara seluruh penghuni rumah, baik suami, isteri, anak, pembantu rumah tangga dan keluarga lain yang tinggal serumah. Nah, untuk itu diperlukan pembagian tugas yang jelas, rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya dan menghargai hasil kerja orang lain.
Di dalam kehidupan keluarga, juga diperlukan kecakapan berempati terhadap penderitaan orang lain. Jika ada anggota keluarga yang sakit, diharapkan anggota keluarga yang lain menunjukkan empati kepada yang sedang sakit dan tidak membuat kegaduhan. Jika anak sedang belajar, seharusnya orang tua menunjukkan empati dengan tidak menyetel televisi dengan seenaknya. Jika bapak atau ibu sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang penting, anak seharusnya menunjukkan empati dengan tidak bergurau atau tampak bermalas-malasan. Akan lebih baik, jika membantu atau paling tidak menawarkan diri untuk membantu.
Dari uraian di atas, tampak adanya saling terkait antara personal skill dan social skill. Misalnya, untuk mampu memahami adanya perbedaan dalam kehidupan keluarga, seseorang memerlukan pengetahuan tertentu dan sikap hidup tertentu, yang keduanya termasuk di dalam personal skill. Sebaliknya, pengalaman dalam kehidupan rumah tangga yang menerapkan social skill, akan mengasah kecakapan berpikir dan sikap hidup yang lebih arif.
Apakah kecakapan-kecakapan tersebut mudah dikuasai? Ternyata tidak. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kekurangharmonisan rumah tangga juga terjadi pada keluarga yang terdidik. Kenakalan anak-anak juga terjadi pada orangtua yang terdidik. Artinya, orang yang memiliki kecakapan berpikir baik, belum tentu berhasil dalam membina keharmonisan rumah tangga dan memerankan diri sebagai orangtua yang berhasil mendidik anaknya. Demikian pula, anak yang berprestasi di sekolah, juga ada yang kurang baik hubungannya dengan orangtua dan anggota keluarga yang lain di rumah.
Demikian pula, orang yang memiliki sikap hidup yang baik, misalnya jujur, disiplin dan bertanggung jawab, belum tentu mampu melakukan komunikasi dengan baik. Misalnya orang yang jujur belum tentu dapat menyampaikan gagasan secara lisan atau tertulis secara baik. Demikian pula, dia belum tentu pandai menyimak pembicaraan orang atau membaca gagasan orang lain.
Jika diyakini bahwa keluarga merupakan tempat awal terjadinya proses pendidikan, maka peran seseorang dalam keluarga tidak boleh diabaikan. Sikap hidup dan social skill, yang diuraikan di atas seharusnya menjadi budaya dalam keluarga, sehingga setahap demi setahap akan mewarnai sikap hidup dan kecakapan sosial anak-anak. Sayangnya banyak orangtua yang kurang berhasil dalam memerankan diri sebagai anggota keluarga yang paling sentral.
Jika dilacak ke sekolah, di mana orangtua dulu mengikuti pendidikan, ternyata social skill yang sangat diperlukan seseorang dalam memerankan diri dalam komunitas keluarga, juga kurang mendapat perhatian. Kecakapan menghargai orang lain, toleransi atas perbedaan, bekerja sama dengan penuh tanggung jawab, berkomunikasi dengan sopan, berempati pada penderitaan orang lain dan membantu orang yang kesulitan, belum menjadi perhatian guru.
Pengembangan kecakapan berkomunikasi sepertinya masih dianggap merupakan tugas guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris saja, karena di dalam kurikulumnya memang terdapat kompetensi menyimak (listening), membaca (reading), menulis (writing), dan berbicara (speaking). Pengembangan kecakapan bertoleransi, kecakapan dalam bekerja sama, berempati pada penderitaan orang lain dan suka menolong orang yang kesulitan, sepertinya dipahami hanya merupakan tugas guru PPKn dan Agama, karena di dalam kurikulumnya ada kompetensi tersebut.
Guru mata pelajaran lainnya, sepertinya tidak merasa bahwa kemampuan tersebut juga menjadi tanggung jawabnya dan bahkan tanggung jawab semua guru. Kalau toh ada dalam proses pembelajarannya menggunakan aktivitas-aktivitas tersebut, sang guru tidak secara sengaja merancang dan memperhatikan proses dan hasilnya, sebagai hasil belajar yang harus diukur.
Dalam kehidupan keseharian, setiap orang juga harus berinteraksi dengan anggota masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya, maupun lingkungan kerja. Oleh karena itu, peran kedua manusia dalam kehidupan, di samping di keluarga adalah sebagai bagian dari masyarakat. Bukankah manusia merupakan makhluk sosial, yang secara fitrah memang merupakan bagian dari masyarakat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa peran sebagai anggota masyarakat merupakan perluasan dari peran sebagai anggota keluarga, karena memerlukan kecakapan yang sama, yaitu berkomunikasi, bekerja sama dan berempati.
Namun juga banyak ahli lain, yang menyebutkan peran keduanya berbeda, karena sifat interaksinya yang berbeda, sehingga keduanya harus dipisahkan. Mengapa? Karena sifat interaksinya berbeda. Dalam keluarga hubungan emosional lebih tinggi, sehingga mudah menumbuhkan rasa empati dan dorongan untuk saling membantu. Sebaliknya, karena merasa satu keluarga, maka rasa toleransi atas adanya perbedaan tidak setinggi jika menghadapi orang di luar keluarga. Jadi dibanding hubungan dalam keluarga, hubungan seseorang di dalam masyarakat menjadi lebih longgar, yaitu adanya rasa toleransi yang lebih tinggi, sebaliknya rasa empati dan dorongan untuk membantu lebih rendah.
Untuk dapat memerankan diri sebagai anggota masyarakat yang sukses, seperti cerita ”tetangga ideal” pada sebelumnya, social skill yang disebutkan di atas sangat diperlukan. Tentu dengan intensitas yang lebih tinggi. Misalnya, untuk dapat berkomunikasi dengan anggota masyarakat, diperlukan kecakapan berkomunikasi yang lebih tinggi, karena perbedaan pola pikir di masyarakat tentu lebih lebar dibanding dalam keluarga.
Untuk dapat berempati terhadap penderitaan tetangga dan mau menolongnya, diperlukan kecakapan sosial yang lebih tinggi dibanding dalam keluarga. Mengapa? Karena, tidak adanya hubungan emosional antara seseorang dengan tetangganya, menyebabkan diperlukannya kepekaan sosial yang lebih besar untuk dapat berempati dan membantu orang lain yang sedang menderita.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, kesediaan berempati kepada orang lain dan membantu mereka yang menderita, ternyata juga tidak berhubungan linier terhadap kecakapan berpikir dan kekayaan yang dimiliki. Ada stasiun televisi punya program berjudul ”Tolooooong!” yang memancing kedua aspek life skill tersebut, dengan cara menghadapkan seseorang dengan penderitaan orang lain. Pada suatu episode, ditayangkan ada seorang ibu tua dan tampak sederhana, membawa kompor minyak tanah dan berjalan meminta minyak tanah gratis kepada beberapa penjual minyak yang dijumpai. Banyak penjual minyak tanah yang menolak untuk memberi, walaupun si ibu itu mengatakan meminta gratis, karena tidak punya uang. Salah seorang yang mau memberi justru di luar dugaan, bukan orang yang kaya tetapi seorang penjaja minyak tanah keliling yang cacat tubuhnya (lumpuh). Ia berjualan berkeliling dengan sepeda khusus yang dapat dikayuh dengan tangan. Tetapi dengan kondisi seperti itu, justru dia yang memiliki empati dan bersedia menolong orang lain, yang sedang kesusahan. Pada episode yang lain, ditayangkan ada seorang pemuda menuntun sepeda motor dan meminta bensin gratis, dengan alasan kehabisan bensin dan tidak punya uang. Banyak penjual bensin tidak mau memberi dan salah satu orang yang mau memberi adalah seorang ibu tua sangat sederhana dan berjualan bensin eceran dengan dagangan hanya beberapa botol. Sekali lagi, kita ditunjuki fakta bahwa empati tidak selalu terkait dengan tingkat pendidikan dan kepemilikan harta.
Tayangan tersebut merupakan contoh nyata, bahwa berempati terhadap penderitaan orang lain, ternyata tidak mudah. Kelebihan harta bukan jaminan untuk dapat berempati. Orang yang relatif ”kekurangan” , baik secara fisik (penjaja minyak yang cacat tubuh) dan kekurangan harta (penjual bensin dengan kios sangat sederhana) ternyata justru mampu berempati untuk menolong orang lain, dibanding orang-orang yang lebih baik keadaannya.
Social skill seperti itu secara kognitif tentu sudah dipelajari pada mata pelajaran Agama dan PPKn di sekolah. Sayangnya, pembelajaran yang terjadi lebih banyak berhenti di pengetahuan dan tidak sampai pada penghayatan dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kita semua paham kalau hal-hal yang lebih dengan dengan sikap, hanya akan berhasil dikembangkan jika diwujudkan dalam kebiasaan perilaku keseharian yang disertai dengan teladan dari mereka yang lebih senior. Jika guru, tata usaha dan warga sekolah senior lainnya, mewujudkan sikap hidup dan kecakapan sosial tersebut dalam kehidupan keseharian di sekolah, maka setahap demi setahap akan menjadi bentuk budaya sekolah dan secara otomatis akan ditiru oleh siswa.
Peduli Lingkungan
Peran ketiga manusia dalam kehidupan adalah sebagai bagian dari lingkungan. Bukankah manusia itu sebagai khalifah di muka bumi dan diamanahi oleh Sang Pencipta untuk memelihara dan memanfaatkan alam lingkungan, demi kemaslahatan umat manusia. Untuk dapat memainkan peran tersebut dengan baik, diperlukan kecakapan yang terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan sikap hidup yang merasa bertanggung jawab untuk ikut memeliharanya.
Pada suatu ketika, saya menemani seorang kawan untuk mengunjungi beberapa sekolah. Ketika selesai berkunjung ke sebuah SD, kawan tersebut bertanya apakah di SD diajarkan IPA dan saya jawab ”ya, mulai di kelas 4”. Dia bertanya lagi, ”tetapi mengapa anak-anak membiarkan bunga dalam pot di depan kelasnya, layu dan hampir mati?” Saya jadi salah tingkah, karena ternyata tamu asing tersebut mempertanyakan, mengapa anak-anak sudah belajar IPA, tetapi tidak mengerti atau tidak terdorong untuk menyiram bunga yang layu di depan kelasnya. Rasanya kita yakin, kalau anak-anak SD sudah mengerti kalau bunga di dalam pot itu layu karena terlambat disiram, hanya mereka tidak terdorong untuk melakukannya.
Sesudah dari SD tadi, kunjungan dilanjutkan ke sebuah SMP di Kalimantan Selatan, yang lokasinya di atas tanah rawa-rawa dengan air payau. Sebagaimana umumnya sekolah di sana, bangunan sekolah dibangun dengan model ”panggung”, ditopang dengan tiang-tiang penyagga dari kayu tertentu, dan lantainya terbuat dari kayu, dengan ketinggian sekitar satu meter di atas permukaan air rawa. Sungguh mengagetkan, di sepanjang teras di depan kelas terdapat tanaman sayuran dan buah-buahan, seperti tomat dan terong serta beberapa jenis bunga, yang ditanam dalam ember bekas. Bagaimana tanaman tersebut dapat tumbuh subur, pada hal air payau di daerah itu tidak dapat untuk menyiram tanaman.
Ketika kawan asing tersebut bertanya, kepala sekolah menunjuk seorang ibu guru IPA untuk menjelaskan. Ternyata guru IPA yang masih sangat muda tersebut, merasa terusik dengan kondisi lingkungan sekolah yang gersang. Oleh karena itu, dengan berbagai upaya, dia berusaha menemukan cara untuk mengolah air payau di lokasi sekolah agar dapat untuk menyiram tanaman. Akhirnya dia menemukan, dengan cara memberi gamping. Nah, semenjak itu, dia mulai menggerakkan siswa-siswa untuk menanam bunga dan buah-buahan di depan kelasnya masing-masing, dengan memanfaatkan air tawar hasil netralisasi dengan gamping tersebut.
Dari contoh kasus tersebut, mungkin kita berkata bahwa ibu guru tersebut sangat pandai. Mungkin saja. Tetapi yang lebih menonjol adalah adanya rasa tanggung jawab untuk menjadikan lingkungan sekolah tidak gersang dan keuletan untuk mewujudkannya. Rasanya banyak guru IPA yang mengetahui bahwa air payau, dengan tingkat keasaman tinggi, dapat dinetralisasi dengan memberi gamping. Tetapi tidak banyak yang terdorong untuk melakukan guna menghijaukan lingkungan sekolah.
Kasus serupa dengan skala yang berbeda, juga terjadi pada kerusakan lingkungan alam di Indonesia ini. Memang ada peladang berpindah yang merusak hutan dan petani di pegunungan yang menanami lereng gunung bagian atas, karena mereka tidak mengerti bahwa cara berladang berpindah dan bertani seperti itu dapat merusak lingkungan. Tetapi, mereka yang membuat rumah dan bahkan membangun kompleks perumahan di daerah Puncak, Jawa Barat dan mereka yang membabat hutan dengan seenaknya, sebenarnya mengerti kalau perbuatannya merusak lingkungan. Namun tetap saja dilakukan, karena tingginya keinginan untuk memperoleh keuntungan yang besar.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa untuk dapat memelihara dan memanfaatkan lingkungan alam dengan arif dan kreatif, diperlukan kecakapan berpikir yang terkait dengan bidang itu, contohnya mengolah air payau menjadi air tawar dan juga kesadaran bahwa memelihara lingkungan adalah tanggung jawab semua manusia. Seringkali, justru kesadaran itulah yang lebih dominan, dalam menentukan apa yang akan dilakukan oleh seseorang.
Apakah kesadaran untuk memelihara lingkungan sekitar dan kemampuan untuk melaksanakannya sudah dikembangkan dalam pendidikan di sekolah? Rasanya masih perlu dipertanyakan. Kalau kita hitung, jumlah sekolah yang lingkungannya hijau, segar dan terawat dengan baik, masih jauh lebih sedikit dibanding sekolah yang lingkungan dibiarkan gersang dan kurang terawat. Apakah guru tidak mengetahui bagaimana cara merawatnya, saya yakin mereka mengetahui. Apakah sekolah begitu miskin, sehingga tidak punya dana untuk merawat, saya yakin juga tidak. Merawat lingkungan sekolah, tidak memerlukan biaya besar, asalkan sederhana tetapi rapi, bersih, hijau dan segar.
Saya khawatir, pentingnya memelihara lingkungan, pentingnya menjaga kebersihan dan bahkan ajaran bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, sudah dibahas dalam berbagai mata pelajaran. Tetapi semuanya berhenti pada tataran pengetahuan dan belum dihayati dan diamalkan dalam kehidupan keseharian. Banyaknya sekolah dengan lingkungan kurang bersih dan gersang merupakan bukti nyata. Dalam kasus sekolah seperti itu, yang belum melakukan tidak hanya siswa, tetapi juga guru dan semua warga sekolah.
Menjadi Hamba Tuhan
Peran ke-empat manusia dalam kehidupan, peran terakhir tetapi paling penting, adalah sebagai hamba Tuhan Sang Maha Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan ke alam dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam pengertian yang luas, yaitu ibadah ritual yang terkait hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan ibadah mu’amalah yang terkait dengan hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan alam.
Sepanjang yang saya ketahui, ke empat peran manusia yang sudah diuraikan di atas adalah termasuk dalam ibadah mu’amalah. Artinya, sebagai hamba-Nya, manusia diwajibkan untuk menjadi pribadi mandiri yang kreatif, sebagai anggota keluarga yang bijak, sebagai anggota masyarakat yang baik dan sebagai bagian dari lingkungan yang arif. Dengan demikian, peran manusia sebagai hamba Tuhan lebih menegaskan bahwa dalam memainkan ke empat peran tersebut di atas, manusia harus selalu berpegang pada ajaran agama. Saya yakin, semua agama akan meminta umatnya untuk menjalankan kecakapan hidup (life skill) yang sudah diuraikan di atas, misalnya berlaku jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, toleran, belajar sepanjang hayat, berkomunikasi dengan sopan, membantu orang yang sedang kesulitan, memelihara lingkungan dan sebagainya.
Terkait dengan itu, fungsi peran ke lima, yaitu manusia sebagai hamba Sang Chalik adalah memulai setiap aktivitas kehidupan dengan niat ibadah, sehingga mampu mengendalikan perbuatan itu tetap pada aturan agama. Jadi SQ yang seharusnya memandu bagaimana IQ dan EQ dikembangkan dan dimplementasikan dalam kehidupan.
Mungkin itu yang dimaksud Ian Percy, dalam bukunya Going Deep, sebagai spiritual commitment, yaitu bahwa komitmen kerja seseorang seharusnya didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. Prinsip itu tampak pada Gambar 2 , yaitu adanya anak panah dari peran ke lima (sebagai hamba Tuhan) ke arah peran manusia lainnya. Artinya, peran manusia sebagai hamba Tuhan itu seharusnya mewarnai implementasi peran manusia sebagai pribadi mandiri, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan sebagai bagian dari lingkungan.
Peran manusia sebagai hamba Tuhan, lebih banyak berupa kesadaran diri. Oleh karena itu, bersama dengan sikap hidup yang dijelaskan pada personalskill, diwadahi dalam satu bentuk kecakapan hidup, yaitu kesadaran diri (self awareness). Tentu penyebutan ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk hanya sadar (pasif) tanpa adanya pelaksanaan. Yang dimaksudkan adalah bagaimana kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sebagai makhluk sosial dan sebagai bagian dari lingkungan, dapat mendorong seseorang untuk berbuat sebaik-baiknya.
Jika semua kecakapan hidup yang disebutkan di atas disistematisasikan, terdapat kecakapan hidup yang bersifat generik (generic skill), yaitu yang diperlukan oleh siapa saja, apapun profesinya dan berapapun usianya, dan kecakapan hidup yang spesifik (specific skill), yaitu kecakapan hidup yang hanya diperlukan oleh orang yang menekuni profesi tertentu. Dengan demikian kategorisasi kecakapan hidup dapat ditunjukkan pada gambar 3.
Gambar 3 Aspek-aspek dalam Kecakapan Hidup (Life Skill)
Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa life skill terbagi menjadi dua, yaitu generic skill dan specific skill. Generic skill diperlukan oleh siapa saja, apapun profesi atau pekerjaannya dan dimanapun dia berada. Specific skill adalah kecakapan khusus yang terkait dengan bidang pekerjaan tertentu, sehingga hanya diperlukan oleh orang yang menekuni profesi atau pekerjaan tersebut.
Generic skill terbagi menjadi dua bagian, yaitu personal skill dan social skill. Personal skill diperlukan oleh setiap orang, walaupun yang bersangkutan hidup seorang diri ditengah hutan, sedangkan social skill baru diperlukan ketika seseorang hidup dalam kelompok.
