SHOLAT JUM’AT DI EROPA

Dua minggu di Eropa saya sempat sholat jum’at di dua tempat dan situasi dan kondisinya jauh berbeda.   Tanggal 26 April 2019 saya sholat jum’at di kampus Univeritas Heriot Watt, tempat Kiki-anak saya bekerja.  Universitas tersebut tidak memiliki masjid, dan sholat jum’at-nya di sebuah hall asrama mahasiswa.  Karena hari itu saat-saat liburan, menurut Kiki lokasi sholat jum’at dipindah ke hall yang lebih kecil, tidak seperti biasanya di hal besar.  Lokasinya hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari kantor Kiki.

Saya sholat jum’at bersama Roy, menantu saya.  Informasinya sholat jum’at dimulai pukul 13.30, sehingga dari rumah kami (saya, isteri, Roy dan Kiki) berangkat pukul 11.30 naik mobil disopiri Roy.  Mobil diparkir di dekat kantor Kiki, dan kami berjalan kaki menuju hall tempat sholat dengan berjalan kaki.  Jalan menyusuri jalan di pinggir lapangan olahraga yang pada saat ini ada seorang yang sedang lari berkeliling.  Agar mudah kami sudh berwudhu dari rumah.

Kami datang agak awal, sehingga petugas masih menata ini dan itu, walupun sudah ada beberapa jama’ah yang sudah tiba.  Sholat jum’at dimulai tepat pukul 13.30 dan tidak ada adzan di awalnya. Jumlah jamaah saya perkirakan sekitar 200 orang dan sebagian besar “berwajah” Timur Tengah, walaupun juga ada yang “putih” dan “hitam” tetapi jumlahnya sedikit.  Saya menduga sebagian besar mahasiswa, karena usianya masih muda dengan rata-rata bercelana jin.  Ternyata ada jama’ah perempuan namun hanya sekitar 6 orang termasuh ana-anak.

jama’ah sholat jum’at di Heriot Watt University Edinbrugh

Khotibnya  berasal Pakistan dan khotbah disampaikan dalam bahasa Inggris.  Saya tahu dari Pakistan, karena sempat menyampaikan “kalau di kampung halamannya Pakistan ada tradisi begini-begini.  Khotib tersebut masih muda, saya menduga usianya tiga puluhan atau awal empat puluhan.  Berpakaian rapi dengan memakai jas tanpa dasi dan tidak bersorban maupun berpeci. Mungkin karena mejelang bulan Romadhon, khotbah menjelaskan makna puasa sebagai latihan kesabaran.  Sabar untuk menahan lapar dan minum walapun didekatnya ada makanan dan minuman.  Sabar jika ada godaan dan menurut khatib Rasul menganjurkan kita mengataka “saya berpuasa” jika ada orang berbuat tida baik kepada kita.

Setelah selesai sholat jum’at ternyata hujan rintik-rintik, sehingga saya dan Roy berjalan cepat-cepat, setengah berlari kembali ke kantor dimana Kiki dan ibunya menunggu.  Untunglah hujan di Skotlandia hanya tipis sehingga kami tidak basah.  Apalagi kami memakai jaket karena memang saat itu suhu sekitar 15 derajat.  Kami juga berjalan di bawah pohon-pohon di pinggir jalan, sehingga sedikit banyak juga terlindung dari hujan.

Ketika saya sampaikan khotbah baik, Kiki menjelaskan kalau di Universitas Heriot Watt khotib itu karyawan universitas dan disamping menjadi khatib jum’at juga bertugas menjadi semacam konselor keagamaan.  Jadi di universitas ada “khatib” untuk Islam, Katholik dan Kriten Protestan. Tiga agama yang jumlah warganya cukup banyak di kampus tersebut.  Dipilih yang masih muda agar dapat mudah berkomunikasi dengan mahasiswa.  Berbahasa Inggris secara baik menjadi persyaratan untuk menjadi khatib.

Kesan saya pelaksanaan sholat jum’at di Heriot Watt sangat sederhana.  Tidak ada mimbar untuk khotbah seperti di masjid kita.  Sebagai gantinya ada beberapa bangku olahraha yang ditumpuk dan ditutupi dengan sajadah.  Khotbah jum’at relatif pendek dan bersifat general tetapi mengena.  Pelaksanaan sholat-nya sama dengan di Indonesia dan bacaan surah-surahnya mirip di “masjid Al Awabin” di kampung dekat rumah saya, yang kata orang itu tata cara NU.  Namun sesudah selesai sholat imam tidak memimpin do’a seperti di masjid Al Awabin, sehingga mirip di Al Azis yang juga di dekat rumah saya, yang kata orang itu tata cara Muhammadiyah.

Pengalaman sholat jum’at berikutnya di masjid dekat kampus Valencia University.  Hari jum’at pagi saya berusaha mencari masjid dengan menanyakan kepada panitia, tetapi mereka tidak tahu.  Namun isteri saya dapat menemukan di Google map, sehingga waktu break makan siang (13.30-15.00) saya keluar kampus untuk mencarinya dan ketemu. Alhamdulillah. Lokasi masjid hanya berjalan sekitar 500 meter dari lokasi konferensi dan di jalan raya.  Di gerbang masjid, saya bertanya ke jama’ah, jam berapa sholat jum’at dimulai dan dijawab pukul 14.30.

Khotbah jum’at di masjid dekat kampus Valencia University Spanyol

Masjidnya cukup besar dan bersih.  Ada mimbar dengan tangga yang cukup tinggi.  Saat saya masuk sudah ada sekitar 25 orang jama’ah yang sudah di dalam.  Saya mencoba mengamati jamaah yang sudah ada dan juga jamaah yang baru datang.  Rata-rata orang berwajah Timur Tengah atau saya tidak dapat membedakan antara orang Timur Tengah dengan orang Spanyol.  Seperti pernah saya ceritakan pengamatan saya orang Spanyol sangat mirip dengan orang Mesir dan sebagainya. Ada jamaah yang berkulit hitam, tetapi tidak banyak sedangkan dari Asia mungkin hari itu hanya saya.

Khotbah dimulai pukul 14.30an.  Khotibnya memakai baju gamis dengan sorban khas orang Arab dan saya menduga memang orang Arab yang sudah sepuh (senior). Ketika naik tangga mimbar tampak pelan-pelan dengan menekankan tongkatnya pada anak tangga sehingga berbunyi “duk-duk-duk”.  Ada adzan setelah khotib mengucapkan salam. Persih seperti di kampung saya.  Khotbah disampaikan dalam bahasa arab dengan bersemangat.  Sayang saya tidak mengerti dan dalam hati saya menyesal, mengapa dahulu tidak belajar bahasa arab.   Khotbahnya cukup panjang, sampai pukul 15.05.  Jadi kira-kira 35 menit.  Juga seperti di masjid kampung saya, ketika khotbah ada “kotak infaq berkeliling”.  Bedanya yang berkeliling bukan kotak atau kaleng, tetapi orang (jamaah) yang membawa tas kain terbuka.

Menjelang khotbah berakhir saya mencoba melihat berkeliling.  Ternyata masjid penuh, sehingga jumlah jamaah saya kira lebih dari 300 orang.  Tata cara sholat seperti masjid Al Awabin dan setelah selesai sholat imam juga memimpina do’a.  Yang saya tidak faham, setelah itu imam berdiri dan menyampaikan sesuatu.  Saya saya tidak faham, apakah itu pengumunan atau arahan kepada jamaah.

Mengikuti sholat jum’at dua minggu di Eropa saya mendapatkan kesan yang sangat berbeda, walaupun keduanya di lingkunan kampus.  Yang di Edinbrugh di sebuah hal dalam kampus, di Valencia di masjid di luar kampus tetapi sangat dekat.  Di Edinbrugh suasananya sangat khas kampus, sedangkan di Valencia mirip di kampung saya.   Mengapa demikian, jujur saya tidak tahu. Di Valencia tidak ada orang yang dapat menjelaskan karena jamaah yang saya tanya ternyata tidak bisa berbahasa Inggris, sementara panitian konferensi tidak tahun dimana lokasi masjid.

PASAR KLIWON DI CORDOBA

Karena baru pertama ke Spanyol dan tahu tentang Spanyol hanya dari bacaan yang sangat terbatas, maka saya ingin sekali melihat tradisi keseharian orang Spanyol.  Oleh karena itu begitu ada informasi bahwa di Cordoba ada Sunday Market (Pasar setiap hari Minggu) saya langsung ingin melihatnya. Apalagi informasinya di pasar itu ada sekitar 240 stan dan dijual berbagai barang produk lokal. Jarak tempat tinggal dengan pasar tersebut hanya sekitar 25 menit jalan kaki, sehingga terjangkau dengan jalan kaki pelan-pelan.  Suhu udara saat itu juga sekitar 27-30 derajat sehingga sudah biasa bagi orang Surabaya.

Isteri, Kiki dan Roy di depan pasar. Tampak pengunjung lain di dekatnya.

Kami, saya, isteri, Kiki dan Roy jalan kaki pelan-pelan ke Sunday Market sambil lihat-lihat kiri kanan.  Mencermati orang yang lalu lalang, saya mendapat kesan bahwa wajah orang Spanyol ada nuansa Timur Tengah-nya.  Saya juga menjumpai nama-nama yang bernuasa Arab, misalnya Al Manzor (nama hotel), Haman (nama salon) dan sebagainya.  Bahkan ketika makan malam di restoran kecil dekat tempat tinggal juga ada menu yang “Arabic”. Mungkin itu akulturasi selama 2 abad Islam memerintah di Spanyol dan Cordoba merupakan ibukota negara saat itu.