Personal skill mencakup self awareness dan thinking skill. Self awareness mencakup kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan sikap hidup positif (life attitude), seperti disiplin, kerja keras dan tanggung jawab. Thinking skill meliputi kecakapan dalam memahami suatu problema yang dihadapi, menganalisis dan menemukan alternatif pemecahan dan mengambil keputusan secara arif dan kreatif.
Social skill mencakup communication skill, yaitu kecakapan berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan dan collaboration skill, yaitu kecakapan bekerjasama dengan orang lain, baik dengan rekan setingkat, dengan atasan maupun dengan anak buah.
Life Skill vs Mata Pelajaran
Setelah mendiskusikan lima peran manusia, beserta kecakapan yang diperlukan untuk melaksanakannya, kini mari kita coba bandingkan dengan ke-16 kecakapan hidup (life skill) yang disampaikan oleh peserta penataran dan ke-17 kecakapan yang ditemukan dari pengamatan terhadap ”orang-orang sukses”, yang diuraikan pada bab sebelum ini. Bukankah sangat mirip bahkan identik? Hal itu dapat dipahami, karena ciri orang sukses yang diidentifikasi pada bab terdahulu juga mengacu pada lima peran manusia tersebut. Seseorang yang sukses dalam pekerjaannya (bengkel mobil, penjahit, hingga dokter), di kampung disenangi tetangga, dipercaya pimpinan, dihormati anak buah, diincar banyak orang untuk calon menantu, tentu sudah menjalankan perannya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota keluarga yang baik, sebagai anggota masyarakat yang bijak, memelihara lingkungan secara arif dan sebagai hamba Sang Pencipta menjalankan ibadah dengan baik. Demikian pula Pak Badrun – si pedagang sukses, Pak Wahyu – sang arsitek profesional, Pak Tris – birokrat yang berhasil – dan Bu Candra – ibu guru yang hebat. Mereka tentu juga telah menjalankan kelima peran kehidupannya dengan baik, sehingga menjadi orang yang berhasil.
Seperti yang banyak disinggung pada uraian di atas, ternyata life skill yang terbukti merupakan bekal kesuksesan orang, belum mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di sekolah. Saya tidak mengatakan life skill tidak diperhatikan, tetapi belum mendapat perhatian yang baik. Mengapa demikian? Karena guru lebih menekankan pada penguasaan materi ajar yang tercantum di dalam kurikulum.
Apakah materi ajar tersebut tidak penting? Penting, tetapi itu saja tidak cukup sebagai bekal kesuksesan hidup. Materi ajar yang proses pembelajarannya ditekankan pada tataran kognitif, baru mencakup satu bagian, yaitu specific skill. Praktik pendidikan di sekolah menunjukkan, pada umumnya guru mengajarkan isi mata pelajaran sebagai wujud kecakapan spesifik. Guru Matematika mengajarkan matematika seakan semua siswa akan menjadi ahli matematika, guru Bahasa Indonseia mengajarkan Bahasa Indonesia seakan semua siswa dipersiapkan menjadi ahli Bahasa Indonesia, dan seterusnya. Guru lupa, bahwa dari satu kelas yang diajar tersebut sangat sedikit atau bahkan tidak ada siswa yang akan menjadi matematikawan dan ahli bahasa Indonesia, sehingga yang diperlukan adalah belajar menggunakan matematika sebagai alat untuk bernalar, alat untuk menganalisis fenomena, menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi, baik sebagai pengirim atau penerima pesan komunikasi.
Jadi bagi siswa yang tidak akan menjadi ahli matematika, seharusnya pelajaran Matematika diarahkan untuk mengembangkan generic skill. Demikian pula mata pelajaran lainnya seperti Fisika, Biologi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Ekonomi dan sebagainya. Baru, jika siswa memang berbakat atau akan menekuni bidang tersebut sebagai profesi, maka pembelajaran diarahkan sebagai specific skill.
Akibat dari praktik pendidikan yang seperti itu, generic skill tidak mendapat pengembangan yang memadai di sekolah. Akibatnya, siswa justru mendapat pengembangan generic skill melalui kegiatan organisasi, baik di dalam maupun luar sekolah dan dari pengalaman bekerja-sambil-sekolah. Karena generic skill berperan penting dalam kesuksesan hidup, maka dapat dipahami kalau orang yang sukses, justru merupakan siswa yang aktif di organisasi dan siswa yang sudah sambil bekerja saat masih bersekolah.
Fenomena seperti itu yang tampaknya menjadi alasan Charles Handy, seorang bussiness philosopher, yang menganjurkan untuk merombak total pendidikan kita. Dalam artikel berjudul Finding Sense in Uncertainty, dia menjelaskan pendidikan selama ini berangkat dari asumsi yang keliru, yaitu bahwa semua problema di dunia ini telah diketahui dan guru mengetahui cara pemecahannya. Jadi tugas guru adalah menyampaikan problema serta cara pemecahannya, dan setelah itu pendidikan dianggap selesai. Padahal senyatanya, problema itu terus berubah dan tentu guru belum mengetahui, apalagi cara pemecahannya. Charles Handy menegaskan belajar tentang ilmu pengetahuan tetap penting, tetapi hal itu kini lebih mudah dilakukan, karena banyak sumber informasi yang dapat dipelajari. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya diarahkan untuk membantu siswa belajar bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan itu dan yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan itu. Saya ingin membulatkan pendapat Charles Handy tersebut, bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh pengetahuan dan bagaimana menggunakannya guna memecahkan problema kehidupan dengan arif dan kreatif.
Jadi bagaimana hubungan antara life skill dengan mata pelajaran? Keduanya tetap diperlukan dan harus saling melengkapi. Dalam pengembangan generic skill, seharusnya mata pelajaran dipahami sebagai alat, yaitu untuk wahana pengembangan. Misalnya Guru Fisika harus sadar bahwa pembahasan materi Fisika diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami fenomena alam dari sudut pandang teori Fisika, menggali berbagai sumber informasi dan menganalisisnya untuk menyempurnakan pemahaman tersebut, mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain dan memahami bahwa fenomena seperti itu tidak lepas dari ”peran” Sang Pencipta. Pengembangan generic skill seperti itu, dapat dilakukan melalui metoda pembelajaran yang dipilih guru. Misalnya, untuk mengembangkan kecakapan berkomunikasi, guru dapat memilih metoda diskusi atau siswa diminta presentasi. Untuk mengembangkan kecakapan bekerja sama, kerja kelompok dalam praktikum dapat diterapkan. Yang penting adalah bahwa aspek-aspek tersebut sengaja dirancang dan diukur hasilnya sebagai bentuk hasil belajar generic skill.
Mungkin orang bertanya, apakah hal itu belum dilakukan selama ini. Bukankah, selama ini juga sudah ada metoda belajar diskusi dan kerja kelompok? Memang. Hanya saja, metoda tersebut tidak dilakukan secara sengaja untuk mengembangkan generic skill, sehingga tidak secara sistematik kecakapan tersebut dirancang dan diukur hasilnya sebagai hasil belajar.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang pengawas Matematika yang sedang ditugasi oleh Depdiknas untuk menyiapkan soal-soal evaluasi belajar. Ketika, diajukan gagasan apakah dalam Matematika, guru tidak perlu mengukur kejujuran, kedisplinan, tanggung jawab dan kemampuan komunikasi? Dia menjawab tidak perlu, karena itu tidak ada dalam kurikulum, sehingga bukan menjadi tugas guru Matematika. Sangat menyedihkan. Pengawas senior, bekas guru dan instruktur Matematika ternyata juga tidak merasa perlu memasukkan generic skill dalam pendidikan Matematika. Life skill sepertinya dianggap sebatas nurturant effect (efek penyerta) yang otomatis akan muncul, jika materi ajar dikuasai.
Mungkin pengawas tersebut hanyalah satu di antara sekian banyak pendidik yang masih berpegang teguh bahwa tugas pendidikan adalah mengantar siswa untuk memahami konsep/teori, sedangkan bagaimana menggunakan dalam perilaku kehidupan bukan tugasnya. Jadi pantas konsep Pendidikan Keterampilan Proses (PKP) yang pernah dikenalkan dan bahkan masuk dalam kurikulum 1984, khususnya untuk bidang IPA, tetap tidak jalan, padahal hal-hal itu terkait dengan proses pendidikan yang dekat-dekat dengan thinking skill.
Terus apakah pemahaman materi ajar, misalnya konsep/teori dan sebagainya itu tidak penting? Tetap penting. Karena materi seperti itu akan sangat diperlukan untuk bahan menganalisis dan memecahkan masalah. Apalagi jika siswa sudah menjurus untuk menekuni pekerjaan yang terkait erat dengan mata pelajaran tersebut, sehingga materi ajar merupakan bagian dari specific skill. Misalnya, materi Biologi sangat penting bagi siswa yang akan menekuni bidang kedokteran, pertanian dan sejenisnya. Fisika sangat penting bagi siswa yang meminati bidang teknologi dan sebagainya. Dalam hal seperti itu, materi ajar sebagai tujuan, sedangkan generic skill berperan sebagai penyerta.[]
[1]Terima kasih kepada KH Tidjani Djauhari, MA. dari Ponpes Al Amien dan Dr. Arief Rahman-Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, yang telah memberikan saran penyempurnaan gambar ini.
Sebenarnya apa yang kita inginkan ketika menyekolahkan anak? Walau tidak terungkapkan secara eksplisit, setiap orangtua punya harapan tertentu, pada saat menyekolahkan anaknya. Buktinya, mereka selalu berusaha memilihkan sekolah yang terbaik bagi anaknya. Orangtua juga rela bersusah payah dan bahkan membayar mahal, agar anaknya diterima di sekolah yang diyakini baik.
Ketika pertanyaan tersebut diajukan kepada beberapa kawan dan guru, pada umumnya dijawab: ”Biar pandai, taat beribadah, berbakti kepada orangtua, dan dapat hidup sukses kelak di masa datang”. Istilah yang digunakan sangat bermacam-macam, tetapi empat hal itulah yang umumnya diinginkan.
Rasanya sangat rasional, jika orangtua mengharapkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Sukses tentunya tidak hanya dalam aspek materi, yaitu kaya, tetapi juga sukses dalam kehidupan beragama, keluarga, dan kehidupan sosial.
Coba perhatian ketika seorang ayah atau ibu tengah menimang bayinya. Orang Jawa punya ungkapan besuk gedhe bisa disawang, artinya jika nanti sudah besar dapat dipandang, yaitu dapat menjadi kebanggaan keluarga. Memang sukses anak adalah kebanggaan orangtua. Kita juga sering memuji teman, saudara atau tetangga, yang memiliki anak sukses dan bahkan bertanya bagaimana mendidiknya. Kepada anak-anak, kita juga sering menjadikan orang sukses sebagai contoh untuk ditiru. Sekali lagi, sukses menurut ukuran masing-masing orangtua dan masyarakat sekitarnya.
Pertanyaan yang muncul, bekal apa yang diperlukan agar orang dapat menggapai kehidupan yang sukses tersebut? Jika bekal atau kunci itu dapat ditemukan, kita sebagai orangtua dapat mengupayakan agar bekal tersebut dimiliki anak kita. Jika bekal tersebut dapat dipelajari di sekolah, tentunya guru dapat mengajarkannya kepada siswa, sehingga siswa menguasai kemampuan itu. Bukankah anak dikirim oleh orangtuanya ke sekolah, dengan harapan mendapatkan pendidikan yang dapat digunakan sebagai bekal untuk meraih kesuksesan hidup di masa depan?
Cara berpikir yang paling mudah untuk menemukan kunci orang sukses adalah dengan pola pikir induktif, yaitu mengidentifikasi orang-orang sukses, kemudian mencermati apa kunci rahasia sukses mereka. Jika kita mendapatkan cukup banyak kasus tentang ciri orang sukses dan dari kasus tersebut dilakukan generalisasi, maka secara prosedur berpikir, kita akan mendapatkan ciri-ciri orang sukses yang berlaku secara universal.
Dalam kesempatan memberi penataran kepada guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, dan staf dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, juga saat memberi kuliah mahasiswa pasca sarjana, saya meminta mereka melakukan hal tersebut. Saya meminta mereka untuk mengidentifikasi ”bekal pokok/kunci” seseorang sehingga dapat sukses. Namun, sebagian besar mereka mengalami kesulitan untuk melakukannya. Oleh karena itu, disiasati dengan membagi pertanyaan tersebut menjadi beberapa tahapan.
Tahap pertama, saya memancing dengan pertanyaan: Bapak-bapak, biasanya punya langganan bengkel sepeda motor atau bengkel mobil. Sebut saja bengkel Pak Didik. Bapak selalu membawa mobil/motor yang rusak ke bengkel Pak Didik. Ibu-ibu, biasanya punya langganan penjahit yang dianggap baik, sebut saja penjahit Bu Norma. Ibu-ibu selalu ke Bu Norma, kalau menjahitkan baju baru. Nah, sekarang sebutkan alasan, mengapa Bapak berlangganan ke bengkel Pak Didik dan Ibu berlangganan ke penjahit Bu Norma?
Terhadap pertanyaan seperti itu muncul jawaban yang sangat beragam, tetapi pada umumnya berkisar pada: karena pekerjaannya baik, orangnya jujur-tidak membohongi suku cadang yang digunakan, model bajunya mutakhir, ongkosnya tidak mahal, tempatnya dekat rumah, orangnya ramah dan tepat janji.
Tentu setiap orang membayangkan bengkel mobil/sepeda motor dan penjahit langganannya masing-masing. Tetapi sungguh mengagetkan, karena ciri-ciri bengkel mobil/motor yang difavoritkan, relatif sama dengan ciri-ciri penjahit yang laris. Yang membedakan hanyalah keahliannya, yaitu ahli memperbaiki mobil/motor dan ahli menjahit baju, sedangkan ciri-ciri lainnya sama. Dengan demikian ciri-ciri yang diajukan untuk bengkel favorit atau penjahit yang laris tersebut, diduga merupakan ciri-ciri yang bersifat universal, yaitu ciri-ciri penjahit dan tukang bengkel yang baik, sehingga memiliki banyak langganan.
Pada tahap kedua, diajukan pertanyaan yang serupa tetapi untuk profesi lain, yaitu dokter. Jawaban yang banyak muncul terhadap pertanyaan tersebut adalah: karena memeriksanya teliti, obat yang diberikan cocok, tempat praktik dekat dengan rumah, orangnya ramah, ongkosnya tidak terlalu mahal dan pelayananannya terhadap pasien baik. Tentu ungkapan yang digunakan oleh peserta penataran sangat beragam, tetapi dapat disederhanakan seperti tersebut di atas.
Mari kita bandingkan ciri-ciri dokter favorit dengan bengkel/penjahit favorit yang disebutkan oleh peserta penataran tersebut. Bukankah ciri-ciri dokter tersebut sangat mirip dengan tukang bengkel mobil/motor dan tukang jahit, yang diajukan sebelumnya? Memeriksanya teliti dan memberi obat yang cocok adalah ciri keahlian seorang dokter, yang identik dengan ungkapan pekerjaannya baik, untuk bengkel dan penjahit. Ciri yang lain sangat mirip, misalnya ramah, pelayanannya baik dan ongkosnya murah.
Pekerjaan seorang dokter sangat berbeda dengan penjahit dan berbeda pula dengan montir, tetapi dari jawaban tersebut ternyata hampir semua ciri-ciri dokter favorit sama dengan bengkel favorit dan penjahit laris. Yang membedakan hanyalah keahlian khususnya, yaitu mengobati bagi dokter, memperbaiki mobil bagi bengkel dan membuat baju bagi penjahit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki ciri universal tertentu, agar memiliki banyak pelanggan.
Pada tahap ketiga, saya mengajukan pertanyaan Apakah memiliki tetangga yang favorit, yaitu tetangga yang menyenangkan? Hampir semua menjawab punya. Ketika ditanyakan, apa ciri-ciri perilaku tetangga favorit tersebut, jawaban mereka juga hampir seragam, yaitu ”jujur, toleran, tidak usil, ramah, dan suka menolong”. Walaupun jawabannya bervariasi dan bahkan seringkali disertai dengan kelakar, misalnya tetangga favorit itu yang cantik atau keren, suka meminjami uang dan seterusnya, tetapi sikap jujur, ramah, tidak usil, toleran dan suka menolong merupakan ciri-ciri umum tetangga yang baik.
Nah, kita semua tentu ingin anak kita sukses, jika menjadi dokter yang praktiknya laris, jika membuka usaha bengkel akan laris, jika membuka tailor juga laris dan di kampung menjadi tetangga yang favorit bagi masyarakat sekelilingnya. Ciri-ciri yang diungkapkan untuk tukang bengkel, penjahit, dokter dan tentangga favorit tersebut di atas dapat menjadi pedoman kita dalam mendidik anak.
Ciri-ciri tersebut, dapat diperluas kepada orang sukses secara umum. Oleh karena itu pada tahap ke empat, kepada peserta penataran dan mahasiswa pasca sarjana, saya menanyakan apakah memiliki saudara, teman, atau tetangga yang dianggap orang yang paling sukses. Biasanya mereka menjawab punya. Untuk memudahkan, saya meminta mereka menuliskan nama orang sukses tadi dalam bentuk inisial agar orang lain tidak mengerti. Setelah itu, mahasiswa dan peserta penataran diminta menuliskan perilaku yang menyebabkan dia sukses. Tulisan peserta penataran tersebut kemudian dikumpulkan dan beberapa dibaca untuk berbagai pendapat.
Sungguh mencengangkan, meskipun mereka pasti menunjuk orang yang berbeda-beda, ternyata ciri-ciri yang disebutkan sangat mirip. Perilaku orang yang dianggap sukses oleh peserta pelatihan dari berbagai profesi dan juga oleh banyak mahasiswa pascasarjana dan peserta pelatihan tersebut mencakup: ahli dalam bidang kerjanya, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, ulet, pantang menyerah, kreatif, pandai bergaul, pandai memanfaatkan kesempatan, pandai memecahkan masalah dan berani mengambil risiko.
Biasanya saya meminta menyebutkan apa saja dan diselingi dengan kelakar, agar mereka menjawab dengan santai dan bebas menyatakan pendapat. Oleh karena itu, seringkali para mahasiswa dan peserta pelatihan menyelipkan ungkapan yang juga bernada kelakar, misalnya faktor nasib, orangtuanya kaya, mertuanya kaya, pandai berkolusi, dibantu dukun dan sebagainya. Tentu faktor-faktor demikian tidak perlu dirisaukan.
Jika dibandingkan dengan ciri-ciri dokter, penjahit dan tukang bengkel mobil/motor yang ditemukan lebih dahulu, ciri-ciri orang sukses ini lebih luas. Semua ciri-ciri dokter, penjahit dan tukang bengkel sudah tercakup di dalamnya dan ditambah dengan ciri lain, misalnya disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, ulet, pantang menyerah, kreatif, pandai bergaul, pandai memanfaatkan kesempatan, pandai memecahkan masalah dan berani mengambil risiko. Hal itu dapat dimengerti, karena saat mengidentifikasi dokter, penjahit dan bengkel, mereka baru mengungkapkan ”kebaikan” dokter, penjahit dan bengkel, tetapi belum menyebut mengapa menjadi baik.
Orang yang sukses sangat mungkin berposisi sebagai anak buah dan juga bapak buah (pimpinan). Oleh karena itu, pandangan pimpinan terhadap anak buah yang baik dan pandangan anak buah terhadap pimpinan yang baik, juga perlu digali. Untuk itu, ketika memberi pelatihan kepada kepala sekolah dan pejabat dari Dinas Pendidikan, saya mencoba menggali lebih dalam tentang anak buah yang baik. Saya mengajukan pertanyaan tahap ke lima, yaitu Jika pada saat mengikuti pelatihan ini, di kantor ada tugas penting tentu menunjuk anak buah untuk menyelesaikan. Jika ada beberapa anak buah, bagaimana memilihnya?
Pada umumnya mereka menjawab, akan memilih anak buah yang: menguasai tugas yang akan dikerjakan, pekerja keras, bertanggung jawab, berdedikasi, pandai bekerja sama dengan teman dan pandai mengatasi masalah. Walaupun istilah yang digunakan bebeda-beda, inti jawaban tidak terlalu banyak variasinya. Enam kemampuan tersebut hampir selalu disebutkan oleh setiap peserta. Tentu saja, setiap peserta pelatihan menunjuk orang yang berbeda-beda untuk dideskripsikan. Jika ternyata deskripsi ciri-ciri orang tersebut mirip, kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri itu memang universal dan menjadi ciri anak buah yang terpercaya.
Untuk posisi bapak buah (atasan/pimpinan), digali dari penataran guru. Kepada peserta penataran saya ajukan pertanyaan apa ciri-ciri kepala sekolah yang ideal?. Terhadap pertanyaan itu muncul jawaban, yang kalau dirangkum mencakup: pandai dan berwawasan luas, tegas, disiplin, memperhatikan kepentingan anak buah, memiliki relasi luas, pandai mengambil keputusan, berani mengambil risiko.
Kalau rangkuman ciri-ciri anak buah yang dipercaya dan bapak buah yang ideal tersebut dibandingkan dengan ciri-ciri orang sukses, muncul cir-ciri baru. Dua ciri ”baru” yang muncul pada anak buah terpercaya, yaitu berdedikasi dan pandai bekerja sama dengan teman. Untuk posisi pimpinan ideal, muncul ciri-ciri ”baru”, yaitu berwawasan luas, tegas, memperhatikan anak buah.
Jika dicermati dedikasi sebenarnya merupakan perwujudan tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, sehingga ciri berdedikasi dapat diintegrasikan kepada ciri tanggung jawab. Ciri memperhatikan anak buah dapat diintegrasikan kepada suka menolong. Dengan demikian, penggunaan ”pimpinan” dan ”anak buah” yang baik, hanya memunculkan tiga ciri baru, yaitu pandai bekerja sama, tegas dan berwawasan luas. Secara logika kita juga dapat memahami bahwa ketiga ciri tersebut memang penting untuk keberhasilan seseorang.
Biasanya, seseorang sangat cermat jika diminta untuk menjawab hal-hal yang terkait dengan anak kandungnya. Oleh karena itu, saya meminta mahasiswa pasca sarjana dan peserta pelatihan dari berbagai daerah, khususnya mereka yang telah memiliki anak remaja atau yang sudah menikahkan anaknya, untuk mengidentifikasi menantu yang ideal. Biasanya saya mengajukan pertanyaan tahap ke enam, sebagai berikut: Jika Bapak/Ibu memiliki anak gadis, dan dilamar oleh dua orang tentu harus memiliki salah satu. Nah, untuk memilih, kriteria apa yang digunakan?
Terhadap pertanyaan tersebut, ternyata muncul jawaban yang unik yang terkait dengan budaya. Jawaban yang banyak muncul, antara lain: seiman dan baik ibadahnya, setia dan berbakti pada orangtua, bertanggung jawab, keturunan orang baik-baik, berpendidikan baik, sudah bekerja dan memiliki masa depan cerah, sehat jasmani-rokhani, ganteng dan mencintai anaknya. Walaupun variasinya cukup banyak, tetapi ciri-ciri tersebut hampir disebut oleh setiap peserta.
Jika ciri menantu idaman tersebut dibandingkan dengan ciri orang sukses, tampak agak berbeda. Semua ciri orang sukses diwadahi dalam tiga istilah, yaitu berpendidikan, sudah bekerja, dan memiliki masa depan cerah. Ciri-ciri lainnya, lebih terkait dengan aspek keimanan dan budaya. Hal itu dapat dipahami, karena masalah menantu terkait dengan prinsip kekeluargaan.
Ketika ditanyakan lebih lanjut Apakah ciri-ciri orang sukses yang sebelumnya mereka ajukan penting untuk calon menantu?, ternyata semua menjawab ”ya, sangat penting, agar memiliki masa depan cerah”. Dengan demikian ciri-ciri orang sukses berlaku juga untuk calon menantu.
Jika kita menggunakan pola pikir induktif, yaitu menarik simpulan dari fakta-fakta empirik di lapangan, maka hasil wawacara dengan banyak peserta pelatihan dari berbagai daerah dan mahasiswa pascasarjana beberapa jurusan dan beberapa angkatan tersebut, kita dapat mengambil simpulan tentang ciri-ciri orang sukses. Apa ciri-ciri yang harus dimiliki seseorang agar dapat sukses, yaitu agar ketika membuka usaha bengkel, jahitan atau berpraktik sebagai dokter akan laris, agar menjadi anak buah yang dipercaya atasan, agar menjadi atasan yang dicintai anak buah, agar menjadi tetangga yang favorit dan akan diincar oleh banyak orang untuk dipilih menjadi calon menantu.
Jika ciri-ciri tersebut disebut kunci sukses, maka isinya mencakup: beriman dan taat beribadah, jujur, menguasai bidang pekerjaan yang ditekuni, kerja keras, ulet dan pantang menyerah, kreatif, pandai memecahkan masalah, bertanggung jawab, berpengetahuan luas, pandai bekerjasama dengan orang lain, memiliki hubungan yang luas, berani mengambil risiko dan pandai mengambil keputusan, tegas dalam memimpin, suka menolong, toleran dan tidak usil terhadap urusan orang lain.
Betulkah jawaban-jawaban mereka sesuai dengan kenyataan di lapangan? Tentu masih perlu diuji. Seusai meresume ciri-ciri orang sukses, saya merasa perlu untuk mengamati sendiri teman dan saudara yang kebetulan sukses dalam kehidupannya. Untuk itu, saya mengamati tiga orang teman, seorang adalah pedagang sukses yang disebutkan pada bab terdahulu dan kebetulan teman akrab saat di SMP. Kedua, juga seorang teman yang berprofesi sebagai arsitek yang handal dan karyanya banyak dikagumi oleh masyarakat. Ketiga, juga teman dan masih ada hubungan saudara jauh yang bekerja sebagai birokrat. Mari kita cermati gambaran sosok mereka pada uraian berikut
Pak Badrun, Pedagang Panutan
Namanya, sebut saja Pak Badrun. Profesinya pedagang. Sewaktu sekolah di SMP, dia tergolong siswa yang biasa-biasa saja. Salah satu hal yang menonjol adalah dia nyambi berjualan berbagai barang ketika sekolah, seperti jualan kue, mainan bahkan petasan di saat bulan puasa. Saat itu dia tampak senang berjualan, pada hal dia berasal dari keluarga yang cukup berada.
Pengalaman berjualan itulah yang ternyata mendorong Badrun tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi langsung berdagang setamat SMA. Dia bercerita memulai karier dengan berdagang kembang api dan petasan dan bawang putih saat menjelang lebaran. Kemudian berkembang ke bahan kebutuhan sehari-hari, seperi beras, gula hingga minyak. Semula Badrun berjualan di teras rumahnya yang disekat menjadi semacam kios darurat. Kembang api dan petasan dipilih karena mendatangkan keuntungan besar. Demikian pula bawang putih dipilih, karena saat itu harga bawang putih berbeda jauh antara di daerahnya dan di Surabaya.
Sekarang Pak Badrun sudah menjadi pedagang besar, dengan tiga buah toko dan juga sebagai pedagang barang antar kota. Dia memiliki enam anak, empat sudah sarjana dan dua masih kuliah, tiga di antaranya sudah bekerja dan berkeluarga. Pak Badrun memiliki rumah besar dan menjadi orang terpandang di lingkungannya. Apalagi dia juga berperan sebagai pengurus masjid, sekaligus pengurus yayasan yang memiliki sekolah, mulai dari TK sampai SMA. Dengan demikian cukup alasan untuk menggolongkan Pak Badrun sebagai orang sukses.
Dengan mengamati perilaku keseharian Pak Badrun dan wawancara dengannya beberapa kali, ditemukan beberapa ciri khas. Ciri pertama, Pak Badrun ternyata selalu mencari informasi terbaru yang terkait dengan dagangan dan kegiatan lainnya. Koran menjadi bacaan wajib, khususnya tentang perkembangan harga barang. Pak Badrun juga memiliki ”orang-orang kepercayaan” yang akan memberikan info tentang perdagangan di kota lain. Yang lebih mengherankan, Pak Badrun sangat cermat menganalisis terhadap informasi tersebut. Misalnya, ketika saya berkunjung ke rumahnya, Pak Badrun menerima informasi dari ”orangnya” di kota lain, bahwa ada wabah ayam di kota tempat tinggalnya. Saat itu juga Pak Badrun mengajak diskusi bagaimana harga telor ayam beberapa minggu yang akan datang. Pak Badrun memprediksi sekitar 2-3 minggu lagi harga telor ayam akan naik.
Ketika membaca berita di koran bahwa harga cabe merosot, Pak Badrun justru menganjurkan kawan-kawannya menanam cabe. Mengapa demikian? menurut Pak Badrun, pada umumnya orang tidak mau menanam pada saat harga jatuh, akibatnya akan terjadi kekurangan produksi dan selanjutnya harga akan naik. Saya dibuat kaget dengan prediksi tersebut.
Pak Badrun juga menyarankan beberapa teman, bahkan kini bersama seorang temannya merintis usaha untuk menanam padi dan sayuran tanpa pupuk dan obat-obatan kimiawi. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk hijau. Dengan penuh keyakinan Pak Badrun menjelaskan bahwa ke depan, akan banyak orang yang memilih beras, sayur mayur dan buah-buahan yang bebas pestisida, walaupun harganya mahal. Pada saat ekonomi masyarakat membaik, jumlah orang semacam itu akan semakin banyak dan akan menjadi pangsa pasar khusus.
Sungguh mengagumkan. Pak Badrun yang ”cuma” tamatan SMA dan tinggal di kota kecil ternyata mampu memprediksi berbagai hal, yang mungkin seorang sarjanapun belum tentu mampu melakukan. Ketika petani pada umumnya berpikir mencari jenis benih dan pupuk yang mampu menghasilkan panen maksimal, Pak Badrun justru melihat peluang untuk hal sebaliknya, yaitu bertani secara tradisional yang walaupun hasil panennya sedikit tetapi harganya akan mahal. Jargon back to nature yang banyak dilontarkan oleh para ahli, ternyata sudah disadari oleh Pak Badrun dan itu menjadi inspirasi untuk berinovasi dalam pertanian.
Ketika hal itu kami tanyakan, Pak Badrun dengan kelakar menjawab ”pedagang harus mampu melihat peluang, kalau tidak ya tidak akan dapat bersaing”. Pak Badrun menjelaskan, untuk melihat peluang itu orang harus banyak membaca dan bertanya untuk mencari informasi, kemudian menganalisisnya. Jargon bahwa ”siapa yang memiliki informasi lebih dahulu akan menang satu langkah dalam persaingan” ternyata sudah disadari bahkan dilakukan Pak Badrun.
Ciri kedua, kemampuan Pak Badrun dalam berkomunikasi sangat bagus. Pernah, suatu ketika saya datang ke tokonya, dan saat itu Pak Badrun sedang menghadapi pelanggan yang marah-marah. Tampaknya pelanggan tersebut komplain soal mutu barang. Yang mengagumkan, Pak Badrun dengan sabar dan tersenyum mendengarkan ”omelan” pelanggan tersebut. Baru setelah si pelanggan berhenti, Pak Badrun menjelaskan duduk persoalannya dan secara gentleman mengatakan akan mengganti, kalau memang kerusakan barang tersebut diakibatkan kesalahan karyawannya. Di akhir pertemuan itu, si pelanggan pulang dengan wajah puas.
Dari mengamati cara Pak Badrun berdialog dengan pelanggan yang sedang marah, ada dua hal yang menonjol, yaitu kemampuan Pak Badrun dalam memilih kata-kata dan cara mengungkapkan serta kemampuan mengendalikan emosi dan menunjukkan empati pada lawan bicaranya.
Tampaknya kemampuan mengelola emosi yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman melalui tulisannya tentang Emotional Intelegence, sudah disadari dan diterapkan oleh Pak Badrun. Kemampuannya mengelola emosi itulah yang menyebabkan Pak Badrun dapat tetap tersenyum dan penuh kesabaran menghadapi pelanggan yang marah. Dan itu ternyata membuahkan hasil kepuasan pelanggan.
Ketika ditanya apakah dia membaca buku Emotional Intelegence, Pak Badrun menjawab ”ya”. Tetapi dia menambahkan bahwa sudah menerapkan prinsip itu jauh sebelum membaca bukunya Daniel Goleman. Pak Badrun mengatakan bahwa modal utama pedagang adalah kepercayaan dan untuk memperoleh kepercayaan diperlukan dua syarat, yaitu jujur dan punya banyak kawan. Oleh karena itu, menurut Pak Badrun, menipu pelanggan tidak boleh dilakukan. Sekali ditipu, pelanggan akan kapok dan akan menceritakan hal itu kepada kawan-kawannya. Pedagang yang menipu pelanggan, ibarat menutup pintu sukses untuk diri sendiri.
Dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits, Pak Badrun menjelaskan betapa pentingnya kejujuran, yang merupakan salah satu komponen penting dari akhlaq. ”Nabi Muhammad adalah contoh pedagang yang jujur, sehingga semua orang ingin membeli dagangannya dan semua orang ingin bekerja dengannya”. Tampaknya Pak Badrun tidak hanya menerapkan prinsip emotional intelegence, tetapi juga spiritual intelegence dalam berdagang. Ketika saya tanyakan bagaimana bisa sesabar itu menghadapi omelan orang, ”orang sabar itu dicintai Allah,” katanya sembari tertawa.
Kawan juga merupakan faktor penting bagi pedagang. Kawan itulah yang akan menjadi pelanggan utama dan sekaligus mengiklankan dagangannya kepada teman-teman lainnya. Menurut Pak Badrun, pelanggan yang setia akan menjadi pengiklan yang lebih baik, dibanding selebaran atau spanduk. Oleh karena itu Pak Badrun berusaha mengakrabi pelanggannya, sehingga menjadi teman. Begitu telah menjadi kawan, pertahankan dan jangan sampai lepas. Teman adalah modal penting dalam berdagang, sedangkan musuh adalah ibarat kanker dalam berdagang. Tampaknya pepatah Cina kawan seribu terlalu sedikit, sedangkan musuh satu terlalu banyak dianut oleh Pak Badrun.
Suatu saat saya diajak Pak Badrun dalam suatu kegiatan sosial di masjid tempatnya menjadi pengurus (takmir), yang lokasinya menyatu dengan sekolah di mana dia menjadi salah satu pengurus yayasannya. Omong-omong dengan orang-orang yang terlibat kegiatan tersebut dan mengamati Pak Badrun berinteraksi dengan temannya, saya menemukan ciri Pak Badrun yang ketiga, yaitu pergaulannya luas dan memiliki kepedulian tinggi pada penderitaan orang lain. Pak Badrun ternyata kenal baik dengan ”orang-orang besar” di daerahnya, baik dari jajaran pemerintah daerah, kepolisian, maupun tokoh-tokoh masyarakat.
Pak Badrun ternyata sangat pandai bergaul, dengan enaknya mengobrol dengan ibu-ibu yang sedang mencuci piring, tetapi juga dengan enak sekali menyapa dan ngobrol dengan seorang pejabat pemda yang kebetulan datang. Sepertinya Pak Badrun dapat bergaul dengan ”orang kecil” maupun ”orang besar”. Beberapa orang yang saya ajak ngobrol mengatakan bahwa Pak Badrun pandai bergaul dan bekerja dengan siapa saja.
Ketika pulang dari acara tersebut saya menanyakan, apa yang mendorongnya aktif di kegiatan masjid maupun menyempatkan diri untuk mengurus sekolahan, padahal sehari-hari sudah disibukkan oleh perkerjaannya sebagai pedagang. Sungguh mengejutkan, Pak Badrun menjawab bahwa menurut Islam sebaik-baik orang itu jika bermanfaat bagi lingkungannya. Dengan aktif mengikuti kegiatan sosial dia ingin bermanfaat bagi lingkungannya. Ungkapan tersebut menunjukkan ciri ke empat Pak Badrun, yaitu kepedulian pada masyarakat.
Ciri ke lima Pak Badrun yang saya tangkap dari mengamatinya selama berminggu-minggu adalah kemauannya untuk belajar, baik melalui membaca buku, bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu dan mencermati fenomena kehidupan, kemudian menganalisisnya. Di rumahnya terdapat cukup banyak buku, khususnya buku-buku populer, seperti buku ESQ karya Ary Ginanjar, Perang Bisnis dengan Strategi Perang ala Sun Tzu oleh Donald Kranse, buku berjudul Muhammad sebagai Pedagang (berupa fotocopy), buku-buku karya Quraish Shihab dan Aa Gym serta majalah SWA beberapa terbitan. Walaupun berprofesi sebagai pedagang, Pak Badrun ternyata terus belajar dari berbagai bahan bacaan. Kepada saya, Pak Badrun mengatakan belajar adalah kewajiban bagi orang Islam, mulai dari buaian ibu sampai menjelang masuk liang lahat.
Ketika merasa sudah memperoleh lima ciri yang menjadi modal kesuksesan Pak Badrun, saya menanyakan apa pesan Pak Badrun kepada pemuda yang ingin bekerja sebagai pedagang. Dia tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi bercerita bahwa banyak anak muda yang kini ingin jadi pengusaha, tetapi langsung patah semangat ketika mengalami kesulitan atau kegagalan. Banyak orang yang memulai usaha, tetapi hanya sedikit yang pantang menyerah dan mampu bangkit kembali ketika jatuh. Padahal, setiap pedagang dan pengusaha pasti pernah mengalami kesulitan dan kegagalan. Dengan ungkapan itu, secara tidak langsung Pak Badrun ingin berperan bahwa untuk menjadi pedagang atau pengusaha yang sukses, orang harus pantang menyerah. Jadi itulah tampaknya ciri ke enam yang menyebabkan Pak Badrun sukses sebagai pedagang.
Ir. Wahyu, Arsitek yang Tekun
Dia seorang arsitek profesional, usianya sekitar 50 tahun. Banyak rancangannya menjadi bangunan monumental yang menjadi ikon daerah. Orangnya sederhana dan tidak kelewat banyak bicara, tetapi hampir semua rekan sejawat mengakui dia sebagai arsitek handal. Sebut saja namanya Ir. Wahyu (nama samaran). Untuk mendapatkan gambaran tentang Pak Wahyu secara utuh, saya beberapa kali mengunjunginya di studio yang merangkap menjadi kantornya, omong-omong dengan dia, staf di kantor tersebut dan rekan kerjanya. Saya juga melakukan wawancara dengan beberapa pengguna jasa arsitek Pak Wahyu.