Bahwa warna kulit orang Spanyol lebih “gelap” dibanding orang Belanda dan Inggris saya faham.  Bahwa rambut orang Spanyol cenderung hitam dan tidak pirang atau merah seperti orang Jerman dan Skotlandia saya faham, tetapi yang saya lihat wanita di Spanyol lebih “modis” bahkan lebih di banding orang Perancis, apalagi orang Jerman yang tidak pernah pakai lipstik.  Wanita Spanyol dandan pakai lipstik, alis dan sebagainya.  Mereka cenderung mengenakan pakaian yanh ketat dan terbuka, bahkan banyak jalan-jalan memakai laging dan kaos ketat, sehingga lekuk-lekuk badannya kelihatan.  Itu tidak hanya untuk anak-anak remaja, tetapi juga ibu-ibu yang sudah berumur.

Penjual baju menawarkan dagangannya sambil teriak-teriak

Cordoba merupakan daerah wisata, sehingga di hari Senin juga sangat banyak wisatawan. Namun saya menangkap yang banyak wisatawan lokal, karena dari bahasanya saya menangkap mereka umumnya berbicara bahasa Spanyol.   Sepanjang jalan, kiri-kanan dipenuhi toko souvenir dan restoran kecil-kecil.  Kata Kiki, orang Spanyol biasa jalan-jalan dan ketika capai terus duduk dan minum atau makan makanan kecil.  Mungkin itu yang menyebabkan banyaknya restoran-restoran kecil sepanjang jalan.  Bahkan banyak yang tempat makan/minumnya di halaman atau tempat terbuka dengan diberi paying-payung dari kain yang dapat dibuka-tutup.

Kiki membeli asparagus dari penjual yang menjajakan dagangannga di tengah jalan.

Kami sempat melewati sebuah gereja dan tampaknya ada pernikahan atau pesta apa, karena di depannya banyak orang berpakaian resmi (jas) dan para wanitanya dandan lengkap.   Namun yang mengherankan sampai saya pulang orang-orang masih banyak yang berdiri di depan pintu gereja itu.  Apakah ada beberapa pernikahan (ingat saya disebut pemberkatan) yang bergantian atau ada kebaktian atau acara lain, jujur saya tidak tahu.  Yang menarik, saat kami makan siang di restoran kecil depan gereja itu, banyak orang yang tadinya berdiri di depan pintu gereja dengan pakaian lengkap, kemudian juga makan di tempat kami makan.

Sampai di pasar, saya menjumpai sesuatu yang menarik.  Stan untuk jualan hanya berupa stan darurat dengan atap kain persis stan kaki lima di Surabaya.  Antara stan satu dengan lainnya juga tidak ada pembatas yang jelas.  Jadi batasnya ya, hanya berupa lorong kecil sekitar 1 meteran.  Yang dijual sangat beragam.  Sayur mayor, buah-buahan, makanan atau camilan khas Spanyol, baju, sepatu, dan sejeneisnya.  Mirip pasar Pucang di Surabaya.

Yang sangat menarik, penjualkan beteriak-teriak menawarkan dangannya.  Oleh karena itu suasana pasar jadi riuh.  Apalagi juga terjadi tawar menawar antara pembeli dan penjual. Ketika isteri saya membeli buah zaitun yang diasinkan dan asinan dari timun khas Spanyol ditawari untuk ngicipi. Kami juga menemui penjual asparagus yang menjajakan dagangannya dalam gerobak di tengah jalan sambil teriak-terak menawarkan. Mirip pasar Kliwon di Ponorogo. Apakah pasar itu ada setiap hari?  Ternyata tidak, dan hanya ada pada hari Minggu.  Pada hari lain tempat itu menjadi lapangan terbuka dan seringkali untuk parkir mobil.  Lantas para penjual itu di hari lain kerja apa?  Tidak ada informasi yang jelas, ada yang mengatakan memang seperti tradisinya, sehingga di hari lain penjual mengerjakan pekerjaan lain.  Namun jawaban ini sudah dinalar, lha kalau sayuran atau buah-buahan tidak habis dan harus menunggu satu minggu lain pastilah akan rusak.  Ada informasi ada pasar di tempat lain pada hari-hari lain.  Mirip seperti di Jakarta, ada pasar Minggu, pasar Senin dan seterusnya yang konon di masa lalu hanya pada hari-hari itu pasarnya buka.  Mirip di Ponorogo, kampung saya, ada pasar Kliwon di dekat rumah yang hanya ramai di hari Kliwon, ada pasa Legi di pusat kota yang hanya ramai di hari Legi.  Hari-hari itu disebut “dino pasaran” atau hari waktu pasar ramai.  Apa memang tradisi pasar di Cordoba sama dengan di Indonesia?  Jujur saya tidak mendapatkan informasi. 