Dari sejumlah kunjungan dan omong-omong tersebut ditemukan ciri-ciri yang diduga menjadi penyebab Pak Wahyu sukses. Ciri pertama, Pak Wahyu sangat tekun dan teliti dalam bekerja. Beberapa stafnya menyebut Pak Wahyu adalah seorang pekerja keras dan perfectionist, karena ingin setiap apa yang dikerjakan hasilnya sempurna. Pak Wahyu akan mengoreksi sebuah rancangan, kalau dirasa masih ada yang belum sempurna, walaupun orang yang memberi order sudah puas.
Saya pernah mendampingi Pak Wahyu, ketika ada seorang pelanggannya meminta membuatkan rancangan rumah. Pak Wahyu cukup lama melakukan wawancara dengan Bapak dan Ibu pelanggan tersebut, tetang hobi dan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan. Pak Wahyu juga menunjukkan berbagai gambar rumah di majalah serta foto-foto dan meminta tamunya untuk mengomentari gambar dan foto rumah tersebut. Ternyata informasi tersebut digunakan sebagai dasar membuat rancangan rumah yang sesuai kepribadian penghuni, kegiatan sehari-hari dan juga untuk menyalurkan hobi keluarga tersebut. Saya tertegun, ketika Pak Wahyu menjelaskan bahwa kenyamanan rumah akan membantu kesehatan penghuni, keharmonisan rumah tangga dan ujungnya akan membuat orang fresh dalam memulai pekerjaan yang tentunya akan meningkatkan produktivitas kerja yang bersangkutan.
”Arsitek yang asal-asalan dalam merancang bangunan dapat menyebabkan penghuninya tidak sehat, keluarganya tidak harmonis dan produktivitas kerjanya menurun”, begitu pesan Pak Wahyu. Di ruang kerja para staf artisteknya terpasang tulisan besar-besar yang dipasang di tembok, berbunyi ”HASIL RANCANGAN ANDA IKUT MENENTUKAN KESEHATAN PENGHUNI, KEHARMONISAN KELUARGA DAN PRODUKTIVITAS KERJANYA”. Dari pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pak Wahyu benar-benar mengusai bidang pekerjaannya. Ciri kedua, yaitu menguasai bidang pekerjaannya inilah yang membuat klien dan rekannya mengakui sebagai arsitek handal.
Pak Wahyu tampaknya membina anak buahnya dengan teladan dan bukan omongan. Perilaku keseharian Pak Wahyu, seperti bekerja keras, tekun dan teliti telah menjadi teladan bagi anak buahnya dan itu diakui oleh stafnya. Mereka menyebut Pak Wahyu bukan hanya sebagai atasan atau bos, tetapi juga sebagai teladan bagaimana bekerja secara profesional. Jadi ciri ketiga Pak Wahyu adalah menjadi teladan bagi anak buahnya. Dia sering ke ruang kerja anak buahnya, untuk memeriksa dan membetulkan pekerjaan mereka yang keliru atau kurang sempurna. Walaupun pendiam, ternyata Pak Wahyu dapat enak omong-omong dengan anak buahnya. Anak buahnya ternyata juga tidak takut untuk bertanya dan bahkan mengoreksi pendapat Pak Wahyu. Kebiasaan Pak Wahyu mendatangi ruang kerja stafnya, memeriksa pekerjaan dan kemudian memberi koreksi, menanyakan kesulitan dan membantu memecahkan, menjadikan anak buahnya sangat menghormatinya. Seorang staf senior menyatakan, dia sudah bekerja di kantor tersebut selama 18 tahun dan tidak ingin pindah, walaupun beberapa kali ditawari kantor lain sejenis.
Bagaimana Pak Wahyu memulai kariernya sehingga menjadi aristek yang handal? Ternyata dia sudah bekerja sebagai drafter (juru gambar) di kantor Biro Arsitek, sejak kuliah tahun kedua. Pak Wahyu menceritakan panjang lebar tentang kehebatan arsitek yang dia bantu, sehingga Pak Wahyu merasa lebih banyak belajar dari atasan tersebut dibanding dari bangku kuliah. Di Biro Arsitek itulah, Pak Wahyu belajar banyak hal, misalnya tentang filosofi kehidupan, bekerja dengan ulet dan jujur, melayani klien dengan baik dan bahkan mengelola bisnis secara baik. Setelah bekerja selama 9 tahun, setelah lulus sebagai insinyur dan telah merasa cukup bekal, barulah Pak Wahyu ingin mendirikan usaha sendiri. Anehnya, atasan yang dikagumi itu justru mendorongnya dan bahkan memfasilitasi agar usaha Pak Wahyu dapat berjalan dengan baik. Dia tidak takut tersaingi, walaupun tahu betul bahwa usaha yang dirintis Pak Wahyu adalah kantor Konsultan Perencanaan yang bidang utamanya juga dalam merancang bangunan. Oleh karena itu hubungan Pak Wahyu dengan mantan bos-nya itu tetap berjalan baik, bahkan sering bekerja sama dalam suatu proyek tertentu.
Suatu saat Pak Wahyu mengundang saya untuk ngobrol malam hari di kantornya. Tentu ini ajakan yang menyenangkan. Sambil ngobrol saya mengamati buku yang begitu banyak di studio Pak Wahyu dan mencakup berbagai jenis dan bidang. Di samping buku-buku tentang rancang bangun dan manajemen, ternyata banyak juga buku tentang psikologi populer dan buku-buku futuristik. Beberapa di antaranya Rethinking the Future karya Rowan Gibson (ed), Lateral Thinking Eduard de Bono, ESQ dari Ary Ginanjar, Megatrends oleh Naisbitt, Dunia Tanpa Batas oleh Kenichi Ohmae dan Me Too is not My Style oleh Stan Shih.
Ketika ditanya alasan keberadaan begitu banyak buku dari berbagai jenis tersebut, Pak Wahyu dengan tenang menjelaskan bahwa untuk mampu membuat rancang bangun yang baik, dia perlu membaca banyak buku untuk memperoleh berbagai informasi baru. Tugas arsitek, menurutnya, adalah memindahkan keinginan dan kebutuhan pemberi order menjadi rancangan bangunan. Oleh karena itu, arsitek harus pandai menangkap apa yang diinginkan sekaligus apa yang dibutuhkan oleh klien. Untuk dapat menggali keinginan dan kebutuhan itu, arsitek harus pandai ”memancingnya” dalam suatu dialog. Yang sering terjadi, keinginan dan kebutuhan itu baru terungkap, ketika diberikan contoh dan bahan banding. Nah, di situlah pentingnya arsitek selalu meng-up date, pengetahuannya.
Apa untungnya membaca buku-buku yang sepertinya tidak terkait dengan bidang arsitektur? ”Wow, banyak manfaatnya,” tukasnya bersemangat. Ambil contoh buku Megatrend. Karya John Naisbitt itu memberinya inspirasi bahwa arsitek harus mampu membuat rancangan yang tidak terbatasi oleh batas negara, tetapi tetap bersumber dari nilai-nilai kehidupan lokal. Jadi ciri ke empat Pak Wahyu adalah kebiasaan belajar terus dan memanfaatkan hasilnya untuk profesinya sebagai arsitek.
Setelah ngobrol sana-sisi, Pak Wahyu dengan serius menyatakan bahwa dia risau dengan kondisi pendidikan saat ini. Menurutnya, pendidikan seperti misleading, karena hanya menekankan pada mempelajari buku-buku dan melupakan mengajarkan perilaku jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Pak Wahyu memberikan contoh teman teman cucunya yang tidak merasa bersalah, ketika menyontek ketika ulangan. Dia merasa kewalahan menanamkan sikap dan kebiasaan baik kepada cucunya, karena di sekolah justru tidak mendapat perhatian. Dari pengalamannya bekerja sebagai profesional, justru jujur, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab, itulah yang menjadi modal utama. Dia memberi contoh, ketika ada karyawan baru di kantornya, lebih mudah membimbing mereka yang ”kurang bekal pengetahuan” tetapi jujur, disiplin, tanggung jawab dan mau bekerja keras, dibanding karyawan baru yang ”pandai” tetapi tidak disiplin, tanggung jawab dan malas.
Ungkapan Pak Wahyu itu mengingatkan saya, yang beberapa tahun lalu diminta oleh sebuah perusahaan ”X” membantu melakukan seleksi calon karyawan. Kepada Direktur Umum perusahaan itu, yang kebetulan kawan, saya bertanya apa kriteria pokok yang diperlukan di perusahaan tersebut. Sambil bercanda, dia menjawab: pertama: jujur, kedua: disiplin, ketiga: tanggung jawab, ke empat: nalarnya berjalan baik. Menurut dia, karyawan pandai tetapi tidak jujur akan mencuri. Karyawan pandai tetapi tidak disiplin akan merusak situasi kerja di perusahaan. Karyawan pandai tetapi tidak tanggung jawab akan bekerja secara sembarangan. Jadi syarat seleksi karyawan di perusahaan ”X” tersebut sangat mirip dengan apa yang disampaikan Pak Wahyu.
Pak Trisman Birokrat Lurus
Sampel orang sukses berikutnya seorang birokrat. Orangnya ramah dan sudah bekerja sejak lulus SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Sebut saja namanya Pak Trisman. Pak Trisman melanjutkan kuliah sambil bekerja dan saat ini telah menyelesaikan jenjang S2 dari Fakultas Ekonomi di perguruan tinggi ternama. Kariernya Pak Tris sangat bagus, sehingga pada umur sekitar 45 tahun, sudah menduduki jabatan cukup tinggi di kantornya.
Untuk dapat mengetahui ciri perilaku Pak Tris, saya beberapa kali berkunjung ke rumahnya dan ke kantornya. Dari pengamatan dan wawancara bebas dengan anak buahnya, didapatkan cerita tentang ciri pertama Pak Tris, yaitu disiplin, pekerja keras, perhatian dan suka menolong anak buah, tetapi juga keras dalam menerapkan aturankerja. Seorang stafnya mengatakan Pak Tris selalu datang sebelum jam kantor dan selalu melongok ke ruang kerja anak buahnya ketika jam kerja mulai. Pak Tris selalu membantu jika anak buahnya mengalami kesulitan, tetapi sebaliknya akan marah jika ada anak buahnya tidak sungguh-sungguh dalam bekerja dan bahkan mengambil tindakan tegas jika ada anak buahnya tidak jujur.
Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Pak Tris, dia menjelaskan bahwa kejujuran dan kesungguhan merupakan modal dasar dalam bekerja. ”Saya sangat sedih jika ada staf yang tidak sungguh-sungguh dalam bekerja, karena itu menunjukkan niatnya tidak tulus. Padahal, hasil kerja itu akan sangat tergantung dari niatnya. Kalau niatnya tidak tulus, dia tidak akan sungguh-sungguh dalam bekerja dan tidak akan peduli apakah hasilnya bagus atau jelek.” Dari ungkapan tersebut tampak sekali Pak Tris ingin setiap orang bekerja dengan niat tulus, sehingga sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas yang diterima.
Tentang kejujuran, Pak Tris mengatakan bahwa kejujuran merupakan syarat pokok, apalagi jika itu menyangkut uang. Staf yang tidak jujur menurut Pak Tris sangat membahayakan, karena mungkin memberikan data yang tidak benar dan itu sangat membahayakan perhitungan-perhitungan di kantornya, yang kebetulan banyak terkait dengan keuangan. ”Ketidakjujuran dapat mendorong seseorang untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk berbuat jahat demi kepentingan diri sendiri”.
Diamati dari kehidupan sehari-harinya, Pak Tris tergolong sederhana, dibandingkan dengan masa kerja dan jabatan yang dimiliki dan juga dibanding dengan rekan-rekan selevelnya. Beberapa stafnya menyebut Pak Tris sebagai orang yang”lurus”. Jadi apa yang diharapkan dari stafnya dan Pak Tris juga melakukan yaitu kejujuran dan itu merupakan ciri dia yang kedua. Ketika hal itu saya komunikasikan dengan isterinya, Bu Tris menjawab suaminya selalu mengingatkan bahwa harta sedikit tetapi diperoleh secara halal akan membuat kehidupan lebih tenteram dibanding harta banyak tetapi diperoleh dengan cara tidak halal.
Dua mantan atasan Pak Tris memberi komentar tentang mengapa karier Pak Tris meroket naik. Pak Tris itu orangnya sangat baik karena jujur, pekerja keras, dapat bekerjasama dengan orang lain, dan banyak ide untuk memecahkan masalah. Apakah memang benar Pak Tris memiliki kemampuan seperti itu, rekan selevel Pak Tris pada umumnya mengiyakan. Jadi itu merupakan ciri ketiga Pak Tris, sehingga sukses dalam bekerja sebagai birokrat.
Ketika ada kesempatan agak longgar, saya menanyakan mengapa Pak Tris bersusah payah sekolah sampai jenjang pascasarjana, padahal sudah begitu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Dan mengapa dia memilih kuliah S2 di perguruan tinggi yang konon cukup sulit kelulusannya. Jawaban Pak Tris sungguh mengagetkan. Justru di universitas, baik saat kuliah dengan dosen, membaca referensi, menyusun makalah, maupun saat diskusi dengan rekan mahasiswa itulah, dia merasa mendapatkan banyak gagasan untuk memperbaiki pekerjaan dan memecahkan masalah yang dihadapi di kantor. Oleh karena itu Pak Tris memilih perguruan tinggi yang justru dikenal ”sulit” lulus untuk mengambil jenjang S2 dan bukan memilih perguruan tinggi yang dikenal ”mudah” kelulusannya. Seakan ingin menegaskan, Pak Tris mengatakan dia kuliah untuk memperoleh tambahan pengetahuan dan bukan sekadar memperoleh ijazah. Jadi belajar dengan sungguh-sungguh merupakan ciri ke empat kesuksesan Pak Tris.
Bu Candra Guru Idola
Setelah memperoleh gambaran yang cukup lengkap dari ketiga orang sukses tersebut di atas, terasa masih ada yang kurang, yaitu belum ada contoh perempuan yang sukses dan belum ada yang mewakili profesi yang tidak menjanjikan dari aspek penghasilan. Oleh karena itu, saya mencari ibu guru yang sukses untuk diamati. Dari beberapa informasi akhirnya didapat sosok Ibu Chandra (nama samaran). Menurut informasi, Bu Chandra berumur sekitar 35 tahun dan merupakan guru yang merangkap wakil kepala sekolah. Dia sangat pandai, kreatif, pekerja keras, disenangi oleh siswa maupun rekan kerjanya, sehingga di usia yang relatif mudah sudah ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah dan banyak diminta oleh rekan sejawat sebagai narasumber dalam berbagai diskusi.
Ketika bertemu, kesan pertama dari Bu Chandra adalah orangnya ramah, enerjik, orang yang sibuk dan banyak teman. Bu Candra ternyata pernah mengikuti suatu seminar, di mana saya menjadi salah satu penyaji, sehingga dia sudah merasa kenal dengan saya. Oleh karena itu, Bu Candra bersedia untuk diajak diskusi beberapa kali, asal tidak mengajar dan tidak ada tugas yang mendesak.
Dari diskusi beberapa kali, dapat ditangkap bahwa ciri pertama Bu Candra adalah ramah dan banyak ide/gagasan, khususnya untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kemampuan Bu Candra dalam berkomunikasi sangat bagus. Dia dapat memilih kata-kata yang tepat, disampaikan dengan santun, dengan intonasi yang jelas, sehingga pendengar yakin akan gagasan yang disampaikan. Oleh karena itu, dapat dipahami jika banyak gagasan Bu Candra yang diterima oleh sekolahnya atau rekan sejawatnya.
Gagasan-gagasan tersebut kemudian diwujudkan, walau kadang harus merogoh kantong sendiri, sebelum sekolah menggantinya. Dengan melihat beberapa karya yang dihasilkan, saya setuju dengan masukan rekan kerjanya, bahwa Candra pekerja keras danberani mengambil risiko. Itulah ciri kedua Bu Candra, sehingga membuat dia berhasil sebagai guru. Kepala sekolahnya mengatakan bahwa Bu Candra adalah tipe guru yang banyak ide dan konsekuen, artinya tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga melaksanakannya.
Ketika berdiskusi, tiba-tiba Bu Candra menyodorkan naskah tulisan seseorang berupa print out komputer. Ternyata naskah itu diambil Bu Candra dari home page tertentu. Saya sempat tertegun ada guru yang ternyata mencari referensi melalui home page. Pada hal, mahasiswa program S3 banyak yang enggan melakukan dengan berbagai alasan. Setelah mendiskusikan naskah tersebut, saya baru paham bahwa Bu Chandra banyak membaca, sehingga walaupun secara formal berpendidikan S1, tetapi pengetahuannya mungkin setara dengan lulusan S2. Jadi ciri ketiga Bu Candra adalah kemampuannya untuk belajar terus dengan berbagai cara.
Ciri ke empat Bu Candra adalah kemampuan kerja sama dengan orang lain. Beberapa teman yang mengusulkan Bu Candra sebagai contoh guru yang sukses, sebenarnya sudah menyebutkan bahwa dia mudah bekerja sama dengan orang lain. Setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi, saya mempercayai hal itu.
Setelah mendapatkan ciri-ciri empat orang yang sukses dalam profesinya, marilah kita bandingkan dengan ciri-ciri yang diutarakan oleh para peserta penataran dan mahasiswa pascasarjana yang disebutkan terdahulu.
Tabel 1.
Perbandingan Ciri-ciri Orang Sukses
Ciri Orang Sukses Menurut Pendapat Peserta Penataran dan Mahasiswa Pascasarjana
Ciri Orang Sukses Menurut Hasil Observasi dan Wawancara Saya thd 4 Orang Sukses
beriman dan taat beribadah. jujur. menguasai bidang pekerjaan yang ditekuni. kerja keras. ulet dan pantang menyerah. kreatif dan pandai memecahkan masalah. bertanggung jawab. berpengetahuan luas. pandai bekerjasama dengan orang lain. memiliki hubungan yang luas. berani mengambil risiko. pandai mengambil keputusan. tegas dalam memimpin. suka menolong. toleran. tidak usil terhadap urusan orang lain.
jujur disiplin bertanggung jawab. kerja keras dan sungguh-sungguh dalam bekerja. menguasai bidang pekerjaannya. tekun dan teliti dalam bekerja banyak ide, kreatif dan pandai memecahkan masalah. sabar pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. selalu belajar terus untuk meningkatkan pengetahuan yg terkait dengan profesinya. tegas dalam memimpin. mampu menjadi teladan bagi anak buah. suka menolong dan memperhatikan kepentingan orang lain. mampu berkomunikasi dengan bagus. mudah bekerjasama dengan orang lain. mampu mengelola emosi dengan baik. berani mengambil risiko.
Sungguh mengejutkan, karena ciri-ciri orang sukses versi peserta penataran dan mahasiswa pasca sarjana sangat mirip dengan hasil observasi dan wawancara dengan ”4 orang sukses”. Tentu istilah yang digunakan berbeda, tetapi intinya sangat mirip. Misalnya berpengetahuan luas yang diajukan peserta penataran identik dengan selalu belajar terus untuk meningkatkan pengetahuan yg terkait dengan profesinya. Memiliki hubungan luas identik dengan mampu berkomunikasi dengan baik yang disertai dengan mampu bekerja sama dengan banyak orang.
Ciri yang diajukan oleh peserta penataran, tetapi tidak muncul dari hasil observasi dan wawancara adalah beriman dan taat beribadah. Namun hal itu, hanyalah masalah penekanan. Pak Badrun saya yakini orang yang taat beribadah. Demikian pula Pak Wahyu dan Pak Tris. Memang saya tidak mengamati Bu Chandra, tetapi dari kejujuran dan perilakunya, dapat diduga kuat dia juga taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
Dari uraian di atas, secara induktif kita telah menemukan sikap dan perilaku yang menjadi kunci seseorang, sehingga yang bersangkutan sukses dalam kehidupan. Sukses tidak hanya dalam aspek materi dan karier, tetapi juga dalam sosial kemasyarakatan. Bahkan dari aspek ibadah, yang menjadi sumber nilai-nilai kehidupan. Kita sebut saja sikap dan perilaku tersebut dengan kecakapan hidup atau life skill, karena kecakapan atau skill itulah yang ternyata menyebabkan seseorang sukses dalam kehidupannya.
Pertanyaannya kini, apakah sekolah telah mengajarkan dan menumbuhkembangkan ciri-ciri orang sukses tersebut kepada siswa? Rasa-rasanya belum atau bahkan masih jauh dari itu. Saya juga terkejut, karena dalam mengajar dan memberi kuliah selama lebih dari 25 tahun, tidak membayangkan bahwa kemampuan itulah yang sebenarnya diperlukan siswa atau mahasiswa untuk menggapai sukses dalam kehidupan.
Untuk menemukan gambaran apakah kecakapan hidup yang menjadi kunci orang sukses tersebut sudah dikembangkan di sekolah, saya mengajukan pertanyaan kepada para peserta penataran, tentang teman sekolah di SD, SMP, SMA/SMK atau kuliah yang kini dianggap paling sukses di antara teman lainnya. Mereka diminta untuk memilih teman sekolahnya, yang kini dianggap paling sukses. Setelah menemukan, saya minta mereka mengingat bagaimana perilaku teman tersebut, saat masih sekolah. Apakah dia merupakan siswa/mahasiswa yang sering mendapat juara kelas? Apakah dia sering dipuji oleh bapak/ibu guru/dosen sebagai murid yang pandai?
Jawaban yang muncul, ternyata teman yang kini paling sukses tidak selalu mereka yang juara kelas. Bahkan sebagian besar mereka yang kini sukses adalah mereka yang nilainya biasa-biasa saja, tetapi aktif di kegiatan sekolah atau masyarakat, suka kotak-katik dan banyak akalnya, suka membantah, suka membandel dan berani mengambil risiko, sering menjadi pimpinan dalam kegiatan dan seringkali sudah sambil bekerja pada saat sekolah/ kuliah.
Setelah itu, saya minta mereka mengingat teman sekolahnya yang dahulu selalu mendapat ranking di kelas dan dipuji oleh bapak/ibu guru. Setelah ingat, saya meminta mereka menyebutkan apakah mereka sekarang sukses dalam kehidupannya. Jawaban yang muncul, tidak semua mereka yang dulu juara kelas kini sukses dalam kehidupannya. Memang ada juga yang sukses, tetapi tidak banyak. Kebanyakan hanya sedang-sedang saja dan bahkan diungguli oleh temannya yang dulu bukan juara kelas.
Jawaban tersebut seakan-akan membawa kita pada pendapat bahwa prestasi siswa di sekolah, yang ditunjukkan dengan nilai yang diperoleh siswa, bukan merupakan prediktor kesuksesan yang bersangkutan ketika memasuki kehidupan di masyarakat. Jika prestasi tersebut merupakan bentuk penguasaan apa yang dipelajari di sekolah, berarti apa yang dipelajari siswa di sekolah tidak cocok dengan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk mencapai sukses dalam kehidupan.
Oleh karena itu, dengan setengah berkelakar, saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan yang pada umumnya guru, kepala sekolah dan birokrat di bidang pendidikan, bahwa fakta tersebut menunjukkan kontribusi pendidikan terhadap kesuksesan siswa tidak terlalu besar, sehingga wajar jika para pendidik tidak mendapatkan penghasilan yang besar. Mengapa? Karena kontribusinya terhadap kesuksesan siswa kecil, maka wajar jika gaji pendidikan juga kecil.
Tentu ungkapan itu hanyalah kelakar, tetapi punya maksud untuk mendorong kita semua, para pendidik, untuk merenungkan fenomena bahwa apa yang selama ini kita lakukan di sekolah, ternyata tidak banyak memberikan bekal untuk kesuksesan hidup siswa. Siswa yang kemudian sukses setelah dewasa, justru mendapatkan bekal dari aktivitas keorganisasian, dalam pekerjaan yang digeluti sambil sekolah/kuliah, dalam aktivitas individu yang memaksa dia kerja keras, kotak-katik untuk menemukan inovasi dan bahkan kebandelannya.
Lebih menyedihkan, perbuatan seperti itu seringkali kurang disenangi oleh guru. Jika ada anak yang senang kotak-katik, membantah pendapat guru, aktif dalam aktivitas organisasi sosial kemasyarakatan dan sambil bekerja saat sekolah, guru sering mengingatkan agar lebih mementingkan pelajaran, sehingga tidak jatuh prestasinya. Seakan-akan aktivitas tersebut difahami berada ”di luar” kawasan pendidikan atau kurang penting dibanding mengikuti pelajaran di kelas. Padahal, uraian di atas menunjukkan, justru melalui kegiatan semacam itu siswa memperoleh kesempatan untuk memperoleh kunci orang sukses.
Di samping itu, pendidikan di sekolah seringkali diwarnai dengan arogansi mata pelajaran oleh guru. Setiap guru merasa mata pelajaran yang dibina begitu penting, sehingga kalau bisa minta ”jatah” jam pelajaran yang banyak. Karena diyakini penting, setiap guru meminta siswanya mempelajari banyak konsep dan teori dalam mata pelajaran tersebut. Seakan-akan setiap siswa harus sekaligus menjadi ahli Matematika, ahli Fisika, ahli Ekonomi, ahli Sejarah, ahli Bahasa Inggris dan sebagainya. Akibatnya siswa harus mempelajari begitu banyak konsep dan teori, walaupun sebenarnya tidak terlalu terkait dengan kehidupan yang dihadapi sehari-hari dan juga tidak terkait erat dengan kunci untuk menggapai sukses.
Praktik pendidikan di sekolah kini telah tereduksi menjadi wahana untuk menguasai materi ajar yang ada dalam buku, tanpa dipertanyakan apakah apa yang dipelajari tersebut bermanfaat bagi siswa, dalam menghadapi kehidupannya di masa datang. Oleh karena itu sangat wajar, kalau pendidikan tidak dapat memenuhi harapan orangtua, yaitu memberikan anak bekal untuk menggapai sukses. Bukankah orangtua menyekolahkan anaknya dengan harapan dapat memperoleh bekal untuk menggapai sukses, di kemudian hari? Oleh karena itu, dapat dipahami jika kemudian praktik pendidikan diprotes oleh Rendra, oleh Kiyosaki, oleh tetangga di kampung halaman, oleh petani di Lamongan dan oleh nelayan di Pasuruan.
Mengapa hal itu terjadi? Mengapa praktik pendidikan di sekolah jauh dari harapan? Bukankah menurut para ahli, pendidikan adalah upaya membantu peserta didik untuk mengembangkan diri guna menghadapi masa depannya? Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara. Namun filosofi pendidikan yang dirumuskan para ahli dan definisi pendidikan yang tercantum dalam UUSPN 20/2003 tersebut tidak terimplementasikan dalam praktik pendidikan di sekolah. Praktik pendidikan di sekolah telah tereduksi menjadi sebuah proses mekanistik yang bertujuan untuk memasukkan mata pelajaran ke benak siswa, tanpa dipikirkan apakah itu akan menjadi bekal penting bagi kehidupan siswa di masa datang atau tidak.
Jika hal itu yang terjadi, apakah yang dapat kita lakukan? Apa yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang merasa ahli dan juga menganggap dirinya peduli pada pendidikan? Tampak gagasan Michel Porter, bahwa dalam berinovasi kita tidak boleh hanya berpikir how to do tetapi harus berpikir what to do berlaku untuk pendidikan. Untuk memperbaiki praktik pendidikan, kita tidak cukup berpikir bagaimana metoda pembelajaran yang baik, tetapi juga mempertanyakan apakah materi yang dipelajari siswa di sekolah, telah sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menggapai sukses. []
Dalam sebuah kesempatan, saya pulang kampung untuk berlibur. Secara tak sengaja menjumpai fenomena yang sangat menarik. Fenomena yang perlu direnungkan oleh siapa saja yang merasa peduli dengan dunia pendidikan. Kampung halaman saya berada di wilayah pedesaan perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah, jauh dari kebisingan kota dan merupakan daerah pertanian yang cukup subur. Saat itu merupakan masa tanam padi, sehingga warga desa beramai-ramai menggarap sawah, untuk mempersiapkan penanaman benih padi. Tidak jauh dari persawahan itu, terdapat pasar desa yang walaupun pasar krempyeng, yaitu pasar yang hanya ada kegiatan di pagi hari sampai sekitar jam 10.00, tetapi cukup ramai. Di pasar itulah pada umumnya masyarakat menjual hasil pertanian dan membeli kebutuhan sehari-hari.
Di saat menikmati pemandangan sawah dengan air berlimpah, beberapa kelompok wanita giat menanam benih padi, beberapa pria mencangkul, membajak dan menggaru, saya melihat sekelompok anak muda sedang asyik bercengkerama di poskamling. Dari cara mereka berpakaian, terkesan tidak seperti lazimnya pemuda desa yang sedang ke sawah, tetapi lebih mirip dengan anak muda perkotaan. Mereka memakai T-shirt dengan gambar khas anak muda masa kini dan bercelana jin atau celana biasa yang sudah “belel”.
Didorong rasa ingin tahu, saya mendatangi mereka dan ikut nimbrung ngobrol bersama. Mereka ramah, mudah akrab dan bahkan tampak senang saat saya bergabung sambil menanyakan hal ini dan itu. Mereka juga ganti bertanya tentang Surabaya tempat saya selama ini tinggal. Dari obrolan santai, saya jadi tahu kalau ternyata mereka itu tetangga saya di kampung, bahkan seorang di antaranya masih terhitung kerabat. Melalui obrolan itu, saya tahu bahwa mereka itu semuanya warga asli kampung setempat. Dari lima anak muda itu, seorang di antaranya mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, seorang lainnya lulusan SMK, dua orang lagi lulusan SMA dan seorang terakhir lagi drop out SMK.
Mereka sedang mengobrolkan sinetron yang sedang gencar ditayangkan televisi, diselingi kelakar khas anak muda.
“Mengapa tidak ikut membantu orangtua ke sawah?” saya mencoba memancing tanya.
“Ya, gimana ya..” salah seorang dari mereka menjawab sementara teman yang lain turut tersenyum. Dengan malu-malu dan terbata-bata akhirnya dia melanjutkan jawaban, “Mosok Pak, lulusan SLTA bekerja di sawah, mestinya kan bekerja di kantor atau di pabrik.”
Saya juga menangkap kesan bahwa mereka menganggap pekerjaan sebagai petani dan pedagang di pasar desa adalah pekerjaan rendahan, sehingga tidak cocok bagi mereka. Agaknya anak-anak muda itu berharap kelak akan mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai kantor atau sebagai karyawan pabrik di kota.
Kesan itu bertambah kuat, ketika saya mencoba mendengarkan obrolan mereka lebih jauh. Materi yang diobrolkan bukan lagi bernuansa pedesaan. Mereka asyik berbincang soal bagaimana “mengakali” polisi lalu lintas agar tidak kena tilang, ngomong soal grup musik Slank yang baru saja digelar di kota dan sejenisnya. Salah seorang tampak bangga sekali menyebut dirinya sebagai Slanker. Obrolan khas pemuda perkotaan. Gaya bicara dan idiom-idiom yang digunakan hingga pakaian dan asesori yang disandang sangat mirip anak muda di perkotaan. Jika tidak mengetahui siapa mereka, orang akan menduga mereka itu pemuda dari kota yang sedang berlibur ke desa.
Ketika saya mencoba memancing dengan pertanyaan, mengapa para petani tidak memanfaatkan sawah untuk memelihara ikan lele sambil ditanami padi dan mengapa pasar desa tidak punya toko yang buka sampai sore hari, supaya warga desa dapat mudah membeli kebutuhan sehari-hari, mereka tidak memberi tanggapan yang serius. Sepertinya, anak-anak muda itu tidak lagi tertarik untuk mencermati keadaan di pedesaan sekitarnya. Ketika ditawarkan ide, bagaimana kalau di desa dibuat alat untuk mengolah tomat menjadi saus, dengan alasan banyak hasil panen tomat tetapi harganya murah, sementara harga saus cukup mahal, mereka juga tidak memberi respon memadai. Justru mereka lebih memilih bertanya, bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan di Surabaya atau menjadi tenaga kerja (TKI) di luar negeri.
“Apa rencana kalian ke depan?”
“Saya ingin mencari pekerjaan ke kota atau mungkin ke luar negeri,” kata seorang dari mereka.
“Saya sudah mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan di kota, tapi belum ada jawaban,” kata yang lain. Salah seorang bahkan sudah merencanakan akan ke Malaysia. “tapi masih menunggu biaya, mau dijualkan tanah dulu.”
“Lho, apa uang hasil penjualan tanah tersebut tidak lebih baik untuk modal berdagang atau membuka toko di pasar desa?”
Pria itu cuma tersenyum. Kentara sekali dia tidak tertarik. Sepertinya kehidupan desa sudah dianggap masa lalu yang harus ditinggalkan dan menggantinya dengan kehidupan baru di kota atau bahkan di luar negeri.
Merasa tidak puas dengan jawaban dari anak-anak muda yang masih tetangga sendiri itu, saya berkeinginan menanyakan kepada para orangtuanya. Secara kebetulan besuknya ada tetangga yang mengadakan kenduri, sehingga ada ajang untuk bertemu dengan mereka. Dengan bahasa sederhana, kejadian di poskamling tadi saya ungkap kembali. Sangat mengejutkan, mereka tidak menjawab, tetapi justru balik bertanya dan bermuatan setumpuk keluhan. Berikut ini di antaranya:
”Mengapa setelah sekolah anak-anak saya justru ora ngerti gawean (tidak mengerti pekerjaan yang seharusnya dikerjakan).”
“Mengapa anak-anak yang disekolahkan dengan menguras biaya, sekarang malah jadi beban. Mereka tidak mau membantu kerja dan selalu minta uang. Alasannya untuk cari kerjaan di kota”.
“Mengapa setelah sekolah, anak-anak jadi kurang menghargai orangtua?”
Saya sampai gelagapan untuk menjawab, karena keluhan tidak hanya datang orangtua dari pemuda yang pagi harinya ngobrol di poskamling, tapi juga dari peserta kenduri lainnya. Dari obrolan di arena kenduri itu terungkap kekecewaan mereka terhadap anak-anaknya yang bersekolah di kota. Sampai-sampai muncul ungkapan, untuk apa anak harus sekolah, jika hasilnya seperti itu. Ketika memasukkan anak ke sekolah, orangtua berharap anak-anaknya akan menjadi “orang”, yaitu pandai dan memperoleh pekerjaan yang “terhormat” dan tidak seperti orangtuanya yang hidup susah sebagai petani. Kenyataannya, setelah lulus mereka tidak memperoleh pekerjaan dan justru menyusahkan orangtua. Setengah berkelakar, ada peserta kenduri yang mengatakan “menyesal” menyekolahkan anak sampai menjual sapi, kalau ternyata hasilnya seperti itu.
*
Pertanyaan dan ungkapan warga desa itu terus membebani pikiran. Ketika beban tersebut belum terurai, dua hari berikutnya saya menjumpai fenomena yang juga sangat menarik. Hari itu hari Minggu, saya bermaksud jalan-jalan ke pasar desa dengan ditemani keponakan yang masih kelas 2 SD. Ketika melintas di poskamling, tampak banyak anak-anak muda yang ramai bercengkerama, jumlahnya lebih banyak dibanding dua hari sebelumnya, sehingga sebagian duduk pada buk, yaitu pagar pendek pengaman gorong-gorong sungai. Setelah dekat tampak bahwa mereka adalah para remaja.
Terdorong rasa ingin tahu apa yang mereka kerjakan, saya membatalkan niat jalan-jalan ke pasar desa dan ikut nimbrung duduk-duduk di dinding gorong-gorong. Ternyata mereka adalah anak-anak setempat yang umumnya sedang duduk di SMP dan MTs. Hari Minggu tampaknya dimanfaatkan untuk santai dan bercengkerama di poskamling. Tiga anak yang duduk di buk ternyata siswa SMP dan sedang mendiskusikan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang akan diikuti oleh kelompoknya di sekolah. Mereka sedang mencari topik apa yang akan dijadikan penelitiannya. Topik-topik yang didiskusikan pada umumnya terkait dengan IPA, khususnya yang dekat-dekat dengan elektronika. Salah topik yg hangat dibicarakan adalah akan membuat alat yang dapat mengatur lampu listrik di rumah dapat menyala dan mati secara otomatis.
Ketika diskusi berhenti, sambil menunjuk ke aliran sungai di bawah tempat duduk, saya bertanya: “Mengapa air sungai berwarna coklat?”. Ketiga anak saling pandang, dan seorang menjawab, “karena tadi malam hujan lebat.” Ketika saya kejar dengan pertanyaan “mengapa ya, kalau terjadi hujan lebat air sungai menjadi coklat”, tidak muncul jawaban. Setelah agak lama, saya bertanya lagi: “Mengapa di bawah rumpun bambu tidak tumbuh rumput?”, sambil menunjuk lahan di samping poskamling. Ternyata juga tidak muncul jawaban.
Setelah menunggu beberapa saat, saya memancing dengan pertanyaan: “Apa untuk tumbuh rumput perlu sinar matahari ya?”. Hampir bersamaan, ketiga remaja itu mengiyakan dan salah seorang meneruskan bahwa semua tumbuhan tidak akan subur kalau tidak ada sinar matahari. “Mengapa pada awal musim tanam padi, petani selalu memotong dahan pohon di pinggir sawah?”. Mereka menjawab, agar dedaunan pohon tidak menutupi padi yang baru ditanam, sehingga padi mendapat cukup sinar matahari.
Setelah itu, saya menunjuk air sungai dan bertanya: “Apa yang dikandung air sungai sehingga berwarna coklat?”. Mereka menjawab, air tersebut mengandung lumpur. Ketika ditanyakan, bagaimana air sungai dapat mengandung lumpur, mereka menjawab bahwa lumpur berasal dari gunung yang terbawa oleh air hujan.
Dari sudut pandang pendidikan, tanya jawab dengan siswa SMP tersebut menarik. Mereka sebenarnya punya pengetahuan tetapi tidak dapat mengaitkan dengan fenomena alam yang dihadapi. Mereka mengerti kalau tanaman memerlukan sinar matahari untuk dapat tumbuh dengan baik. Mereka tahu kalau air sungai berwarna coklat karena mengandung lumpur. Namun demikian, mereka tidak dapat atau tidak terbiasa mengaitkan pengetahuan itu dengan fenomena alam yang dihadapi. Mereka baru mengetahui kaitan tersebut, setelah dipancing-pancing dengan pertanyaan tertentu.
Setelah sekitar satu jam, kemudian saya ganti bergabung dengan anak-anak yang berada di dalam poskamling. Ketika itu, ada seorang anak yang datang dari pasar dan membawa beberapa buah mangga. Saat ditanya berapa harga mangga itu, dia menyebut angka tertentu yang cukup mahal.
”Mengapa sekarang harga mangga begitu mahal?”
”Karena tidak musim panen mangga.”
“Mengapa kalau tidak panen harganya mahal?” saya mengejar.
“Ya, memang begitu, kalau sedang tidak musim harganya selalu mahal.”
Fenomena kedua di atas sungguh menarik untuk direnungkan. Pertama, ternyata anak-anak yang tidak membantu orangtuanya ke sawah tidak hanya mereka yang sudah tamat SLTP atau SLTA, tetapi juga mereka yang masih bersekolah. Di hari Minggu, mereka lebih sedang bercengkerama di poskamling, sementara orangtua mereka bekerja di sawah tanpa mengenal hari libur. Memang mereka tidak mengatakan bertani itu pekerjaan rendah dan kurang cocok bagi anak SMP/SMA/SMK, tetapi perilaku mereka menunjukkan kekurangpekaan terhadap beban pekerjaan keluarga. Mereka bersantai bersama temannya, sementara orangtua mereka membanting tulang di sawah di dekat mereka.
Kedua, pikiran anak-anak itu tidak membumi di lingkungan sekitarnya. Walaupun mereka sedang berpikir tentang LKIR, yang dipikirkan ternyata bukan hal-hal yang terdapat di lingkungannya. Mereka memikirkan teknologi elektronika yang dipelajari di sekolah, tetapi justru tidak tertarik atau bahkan tidak paham tentang fenomena yang ada di sekitarnya. Mereka tidak dapat menjelaskan mengapa ketika terjadi hujan lebat air sungai berwarna coklat dan mengapa lahan yang terlindung kerindangan rumpun bambu tidak ditumbuhi rumput. Padahal kedua fenomena tersebut tentunya dipelajari dalam pelajaran di SMP atau bahkan SD, dan layak dibuat bahan LKIR. Demikian pula, mereka tidak dapat menjelaskan mengapa harga mangga saat panen murah dan pada saat tidak musim panen berubah menjadi mahal.
Kejadian itu membuat saya merenungkan, apa yang salah salah dalam pendidikan kita? Mengapa setelah sekolah, anak-anak justru berperilaku seperti itu? Perenungan itu mengingatkan saya kepada kejadian sekitar tahun 1994, ketika diminta oleh pemerintah untuk membantu melakukan sosialisasi program Wajib Belajar 9 Tahun. Di suatu daerah pinggir selatan dari Kabupaten Lamongan, saya berusaha meyakinkan masyarakat yang tinggal di Desa Bluluk Kecamatan Sukorame, agar menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai tamat SMP. Desa Bluluk merupakan desa ”miskin” yang berada di pinggiran hutan. Pada umumnya masyarakat bekerja sebagai petani dan anak-anak mereka membantu bekerja ke sawah atau menggembala sapi atau kambing ke pinggiran hutan.
Pada suatu sore saya terlibat ”diskusi” dengan dua orang warga Bluluk yang sedang menunggui kambing mereka di pinggiran sawah. Sesuai dengan tugas yang diemban, sore itu saya berusaha meyakinkan dua warga Bluluk tersebut tentang betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Anak-anak yang bersekolah akan memiliki pengetahuan yang sangat berguna untuk kehidupannya di masa datang. Dengan bersekolah anak-anak akan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang baik, sehingga nanti dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik dibanding orangtuanya yang dulu tidak sempat sekolah.
Setelah terjadi tanya jawab tentang berbagai hal, di akhir pertemuan itu salah seorang dari mereka berkata: ”Pak kalau anak saya sekolah ke SMP, saya tentu menjual kambing untuk biaya. Kalau nanti sudah lulus, apa dia bisa membeli kambing? Padahal, kalau dia tidak sekolah tentu dapat menggembala kambing ke sawah atau hutan dan setiap tahun akan memperoleh anak kambing.
Sebagai seorang yang saat itu baru selesai menempuh program doktor dan sangat yakin akan manfaat akan pendidikan, saya berusaha meyakinkan kedua warga Bluluk itu bahwa anak yang bersekolah nantinya akan memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik, dibanding yang tidak bersekolah. Ketika nanti sudah dewasa dan bekerja, anak yang bersekolah akan mampu membeli kambing dan bahkan sapi. Namun, sampai pertemuan berakhir karena sudah mendekati saat Maghrib, toh kedua warga Bluluk itu tetap saja tidak memahami apa yang saya jelaskan.
Pada saat itu, saya berpendapat bahwa pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan naif dan tolol yang hanya diajukan oleh orang tidak terdidik yang tinggal di daerah terpencil. Tetapi ketika dihadapkan fenomena anak-anak muda ”terdidik” yang ternyata justru mengecewakan orangtuanya, saya kemudian justru bertanya kepada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang diomongkan warga Bluluk itu justru benar, realita yang terjadi di lapangan. Hanya saja, dia tidak dapat mengungkapkan dengan argumentasi yang bagus dan saat itu saya dihinggapi ”kesombongan intelektual”, maka statemen warga desa itu menjadi kelihatan bodoh.
Sekembali ke Surabaya, saya berusaha membongkar lagi dokumen kegiatan di Bluluk dan Sukorame Lamongan untuk mengetahui bagaimana trankrip ”diskusi” saat itu. (Pada saat itu, setiap pertemuan, obrolan, dan diskusi wajib dibuat transkripnya, sebagai bahan pengambilan simpulan dan kebijakan untuk langkah selanjutnya). Ketika menemukan dan membaca transkrip, saya menjadi terkejut. Ternyata ungkapan-ungkapan yang mirip pertanyaan tetangga di kampung itu, juga sudah terungkap ketika kami melakukan sosialisasi Wajar 9 Tahun di Lamongan. Secara jujur saya harus mengakui saat itu tidak mampu menangkap apa yang dirisaukan oleh masyarakat tentang pendidikan kita. Dalam bahasa sekarang, saya ternyata termasuk yang ”telmi” (telat/terlambat mikir) dibanding warga Bluluk.
Ya, apa yang salah dalam pendidikan kita? Mengapa anak-anak yang sekolah sampai SMP, SMA, SMK dan justru perguruan tinggi, justru menjadi beban orangtua? Mereka justru mengecewakan orangtuanya, karena tidak mau lagi membantu bekerja ke sawah atau ke pasar dan justru gemar duduk-duduk sambil ngobrol? Betulkah pemikiran Ivan Illich tentang deschooling society? Betulkah sekolah merupakan candu? Bukankah melalui pendidikan, anak belajar ilmu pengetahuan yang nantinya akan sangat penting untuk bekal menghadapi kehidupan setelah dewasa? Bukankah pendidikan merupakan wahana untuk mencerdaskan bangsa? Bukankah negara yang memperhatikan bidang pendidikan biasanya maju dalam bidang ekonomi maupun perkembangan ilmu pengetahuan? Bukankah Malaysia yang sejak tahun 1970-an melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pendidikan, kini terbukti menjadi negara yang relatif maju di kawasan Asia Tenggara dan merupakan negara yang diperhitungkan dunia?
Pertanyaan itu berminggu-minggu melingkar-lingkar dibenak. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab dengan baik, saya kembali ditohok dengan sebuah pertanyaan seorang nelayan di daerah Pasuruan. Saat itu saya sedang bermobil bersama beberapa kawan sepulang bertugas di daerah Situbondo. Karena mengemudi sendiri dari Situbondo ke Surabaya dan merasa payah, saya memutuskan untuk istirahat di suatu pantai di mana banyak nelayan tradisional sedang istirahat. Siapa tahu dapat membeli ikan segar hasil tangkapan mereka.
Sambil melepas lelah, saya mendatangi beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaring dan mengurus perahu sehabis melaut. Sambil menawarkan rokok, saya berusaha untuk ikut nimbrung mengobrol untuk mengetahui apa yang mereka kerjakan, bagaimana hasil tangkapan ikan hari itu dan bagaimana kehidupan nelayan di daerah itu.
Setelah menjawab pertanyaan saya tentang berbagai hal, tampaknya para nelayan ingin tahu apa pekerjaan saya dan apa maksudnya menanyakan berbagai hal tentang kehidupan nelayan. Nah, setelah tahu bahwa saya seorang pendidik (dosen) salah seorang di antara mereka mengajukan keluhan tentang anaknya.
”Anak saya dua orang. Satu orang –itu- yang sedang memperbaiki jaring.” katanya sambil menunjuk anak muda yang tekun memperbaiki jaring di bawah pohon.
”Yang satu sedang sekolah di SMP. Saya sekolahkan, ke SMP karena diperintah oleh Kepala Desa. Pak, tetapi saya sekarang bingung, karena anak saya yang sekolah justru tidak mau kalau diajak bekerja. Dia sukar kalau diajari bagaimana mengarahkan perahu saat di laut dan tidak pandai kalau disuruh memilih ikan. Mengapa begitu, Pak? Bukankah seharusnya dia lebih pandai karena belajar sampai SMP? Mengapa justru kalah dibanding kakaknya, yang hanya sampai kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah?”
Walaupun diajukan dalam bentuk pertanyaan dan diungkapkan dalam bahasa daerah yang santun, toh isinya tetap saja bernuansa menggugat. Protes kepada saya, yang sebelumnya sambil bertanya tentang ini dan itu, secara tidak sengaja menganjurkan agar para nelayan menyekolahkan anaknya, dengan harapan nantinya dapat menjadi nelayan modern. Terbayang di benak saya, jika anak-anak nelayan itu mendapat pendidikan yang baik, nantinya akan menjadi nelayan modern yang memiliki perahu bermesin dengan peralatan modern, sehingga mampu mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Bahkan mampu mengelola hasil tangkapan tersebut dengan baik dan tidak dicengkeram oleh para tengkulak ikan, seperti nasib orangtuanya.
Mendapatkan pertanyaan telak seperti itu, kembali saya tidak mampu memberi penjelasan yang baik, kecuali jawaban yang bersifat normatif, yaitu jika anak-anak bersekolah akan mendapatkan bekal ilmu pengetahuan yang nantinya sangat bermanfaat untuk memperbaiki kehidupannya sebagai nelayan di masa datang. Sebuah jawaban normatif itu tentu tidak memuaskan sang penanya. Saya sendiripun dalam hati sebenarnya juga ragu betulkah jawaban itu.
Kumpulan keluhan, suara-suara rakyat desa itu kembali menggumpalkan pertanyaan besar: Apa yang salah dengan pendidikan kita, sehingga mereka merasa bahwa ketika anaknya sekolah justru ”kurang pandai” dibanding yang tidak sekolah? Apa yang salah dengan pendidikan kita, sehingga perilaku anak-anak yang sekolah justru kurang baik?
Beberapa waktu kemudian, saya diminta untuk mengembangkan suatu program pendidikan di Depdiknas dan melalui program tersebut saya dapat sering bertemu dengan para guru dan kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam berbagai kesempatan saya ingin mendapatkan konfirmasi apakah fenomena yang saya jumpai di lapangan juga terjadi di daerah mereka. Sungguh mengagetkan, ternyata sebagian besar guru dan kepala sekolah juga menyatakan hal yang sama. Mereka menegaskan bahwa anak-anak yang tamat atau drop out dari SMP, SMA dan SMK seringkali justru tidak mau membantu orangtuanya bekerja ke sawah, mencari ikan ke laut atau berdagang di pasar. Bahkan seringkali mereka membuat keonaran di kampung, karena menganggur.
Tetapi ketika ditanyakan, jangan-jangan pendidikan kita keliru, sehingga menyebabkan hal-hal tersebut, pada umumnya mereka menolak. Mereka merasa pendidikan yang dilaksanakan sudah betul, tetapi sempitnya lapangan kerja yang menyebabkan anak-anak frustrasi dan kemudian berbuat yang aneh-aneh di kampung. Ketika ditanyakan, mengapa mereka tidak mau kembali bertani, bekerja sebagai nelayan atau pedagang di pasar, para guru pada umumnya menyatakan bahwa memang seharusnya mereka memperoleh pekerjaan yang lebih ”baik” dan tidak kembali bertani atau melaut seperti orangtuanya yang dulu tidak sekolah.
Walaupun jawaban tersebut kadang-kadang dibantah oleh guru lainnya, tetapi sebagian besar guru yang saya jumpai menyetujui pendapat tersebut. Jadi tampaknya, apa yang diutarakan anak-anak muda tetangga di kampung, tentang mengapa tidak mau membantu orangtuanya ke sawah, sama dengan pendapat sebagian besar para guru. Mungkinkah memang itu yang menjadi pemahaman kita tentang pekerjaan? Betulkah petani, nelayan dan pedagang di pasar itu ”pekerjaan rendah” dan kurang cocok bagi anak-anak yang sudah tamat SMP atau SMA/SMK? Betulkah setelah tamat SMP atau SMA/SMK seseorang harus menjadi pegawai atau karyawan di kota?
Agaknya memang ada sesuatu yang tidak beres dalam pendidikan kita, sehingga alumni sekolah menengah bahkan sarjana tidak tahu apa yang harus dikerjakan.
*
Suatu saat saya berjumpa dengan seorang teman lama saat sekolah di SMP. Dia kini menjadi pedagang yang sukses. Saya bertanya apakah anak-anaknya juga berperilaku memprihatinkan seperti itu, dia memberi jawaban yang sungguh sangat menarik. Dia menyatakan, pendidikan saat ini terlalu teoritik dan tidak terkait dengan kehidupan nyata.
”Anak-anak banyak belajar Matematika, IPS dan sebagainya, tapi yang dipelajari itu tidak cocok dengan bagaimana cara berdagang agar dapat untung besar. Kerja keras, ulet, dan berpikir dengan cepat tidak dipelajari di sekolah, padahal itu penting bagi pedagang. Karena itu, anak-anak saya, saya ajari sendiri di rumah dengan cara saya ajak praktek langsung di toko”.
Ungkapan teman pedagang tersebut, sedikit-banyak memberi gambaran apa yang sebenarnya terjadi pada pendidikan kita selama ini, dari sudut pandang seorang pedagang yang sukses. Pendidikan kita tampaknya kelewat teoritik, seperti di awang-awang, tidak membumi, dan memisahkan siswa dari kehidupan sehari-hari. Pendidikan kita tidak membekali siswa bagaimana menghadapi kehidupan nyata di masyarakat, sehingga menyebabkan mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan, kecuali belajar dari buku, bersenang-senang ala kehidupan anak kota dan setelah lulus ingin meneruskan sekolah atau mencari pekerjaan dengan bekal selembar ijazah. Oleh karena itu sangat wajar jika orangtua mereka mempertanyakan ”untuk apa anak harus sekolah, jika setelah itu justru menjadi beban orangtua”.
Mencoba memahami hal itu, saya menjadi ingat sebuah sajak karya penyair besar W.S. Rendra dengan judul Sajak Seonggok Jagung, yang selengkapnya sebagai berikut:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dari suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar …
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja.
Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”
(Dikutip dari: Potret Pembangunan dalam Puisi, 1975)
Ternyata Rendra telah merasakan ketidakberesan pendidikan kita sejak tahun 1970-an. Sebagai budayawan Rendra, tampak sangat peka terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, termasuk hal-hal yang terkait dengan pendidikan. Para pendidik, termasuk saya justru tidak merasakan ketidakberesan itu dan tetap bersikukuh bahwa pendidikan yang dipraktekkan selama ini sudah benar. Tetapi, dengan fenomena anak muda di kampung halaman, yang menurut banyak guru juga terjadi di daerah mereka, kita perlu merenungkan betulkah pendidikan yang selama ini kita praktekkan di sekolah sudah benar?
Tampaknya kerisauan terhadap praktek pendidikan tidak hanya terjadi di Indonesia. Robert T. Kyosaki, orang Jepang kelahiran Hawai yang kini terkenal dengan bukunya Rich Dad Poor Dad, juga mempertanyakan isi pendidikan di negaranya, dengan menulis buku yang dengan judul provokatif: If you want to be rich and happy, don’t go to school. Dalam buku itu, Kyosaki menyimpulkan pendidikan selama ini tidak memberikan bekal untuk menghadapi kehidupan nyata. Walaupun terkesan bahwa Kyosaki mempersempit makna hidup dengan mencari kekayaan materi, tetapi ungkapannya tentang pendidikan sangat rasional.
Pertanyaan yang muncul, jangan-jangan pendapat Rendra dan Kyosaki tersebut benar, karena juga didukung oleh fakta di lapangan. Kalau ternyata memang praktek pendidikan selama ini justru mencabut anak-anak dari kehidupan nyata, lantas apa yang harus kita perbuat? Sudah saatnya, kita yang merasa sebagai pendidik atau orang yang peduli pendidikan, mencari solusi agar pendidikan benar-benar mampu mengantarkan anak didik menyiapkan diri guna menghadapi masa depannya.
Ungkapan Michael Porter, profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, bahwa sebaiknya kita tidak hanya berpikir tentang how to do, tetapi juga harus berpikir what to do, tampak relevan untuk direnungkan. Dalam pendidikan, kita tidak boleh hanya memikirkan metoda pembelajaran yang cocok dengan anak kita, tetapi juga harus berani mempertanyakan ”apakah materi yang dipelajari anak-anak memang sudah tepat”. Pengertian tepat untuk materi belajar, tentunya harus dikembalikan pada filosofi belajar itu apa dan untuk apa anak harus belajar di sekolah. Kita juga perlu mempertanyakan apa yang diharapkan orangtua saat mengirimkan anaknya untuk bersekolah. []
Mendikbud Nadiem Makarim membuat gebrakan kedua, dengan meluncurkan program “Kampus Merdeka”. Jika merdeka belajar, lebih diarahkan kependidikan dasar dan menengah, Kampus Merdeka diarahkan kependidikan tinggi. Menurut Mendikbud mahasiswa berkuliah di program studinya (prodinya) cukup 5 semester saja atau setara dengan 100 sks, sedangkan sisanya sekitar 40 sks dapat ditempuh pada prodi lain atau fakultas lain atau bahkan perguruan tinggi lain atau magang di dunia kerja. Untuk yang 40 sks itu mahasiswa bebas memilih matakuliah apa atau pengalaman apa yang ingin dipelajari, sesuai dengan rencananya ke depan setelah lulus.
Kampus Merdeka memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk menentukan apa yang ingin dipelajari dan bagaimana cara belajar yang diyakini paling baik. Menggunakan pemikiran Lisa Marie Blaschke (2012) kebijakan Kampus Merdeka tersebut menerapkan prinsip heutagogi. Jika ini benar, berarti Kampus Merdeka mengubah konsep pembelajaran di perguruan tinggi yang selama ini diterapkan, yaitu , dari andragogi ke heutagogi. Jika pada andragogi pendidikan diarahkan untuk membentuk kompetensi (competency development), pada heutagogi pendidikan diarahkan untuk membangun kemampuan (capability development), sehingga lulusan dapat mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan kehidupannya.
Pola pembelajaran di heutagogi menerapkan prinsip self determined, sehingga mahasiswa menentukan sendiri matakuliah yang ingin ditempuh dan bagaimana cara belajarnya. Konskuensinya, mahasiswa harus menerapkan double loop learning (Chris Argyris, 1976). Artinya dapat melakukan refleksi, apakah yang dipelajari sesuai dengan yang dia inginkan atau tidak. Jika tidak, mereka harus berani mencari alternatif penggantinya. Dengan kata lain, mahasiswa harus mampu menerapkan prinsip meta kognisi dalam belajar.
Jika pemaknaan ini benar, maka diperlukan perubahan mendasar dari dua sisi, yaitu pola pikir mahasiswa dan pola pikir kalangan perguruan tinggi. Mahasiswa sejak awal masuk kuliah sudah harus tahu dan memutuskan profesi apa atau karier apa yang diinginkan setelah lulus. Mereka juga harus mencari informasi kompetensi apa yang diperlukan untuk menekuni karier tersebut. Berdasar informasi itu, yang bersangkutan memilih mata kuliah apa yang harus diikuti, di program studi atau fakultas atau perguruan tinggi mana, mata kuliah tersebut tersedia. Dan apakah ada kompetensi yang lebih baik dipelajari di dunia kerja.
Dunia Maya
Di era keterbukaan informasi, informasi yang terkait dengan profesi dan perguruan tinggi serta perusahaan dapat diperoleh dengan mudah di dunia maya. Masalahnya, apakah calon mahasiswa yang baru lulus SMA itu mampu dan terbiasa untuk mencari data tersebut dan menganalisisnya. Apakah mereka sudah dapat menentukan pilihan tersebut.
Wawancara dengan siswa SMA dan guru BK menunjukkan pada umumnya siswa SMA belum memutuskan karier yang ditekuni setelah dewasa. Pemilihan program studi maupun perguruan tinggi tempat kuliah lebih banyak didasarkan pada tingkat kefavoritan perguruan tinggi, hasil diskusi dengan teman dan dorongan orangtua. Bagi lulusan SMA, yang penting kuliah di Universitas yang bergengsi, soal prodi itu tidak penting.
Dengan demikian, penerapan kampus merdeka pada akhirnya berimplikasi pada pendidikan di SMA. Di SMA siswa sudah dipandu dan didorong untuk menentukan karier ke depan. Bahkan mata pelajaran yang harus ditempuh di SMA juga harus disesuaikan dengan bidang karier tersebut. Jika siswa memutuskan akan menempuh karier di bidang Keteknikan, mereka harus konsentrasi pada mata pelajaran Matematika dan Fisika. Sedang jika siswa akan menekuni bidang Kesehatan, mereka harus konsentrasi pada mata pelajaran Biologi dan Kimia. Dengan demikian pola penjurusan yang sekarang berlaku perlu ditinjau ulang. Paling tidak di dalam jurusan itu ada peminatan yang sesuai dengan program studi yang akan ditempuh saat kuliah.
Kalangan perguruan tinggi juga harus mau mengubah pola pikirnya mulai seleksi masuk perguruan tinggi sampai pengaturan organisasi perkuliahan. Menyamakan materi tes masuk calon mahasiswa Teknik dan Kedokteran tentu tidak tepat. Demikian halnya menyamakan materi tes masuk calon mahasiwa Ilmu Ekonomi dengan Sastra Inggris. Seleksi masuk perguruan tinggi yang selama ini hanya memilah menjadi Bidang Sains dan Humaniora perlu ditinjau kembali. Paling tidak diberikan pembobotan matapelajaran sesuai dengan program studi yang dipilih calon mahasiswa.
Kalangan perguruan tinggi harus menerima kenyataan bahwa dunia kerja berubah dengan cepat dan cenderung kemultidisiplin. Ego keilmuan di prodi yang biasanya sangat kental harus diturunkan. Jurusan dan program studi harus diperjelas tugasnya. Jurusan harus didudukkan sebagai unit sumber, sedangkan program studi didudukkan sebagai unit layanan perkuliahan.
Sebagai unit sumber yang memiliki dosen dan laboratorium, tugas utama jurusan meningkatkan keprofesionalan dosen dalam melaksanakan pengembangan ilmu. Sedangkan perkuliahan diurus oleh program studi. Program studi harus konsentrasi pada layanan, agar mahasiswa mendapatkan perkuliahan yang menjadi bekal menekuni karier yang diinginkan. Dapat saja, kurikulums uatu program studi lintas jurusan, karena matakuliah di program studi tersebut berasal lebih dari satu cabang keilmuan. Jika mahasiswa memutuskan ingin menekuni karier di bidang bisnis kuliner memerlukan kompetensi masak-memasak, manajemen dan lainnya. Mungkin yang bersangkutan terdaftar sebagai mahasiswa prodi Tata Boga, tetapi mengambil mata kuliah di prodi manajemen, di prodi sistem informasi dan sebagainya. Dengan demikian posisi program studi tidak lagi sebagai “anak”dari jurusan seperti sekarang ini.
Diperlukan persiapan matang
Meramu berbagai mata kuliah yang berasal dari beberapa disiplin ilmu bukan perkara mudah. Apalagi jika harus dikontekskan dengan karier yang diinginkan mahasiswa. Contextual Project Based Learning (CPjBL) (Kwietniewski, 2017) menjadi salah satu pendekatan yang cocok. CPjBL dapat diwujudkan mata kuliah sebagai wahana bagi mahasiwa berlatih memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving) secara interdisiplin untuk bidang yang nantinya akan ditekuni.
Bahkan juga dapat menjadi wahana belajar cross culture collaboration, jika proyek tersebut dikerjakan secara kelompok mahasiswa lintas prodi dan lintas universitas. Namun harus disadari bahwa dosen yang biasanya berkutat pada mono disiplin tidak terbiasa dengan CPjBL yang interdisiplin. Diperlukan masa transisi dan bahkan keterlibatan praktisi untuk mengasuh mata kuliah tersebut.
Jadi, gagasan Kampus Merdeka yang menerapkan konsep heutagogi memerlukan persiapan matang dalam pelaksanaannya. Tidak hanya menyangkut dosen, tetapi juga calon mahasiswa. Tidak hanya di perguruan tinggi tetapi juga di SMA.
Jika tidak, maka gagasan tersebut hanya akan menjadi angan-angan, karena pasal 15 ayat (1) Permendikbud Nomer 3 Tahun 2020 yang mengatur itu menyebut pola perkuliahan “dapat” dilaksanakan di dalam prodi dan di luar prodi. Artinya, tidak salah jika semua perkuliahan dilaksanakan di dalam prodi seperti yang berjalan selama ini.
Problematik pendidikan di Indonesia tampaknya memang serius. Berbagai upaya sudah dilakukan silih berganti dalam skala nasional. Untuk mendekatkan pendidikan dengan dunia kerja, dikeluarkan kebijakan link and match. Dimunculkan matapelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa untuk menguatkan daya juang anak-anak kita. Kurikulum diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman. Buku online diluncurkan agar semua siswa memperoleh buku ajar secara gratis. Waktu belajar ditambah melalui full day school. Bahkan ada keinginan untuk mengubah Undang-undang karena dianggap sudah ketinggalan zaman.
Namun berbagai kebijakan tersebut ternyata belum mampu mengatrol mutu pendidikan kita. Hasil PISA tahun 2018 justru turun. Skor kemampuan membaca turun dari 397 ke 371 poin, kemampuan matematika turun dari 386 ke 379 poin, dan kemampuan sains turun dari 403 ke 396 poin. Akibatnya ranking PISA Indonesia turun dari ke-72 menjadi ke-77. Dalam World Development Report yang diterbitkan Bank Dunia (2019: 57) disebutkan harmonized test score anak Indonesia lebih rendah dibanding Argentina, Colombia, Thailand, Philippines dan bahkan Vietnam dan Kenya. Seakan mengakui itu, saat menjadi mendikbud Anies Baswedan mengeluarlan statemen Gawat Darurat Pendidikan Indonesia.
Jika berbagai kebijakan tersebut ternyata belum dapat meningkatkan, sebaiknya dicari cara pandang lain dan jika perlu pinjam ke bidang ilmu lain. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah prinsip Pareto (Kiremire, 2011). Secara sederhana Prinsip Pareto dapat dimaknai dalam suatu problem ada komponen yang proporsinya hanya 20% tetapi jika itu dapat diselesaikan, maka komponen yang lain akan ikut selesai. Komponen itulah yang disebut determinant component(s). Pertanyaannya, apa determinant component(s) dalam pendidikan.
Guru sebagai determinat component.
Penelitian Barber dan Mourshed (2007) menemukan siswa yang diajar oleh guru yang baik memiliki prestasi 53% diatas temannya yang diajar oleh guru yang tidak baik. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hattie (2003) menyebutkan guru berkontribusi 60% terhadap hasil belajar siswa, diluar kemampuan dasar yang bersangkutan. Untuk konteks Indonesia, Pujiastuti, Raharjo dan Widodo (2012) menemukan kontribusi tersebut 54,5%. Bagaimana itu dapat terjadi? Disertasi Blazar (2016) di Harvard Graduate School of Education menyimpulkan hasil belajar itu fungsi dari proses pembelajaran yang dikelola oleh guru. Apapun kurikulum dan sarana yang tersedia, pada akhirnya tergantung guru yang menggunakannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa guru merupakan determinant component dalam pendidikan. Bahkan McKinsey menyatakan quality of education cannot exceed quality of teachers. Jadi agar pendidikan bermutu, setiap sekolah harus memiliki sejumlah guru yang cukup dengan mutu yang baik.
Apakah Indonesia kekurangan guru? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Secara agregrat nasional, jumlah guru di Indonesia berlebih. Data statistik Kemdikbud menunjukkan rasio guru-siswa SD = 1:17, SMP = 1:16, SMA = 1:15,5, SMK = 1:16,8. Lebih mewah dibanding Jepang dan Singapore. Namun jika kita berkunjung ke daerah, banyak sekolah yang kekurangan guru. Pengalaman mengunjungi daerah 3 T (tertinggal, terdepan, terluar), banyak SD dengan 6 rombel hanya memiliki 2 atau 3 orang guru. Yang terjadi adalah ketidakmerataan distribusi guru. Di perkotaan kelebihan guru sementara di daerah 3T kekurangan guru.
Mengapa itu terjadi? Karena calon guru enggan bertugas di daerah terpencil. Ketika ada program Guru Garis Depan (GGD), lulusan LPTK juga enggan mendaftar karena ditempatkan di daerah 3T. Mereka sudah terbayang seperti apa kondisi daerah, karena sebagian sudah pernah ikut program Sarjana Mengajar di daerah 3T. Apalagi sebagian besar lulusan LPTK perempuan yang sangat mungkin tidak diijinkan orangtuanya untuk mengajar di daerah 3T. Jika keengganan guru mengajar di daerah tidak dapat dipecahkan, maka sekolah-sekolah di daerah 3T akan tetap kekurangan guru.
Apa guru kita kurang bermutu? Semua sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya, mengapa itu terjadi. Karena di masa lalu gengsi profesi guru sangat rendah, sehingga lulusan SLTA yang pandai tidak mau masuk LPTK. Akhirnya mereka yang ranking bawah yang masuk ke LPTK dan akhirnya menjadi guru.
Kontribusi guru thd hasil belajar siswa
Namun data Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) jumlah pendaftar ke LPTK naik signifikan sejak tahun 2009 s.d 2013. Diduga itu dikarenakan gengsi profesi guru membaik akibat ada tunjangan profesi. Kondisi ekonomi guru yang membaik ternyata meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap profesi guru dan akhirnya jumlah lulusan SLTA yang ingin menjadi guru meningkat. Dengan demikian kita dapat berharap ke depan mutu guru membaik.
Bagaimana agar mahasiswa calon guru yang bermutu itu mau bertugas ke daerah terpencil? Pasal 23 ayat (1) UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen telah menyediakan landasannya, yaitu “Pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru ikatan dinas berasrama di lembaga pendidikan tenaga kependidikan untuk menjamin efisiensi dan mutu pendidikan”. Pendidikan calon guru disetarakan dengan pendidikan kedinasan seperti di AMN, AAL, AAU, STPDN dan sebagainya. Bukankah calon guru itu dididik oleh Kemdikbud dan juga digunakan oleh Kemdikbud.
Berapa biaya yang diperlukan untuk pendidikan kedinasan guru? UU No. 14/2005 dan PP No. 74/2008 menyebutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama 1 tahun. Hasil kajian Kemdikbud menunjukkan secara normal diperlukan guru baru sebanyak 50.000 orang/tahun sebagai pengganti pensiun. Jika unit cost untuk 1 tahun PPG 40 juta rupiah, maka diperlukan anggaran 2 trilyun/tahun untuk menghasilkan 50.000 orang guru baru yang bermutu dan siap ditempatkan di sekolah seluruh wilayah NKRI.
Apakah itu besar?. Jika APBN kita 2.500 trilyun, sehingga anggaran sektor pendidikan 500 trilyun, maka biaya tersebut hanya 0,4% dari anggaran sektor pendidikan. Pertanyaannya, adakah kemauan politik untuk itu.
Tanggal 26 Maret 2020 semestinya saya mengisi seminar nasional bertema Pendidikan Karakter di Universitas PGRI Yogyakarta. Namun seminar ditunda karena pandemik Covid 19 yang kini menakutkan. Ketika menerima kontak dari panitia beberapa bulan lalu, saya senang sekali karena informasinya yang akan hadir adalah mahasiswa PGSD dan guru-guru di sekitar Yogyakarta. Pendidikan di SD adalah tahapan strategis untuk menumbuhkembangkan karakter positif pada anak-anak. Lebih dari itu guru SD dan mahasiswa PGSD biasanya sebagian besar wanita yang pada saatnya menjadi ibu atau sudah menjadi ibu yang memegang peran sentral dalam pendidikan karakter anaknya. Tulisan pendek ini merupakan inti yang semula ingin saya sampaikan di seminar itu. Naskah pendek ini sengaja menggunakan pendekatan praktis dan bukan kajian akademik yang mungkin tidak mudah dicerna.
Seminar Nasional dg Tema Pendidikan Karakter di Univ PGRI Yogyakarta
Jauh hari Ki Hajar Dewantara mengatakan pendidikan pada dasarnya upaya mengembangkan karakter, pikiran dan tubuh anak. Ketiganya tidak boleh dipisahkan demi kesempurnaan perkembangan anak-anak. Berbeda dengan taksonomi Bloom yang menyebutkan kognitif (identik dengan pikiran) pada urutan pertama, Ki Hajar Dewantara menyebutan karakter (identik dengan afektif) pada urutan pertama. Apakah itu kebetulan atau memiliki disengaja? Saya menduga itu sengaja, karena disamping bapak pendidikan, Ki Hajar merupakan filsuf yang kental dengan pemikiran kehidupan.
Soemarno Soedarsono (2013), salah satu dosen Lemhanas dan penulis buku “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”, menyebutkan karakter yang menuntun perilaku seseorang. Memang karakter bukan sesuatu yang fix, bukan bawaan lahir sebagaimana fitrah Illahi. Artinya karakter itu seperti iman yang bisa naik dan turun. Namun yang ingin disampaikan di awal tulisan karakter itu ibarat kehidupan, yang menuntut perilaku seseorang. Meminjam metaphora Al Ghazali, hati itu ibarat raja yang menentukan apa yang harus diperbuat. Otak itu ibarat perdana menteri yang memikirkan bagaimana agar tugas yang diberikan raja dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Kaki dan tangan itu ibarat tantara/karyawan yang bertugas melaksanakan skenario kerja yang telah dirancang oleh perdana menteri.
Mendasarkan pada pendapat Ki Hajar, Soemarsono dan Al Ghazali, maka apa yang dilakukan oleh seseorang mencerminkan karakter yang bersangkutan. Dengan demikian jika kita ingin perilaku masyarakat baik, maka yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mengupayakan agar karakter masyarakat juga baik. Disinilah pentingnya pendidikan, baik di sekolah, di rumah dan di masyakat. Dalam konteks ini peran orangtua dan guru sangat penting. Apalagi guru SD (dan PAUD) yang memupuk karakter anak-anak di tahap awal.
Tahapan Pendidikan Karakter
Kapan dan bagaimana pendidikan karakter itu dilaksanakan? Itulah yang sering ditanyakan teman-teman guru. Untuk membahasnya, kita dapat mulai dengan hasil FGD dengan teman-teman di dunia industri. Ketika menerima karyawan baru, aspek yang pertama dipersyaratkan adalah karakter. Mengapa? Mereka berpendapat, orang yang sudah dewasa karakternya sudah terbentuk dan sulit untuk diubah. Artinya, pembentukan atau penumbuhkembangan karakter seharusnya dilakukan sejak anak-anak. Itulah yang menadasari pemikiran saya saat melukiskan proporsi pendidikan karakter dan pendidikan akademik di SD sampai S3 di universitas. Proporsi tersebut bukan sesuatu yang fix, tetapi hanya ingin menggambarkan pada SD (bahkan PAUD) pendidikan lebih banyak menumbuhkembangkan karakter. Makin ke atas tingkatannya, proporsi akademik semakin tinggi, sedangkan proporsi karakter turun dengan asumsi karakter anak-anak sudah mulai terbentuk. Di tingkat universitas, dengan asumsi mahasiswa sudah dewasa dan karakter mereka sudah “jadi” maka pendidikan lebih menekankan pada akademik.
Bagaimana pendidikan karakter itu sebaiknya dilakukan? Ketika meneliti sekolah yang sukses melaksanakan pendidikan karakter, Kemdikbud (2009) menemukan bahwa: (1) pendidikan karakter tidak memerlukan anggaran besar, buktinya sekolah kecil/sederhana juga dapat suskes melaksanakan pendidikan karakter, (2) penumbuhkembangan karakter memerlukan waktu lama, (3) budaya sekolah merupakan faktor determinan dalam pembentukan karakter siswa, karena terbukti karakter siswa terbentuk saat menyesuaikan diri dengan budaya tempat mereka bersekolah, (4) pendidikan karakter memerlukan teladan.
Apa yang bisa dipetik dari hasil studi tersebut? Mainstreaming pendidikan karakter yang telah digulirkan Kemdikbud sejak tahun 2010 perlu dilanjutkan dan diperkuat. Sekolah tidak perlu merisaukan sarana-prasarana, karena terbukti pendidikan sekolah sederhanapun dapat melaksanakan dengan baik. Yang penting bagaimana menciptakan budaya sekolah yang mampu menumbuhkan karakter positif siswa. Yang penting bagaimana pada pimpinan sekolah, para guru dan karyawan mampu menjadi teladan berperilaku dalam keseharian.
Awal Maret ini ada kecelakaan di Rungkut Surabaya. Bukan kecelakaan lalu lintas, melainkan kecelakaan saat membangun masjid. Ketika dilakukan pemasangan tiang pancang untuk membangun suatu masjid, ternyata tiang pancang tersebut mengena pipa air besar (pimer) sehingga bocor. Akibatnya sekitar 17.000 pelanggan PDAM Surabaya terkena dampaknya, karena tidak mendapatkan aliran air. PDAM Surabaya sigap, malam itu pula dikerahkan pasukan untuk mengatasinya. Ternyata tidak mudah, karena pipa air primer tersebut berukuran besar dan tertanam cukup dalam. Dikerahkan alat-alat berat untuk mempercepat pekerjaan. Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyempatkan untuk datang langsung ke lokasi.
Pipa PDAM Bocor di Rungkut Surabaya
Bagaimana itu bisa terjadi? Ternyata pihak yang membangun masjid tidak tahu kalau di lahan tersebut tertanam pipa air pimer PDAM. Kok bisa? Karena lokasi tersebut merupakan kompleks perumahan baru, dan warga yang membangun masjid umumnya para pendatang. Apalagi pipa tersebut dipasang pada tahun 1990an atau sekitar 30 tahun yang lalu. Jadi masuk akal jika mereka tidak tahu kalau ada pipa PDAM disitu. Apa tidak mencari informasi ketika membuat desain masjid? Mungkin itu kekhlifanan mereka. Namun juga dapat difahami, karena masjid dibangun swadaya masyarakat sekitar. Jadi tidak menggunakan SOP sebagaimana konsultan dan kontraktor besar. Kalau rancangan masjid dibuat oleh konsultas professional, pasti mereka akan mencari data lahan tempat masjid akan dibangun. Jika pelaksananya kontraktor pofesional pastilah akan mencari tahu apa saja bangunan atau jaringan pipa, kabel yang sebagainya yang ada di lahan tersebut.
Apa pelajaran yang dapat dipetik oleh kejadian tersebut? Tampaknya, setiap orang yang mendirikan suatu bangunan perlu mencari informasi tetang hal-hal yang terkait dengan lahan tempat bagunan itu akan didirikan. Adakah aturan zoning, garis sepadan, ketinggian bangunan, adakah pipa air, pipa gas, kabel listri, kabel telepon yang melalui lahan tersebut dan sebagainya. Berdasar informasi yang lengkap dapat dihindari adanya bangunan yang melanggar aturan dan terutama kecelakaan seperti yang terjadi di Rungkut Surabaya itu.
Kehatian-hatian lebih diperlukan lagi jika di lahan calon bangunan itu sudah ada bangunannya. Apalagi jika di bangunan lama itu ada penghuninya. Lebih-lebih lagi jika bangunan baru itu nanti berhimpitan atau merupakan penyempurnaan bangunan lama. Apalagi jika bangunan lama digunakan untuk aktivitas yang tidak boleh berhenti. Mungkin itulah salah satu bidang yang dipelajari dalam bidang manajemen konstruksi. Bagaimana agar pembangunan Gedung baru dapat berjalan dengan lancer, tetapi aktivitas kerja di bangunan lama tetap dapat berjalan. Mungkin manajemen konstruksi yang mengatur pembangunan Masjidil Haram mungkin bisa dijadikan contoh. Bagaimana mengatur tahapan pembangunan masjid, sementara masjid tetap berfungsi dan didatangi ribuan jamaah.
Apakah prinsip tersebut diatas hanya berlaku di pembangunan fisik atau juga berlaku di bidang social? Bukankah teori masa kritis (critical mass) yang sekarang popular di bidang sosial itu diadopsi dari teori Fisika? Merenungkan kejadian itu, saya jadi teringat nasehat teman senior kepada yuniornya yang baru saja terpilih menjadi rektor suatu perguruan tinggi negeri. Begini kira-kira nasehatnya. Sebagai rektor baru yang memiliki keinginan besar menggebrak agar universitasnya cepat maju, kamu memang bisa menggunakan filosofi the winner takes all. Artinya kamu dapat mengganti semua staf inti dan mengganti semua kebijakan yang kamu rasa kurang pas. Namun, kamu harus ingat konskwensinya. Crew kamu yang baru belum tentu faham terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini, dimana dokumennya, apa yang sudah dicapai dan sebagainya. Jika crew kamu itu “orang luar” artinya orang yang selama ini tidak terlibat dalam aktivitas kampus selama ini, bukan mustahil akan salah memahami dinamika kampus. Juga kamu harus ingat, bukan mustahil ada demotivasi bagi orang-orang lama yang kami singkirkan.
Lantas bagaimana sebaiknya? Begitu sang yunior bertanya. Ada dua pilihan, pertama kamu bisa mix, orang lama dengan orang baru. Tentu orang lama dipilih yang kamu yakini dapat memahami ide-idemu. Mereka digabungkan dengan “orang-orang baru” yang kamu pilih. Pastikan kedua kelompok orang ini dapat berkomunikasi dengan baik, dapat bersinergi dan akhirnya menjadi tim baru yang handal. Pilihan kedua, biarkan orang-orang lama bekerja dan bersamaan dengan itu dimasukkan “orang-orang baru” untuk belajar memahami kondisi universitas. Sambil diamati orang-orang lama yang memiliki pandangan sama dengan kamu. Setelah waktunya cukup, mulailah dilakukan restrukturisasi. Rektor baru itu tampaknya memilih alternatif kedua. Yang menarik ternyata banyak “orang lama” yang dipertahankan, dengan alasan ternyata mereka juga memiliki pandangan dan kemauan yang sama dengan yang diharapkan rektor baru. Mereka juga senang dan sanggup melaksanakan gebrakan itu. Mencermati itu, saya jadi teringat metaphora “segerombolan kambing yang dipimpin oleh singa akan bisa mengaum, segerombolan singa yang dipimpin oleh kambing akan mengembik”.
Sudah lama saya mempertanyakan mengapa bangunan kerajaan yang konon sangat besar “hilang”. Bahkan situsnya sering diperdebatkan. Ambil contoh kerajaan Majapahit yang diyakini memiliki wilayah seluas Nusantara. Majapahit yang memiliki Mahapatih Gajahmada dengan sumpah Amuki Palapa-nya. Hal sama juga terjadi pada kerajaan Sriwijaya. Bahkan kerajaan Demak yang relatif “muda” (akhir abad ke-14 s.d awal abag 15) juga tidak meninggalkan bangunan kerajaan yang utuh.
Beberapa teman menjelaskan karena bangunan kerajaan di Indonesia dibuat dari batu bata dan kayu sehingga mudah rusak. Berbeda dengan peninggalan kerajaan di negara lain yang dibuat dari batu andesit yang tahan lama. Ada juga teman yang menjelaskan bangunan kerajaan tersebut terkena bencana, seperti gunung meletus, gempa bumi atau banjir bandang sehingga hancur. Keduanya masuk akal. Namun, mengapa bangunan Masjid Demak masih ada? Bukankah masjid itu dibangun di masa yang sama dengan bangunan kerajaan?
Masjid Demak
Merenungkan itu, saya jadi teringat istilah politik bumi hangus. Sepengetahuan saya artinya menghilangkan jejak rezim sebelumnya dengan maksud agar masyarakat terbebas dengan kenangan masa lalu dan perhatiannya segera berpindah ke rezim yang baru. Mungkinkah bangunan fisik kerajaan Majapahit dibumihanguskan oleh Demak? Mungkinkah bangunan fisik kerajaan Demak dihancurkan oleh Pajang? Jujur saya tidak tahu dan belum pernah membaca tentang itu. Teman-teman yang mendalami sejarah yang lebih tepat menjawabnya.
Apakah politik bumi hangus itu masih ada di zama modern ini? Saya juga tidak tahu. Namun, seingat saya ketika Orde Baru menggantikan Orde Lama, kejadian yang mirip dengan politik bumi hangus juga terjadi. Tentu dalam bentuk yang berbeda. Tentu tidak merusak bangunan istana dan sejenisnya. Tetapi kebijakan atau ajaran yang menjadi ciri Orde Lama seakan dihapuskan. Ketika Orde Baru digantikan oleh “Orde Reformasi” tampaknya kejadian yang mirip juga terjadi. Kebijakan yang menjadi ciri Orde Baru hilang dan digantikan dengan kebijakan baru. Tampaknya fenomena seperti itu terjadi karena rezim yang baru memiliki latar belakang dan atau ideologi yang berbeda.
Apakah kebijakan seperti salah? Saya tidak tahu. Teman yang mendalami ilmu politik dan kebijakan publik yang dapat menjawabnya. Seorang teman menjelaskan, mungkin saja pergatian kebijakan memang diperlukan karena kebijakan yang lama sudah tidak cocok dengan tuntutan zaman. Orang dengan pandangan seperti itu mengatakan, hanya orang-orang status quo yang berada di zona nyaman yang tidak mau menerima perubahan. Di pihak lain ada yang berpendapat, pergatian kebijakan yang seakan menegasikan apa yang dilakukan oleh rezim sebelumnya menunjukkan kekerdilan jiwa. Jadi sepertinya ada perbandingan diametral antara politik bumi hangus dengan politik status quo.
Mana yang lebih baik atau katakankah lebih tepat diterapkan? Kembali saya juga tidak tahu. Saya teringat dengan rangkaian metaphora yang dibuat pada bagian pendahuluan sebuah buku tentang public policy. Begini kira-kira tafsirnya. (1) Untuk menghasilkan kebijakan yang baik, diperlukan data dan hasil kajian yang komprehensif; (2) Namun jika data dan hasil kajian yang komprehensif tersedia belum tentu dihasilkan kebijakan yang baik; (3) Jika tersusun kebijakan yang baik belum tentu digunakan oleh pejabat yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. (4) Jika kebijakan yang baik tersebut diputuskan untuk diterapkan belum tentu berjalan dengan baik. Butir nomor 1 menguatkan bahwa kajian terhadap apa yang sudah terjadi diperlukan sebagai salah satu dasar menyusun kebijakan baru. Tanpa landasan data yang cukup, bisa terjadi kebijakan salah sarah. Tentu juga harus ada kajian lain, misalnya tantangan secara makro, sehingga kebijakan punya landasan yang komprehensif.
Siklus Penyusunan Kebijakan Publik
Saya jadi teringat sebuah buku yang menjelaskan tahapan penyusunan kebijakan publik. Menurut buku itu suatu kebijakan harus berpijak dari hasil analisis terhadap masalah yang ingin diselesaikan. Untuk itulah harus dilakukan kajian yang komprehensif. Hasil kajian itulah yang digunakan sebagai salah satu dasar menyusun alternatif kebijakan.
Sebelum diputuskan, alternatif kebijakan itu harus “dinegosiasikan” dengan stake holder yang terkait, untuk menguji apakah dapat diterima dan dapat dilaksanakan. Setelah diyakini kebijakan tersebut dapat diterima dan dapat dilaksanakan, barulah diformulasikan secara utuh. Sebaliknya, walaupun kebijakan tersebut diyakini baik tetapi ternyata tidak diterima publik dan atau sangat sulit dilaksanakan, harus direvisi. Barulah setelah itu kebijakan difinalkan dan disusun organisasi pelaksanaannya.
Apakah para pengambil kebijakan tidak melakukan urutan tersebut? Teman saya yang punya pengalaman banyak di birokrasi mengatakan, biasanya pejabat dikejar waktu dan terlalu lama jika harus mengikuti alur tersebut. Akhirnya, policy research digantikan oleh hasil-hasil monitoring dan evaluasi terhadap program yang telah berjalan. Seringkali juga ditambah atau bahkan diwarnai oleh pemikiran atau keinginan pejabat yang berangkutan atau “staf inti” yang memberi masukan kepadanya. Kentalnya warna pemikiran atau keinginan pejabat itulah yang menyebabkan pejabat baru seringkali memiliki program baru yang bisa jadi sangat berbeda dengan pejabat yang digantikan. Semakin berbeda pola pikir dan atau latar belakang antara pejabat lama dan pejabat baru semakin tinggi kemungkinan munculnya kebijakan baru yang berbeda dengan yang lama. Jika perbedaan itu begitu jauh, ada kesan terjadinya bumi hangus.
Jadi apakah tidak boleh pejabat baru membuat kebijakan yang sangat berbeda dengan pejabat sebelumnya? Jawabnya, boleh. Namun, harus didasarkan kajian yang mendalam dan menyimpulkan bahwa kebijakan sebelumnya tidak cocok dengan tuntutan zama. Kebijakan baru yang sangat berbeda tersebut dapat diterima oleh stake holders dan yakin dapat dilaksanakan.
Sebaliknya apakah boleh pejabat tidak membuat kebijakan baru, sehingga seperti status quo? Juga boleh. Tetapi juga harus didasarkan pada kajian yang menunjukkan kebijakan selama ini tepat dan kajian yang menunjukkan tidak terjadi perubahan tantangan dari instansi yang dipimpinya. Jika ternyata kebijakan yang selama ini berjalan tidak optimal dan atau ada perubahan tantangan, maka kebijakan yang lama harus direvisi dan bahkan diubah. Apakah pernah terjadi ada kebijakan yang ditolak oleh stake holers? Ada. Teman saya menunjukkan contoh beberapa kebijakan yang buru-buru dilaksanakan tanpa adanya proses negosiasi. Akibatnya terjadi “penolakan” dari stake holder, sehingga instansi pemerintah harus mengeluarkan enersi yang mengatasinya. Bahkan juga terjadi kebijakan sepertti itu direvisi setelah terjadi penolakan masih dari stake holders.
Mungkin istilah trade mark tidak tepat, tetapi saya tidak tahu istilah lain yang lebih cocok. Yang saya maksud, apakah setiap menteri harus punya kebijakan yang khas, yang berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya sehingga menjadi pencirinya. Kemudian kebijakan itu diberi nama yang seakan menjadi trade mark yang bersangkutan. Mendikbud Nugroho Notosusanto terkenal dengan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), Mendikbud Wardiman Djojonegoro terkenal dengan kebijakan link and match, Mendikbud Muhammad Nuh terkenal dengan Kurikulum 2013, Mendiknas Muhajir Effendi terkenal dengan kebijakan zonasi, dan Mendikbud Nadiem Makarim sekarang ini terkenal dengan kebijakan merdeka belajar.
Bahwa setiap pejabat punya kebijakan untuk mewujudkan mimpinya saat memimpin tentu merupakan sesuatu keniscayaan. Bukankah seorang pejabat pasti punya keinginan agar para eranya instansinya menjadi “seperti ini”, yang lebih baik dari era sebelumnya. Untuk mewujudkan itu dibuatlah kebijakan guna mengarahkan seluruh warga instansi untuk bekerja keras mewujudkan mimpi tersebut. Namun disisi lain, muncul komentar “setiap ganti menteri ganti kebijakan”.
Dalam konteks Kemdikbud, pasti setiap kebijakan tentu dimaksudkan agar pendidikan semakin baik. Minimal, kebijakan dimaksudkan untuk mengakselerasi menuju lebih baik itu. Namun pelaksana kebijakan dalam bidang pendidikan itu kan ribuan bahkan jutaan orang. Bagaimana akselerasi itu terjadi tetapi pelaksana di lapangan tidak bingung. Itu yang harus dipertimbagkan. Jika pelaksana bingung bukan mustahil mereka demotivasi atau bahkan salah langkah. Merenungkan fenomena itu, saya jadi teringat kata-kata bijak “bagaimana dapat menangkap ikan tetapi kolamnya tidak keruh”
Saya ingat Pak Budi Kuncoro, yang sekarang menjadi staf khusus Menko Polhukam, sering meggunakan ungkapan itu. Saat menjadi konsultan yang menangani pelatihan dosen dan guru yang mengajar di PPG, beliau tidak menggunakan istilah pelatihan tetapi capacity sharing (berbagi pengalaman, berbagi kemampuan). Beliau menjelaskan, istilah itu digunakan agar para dosen (sebagian professor) tidak merasa digurui. Pada hal yang melatih dosen yang lebih yunior. Dalam pelatihan tersebut para dosen digabungkan dengan guru yang mungkin saja bekas mahasiswanya.
Kawan saya yang doktor public policy menjelaskan, kebijakan memang diperlukan atau bahkan membuat kebijakan merupakan salah satu tugas pejabat. Mengusahakan agar kebijakan itu difahami dan diterima oleh publik merupakan tahap berikutnya yang tidak kalah rumit. Mengutip pendapat seorang pakar, kawan tadi mengatakan untuk menyusun suatu kebijakan diperlukan data yang lengkap sebagai landasan, namun ketika data tersedia lengkap belum tentu tersusun kebijakan yang baik. Tergantung keahlian si pembuat kebijakan. Ketika kebijakan yang baik sudah terumuskan belum tentu publik memahami dan menerimanya. Tergantung kepandaian staf yang bertugas melakukan sosialisasi. Dalam bagian ini diperlukan tahap negosiasi, untuk mencocokkan kebijakan dengan kondisi lapangan.
Seringkali pembuat kebijakan melupakan tahapan tersebut. Seringkali pembuat kebijakan tidak faham kondisi lapangan yang akan terkena atau menjalankan kebijakan tersebut. Seringkali pembuat kebijakan menganggap masyarakat luas “pandai” seperti dirinya. Gap pengetahuan dan pemikiran antara pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan dan masyarakat yang terkena kebijakan seringkali menjadi penyebab lembatnya atau gagalnya suatu kebijakan.
Apakah kebijakan harus diberi nama yang menjadi trade mark pejabat pembuatnya? Menurut teman yang PhD publik policy, tergantung tujuan dan siatuasinya. Jika diyakini kebijakan itu sederhana, mudah difahami dan akan membuat publik senang, pemberian nama baru tepat. Namu jika kebijakan tersebut dapat membuat banyak orang resisten, sebaiknya tidak diberi nama. Dilakukan saja secara bertahap, nanti jika masyarakat sudah faham dapat dimunculkan namanya. Mengapa begitu? Jika masyarakat tidak faham dan bahkan resisten, akan menghabiskan waktu dan enersi untuk menyelesaikannya. Nanti malah “kolamnya keruh dan ikan semakin sulit didapatkan”.
Bagaimana dengan Kemdikbud? Teman saya, menjawab ibarat kapal kemdikbud itu kapal induk. Ukuranya besar, isinya beranekaragam, banyak kepentingan di dalamnya. Coba lihat, apapun kebijakan pendidikan (untuk dasar menengah), pada akhirnya yang melaksanakan guru di sekolah. Guru diseluruh peloson tanah air. Berapa jenjang yang harus dilalui agar keijakan Mendikbud sampai pada guru? Sangat Panjang dan bukan tidak mungkin terjadi distorsi. Bagaimana dengan pendidikan tinggi? Lebih repot, karena dosen merasa otonomi sehingga seringkali tidak begitu saja patuh pada kebijakan dari atas. Oleh karena itu, teman tadi mengusulkan sebelum kebijakan itu diumumkan, lebih baik dilakukan “negosiasi” atau “sosialisasi” lebih dahulu dengan tanpa memberikan nama yang mungkin bisan membuat public heboh.