JANTUNG BERDEBAR DI MASJID CORDOBA

Masjid Cordoba difoto dari arah jembatan, tampak sekali pagar tinggi mengelilingi dengan pintu yang telah ditutup.

Salah satu keinginan saya ke Spanyol adalah untuk mengunjungi “masjid Cordoba” yang sekarang menjadi obyek wisata terkenal.  Mengenang kejayaan Islam di masa lalu.  Yang pernah saya baca di Wikipedia, masjid tersebut dibangun pada masa Dinasti Umayyah, namun setelah Islam kalah perang wilayah tersebut dikuasai oleh bangsa Spanyol yang beragama Kristiani dan masjid tersebut diubah fungsinya menjadi Katedral Gotik dan beberapa bagian direnovasi dengan gaya arsitektur Moor.

Oleh karena itu begitu mendapat kesempatan mengikuti TVET International Conference di Valencia University, saya mengatur waktu agar sebelumnya dapat ke Cordoba.  Saya terbang dari Edinbrugh Sabtu tgl 27 April pagi-pagi dan mendarat di Malaga sekitar pukul 11 waktu setempat.  Selanjutnya naik kereta api ke Cordoba, setelah makan siang dulu di stasiun Malaga.  Sampai Cordoba sudah sore, sekitar pukul 15an.  Turun dari kereta disambung dengan taksi yang hanya bisa berhenti di tepi jalan, karena penginapan saya di Jewis centre, kawasan yang konon dahulu daerah kaum Yahudi.  Lokasinya di gang sempit dan mobil tidak dapat masuk.  Jadi saya, isteri, anak dan menantu mesti jalan sekitar 50 meter sambil menarik koper.  Sorenya istirahat sambil mencari informasi tentang Cordoba.

Ketika kami datang sudah ada sekitar 20 orang yang antre. Hari minggu tampaknya banyak pengunjung.

Kami dapat informasi kalau ada tradisi tidur siang di masyarakat Spanyol.  Infonya semua toko maupun kantor tutup anatara jam 13.00 s.d 17.00, karena orangnya istirahat tidur siang.  Mendengar informasi itu, saya jadi teringat diskusi antara Ustad Taufiq AB dengan Pak Latif Burhan sekian tahun lalu.  Pak Taufiq menyampaikan kalau Nabi Muhammad saw biasa tidur siang dan itu baik bagi kesehatan.  Sebaliknya Pak Latif mengatakan tidur siang itu dilarang, masak di jam kantor tidur. Mungkinkah kebiasaan itu yang sekarang menjadi tradisi di Cordoba, mengingat Cordoba dahulu merupakan ibukota Spanyol di era Islam.

Apa kaitannya tidur siang dengan pergi ke masjid Cordoba?  Saya takut jam 13.00 masjid ditutup, sedangkan jam 09.00 baru dibuka.  Apalagi informasinya pengunjung sangat banyak dan harus antre waktu masuk. Juga jumlah orang di dalam masjid dibatasi, sehingga jika dirasa penuh pengunjung lain diharuskan menunggu di luar dahulu.  Oleh karena itu kami memutuskan untuk ke masjid Cordoba pagi-pagi. Kami berangkat jam 08.10 dengan harapan dapat masuk rombongan pertama.   Dan betul, pada pukul 08.45an kami sampai ke gerbang sudah ada sekitar 20 orang yang antre, pada hal pintu belum dibuka, sehingga saya dengan istri, anak dan menantu masuk rombongan pertama.

Begitu dibuka, rombongan masuk gerbang dan diarahkan ke bagian penjualan tiket di sudut halaman masjid.  10 euro per orang.  Sambil membeli tiket saya sempat mengamati halaman masjid yang dikelilingi pagar setinggi 15 meteran, mirip benteng.  Di halaman ada beberapa pohon kurma, banyak pohon jeruk Spanyol dan cemara pecut.  Juga ada menara yang semula saya kira menara masjid ternyata ada genta atau bel besar, berarti “milik” gereja.  Atau mungkin semula menara masjid tetapi setelah masjid berubah menjadi katedral diubah menjadi menara gereja dan diberi  genta

Setelah membeli tiket, kami masuk ke dalam masjid.  Sepertinya pintu utama yang asli ditutup, dan pengunjung masuk melalui pintu samping yang paling kanan.  Begitu masuk, saya menyadari betapa megah masjid Cordoba.  Sebagai bangunan yang dibuat pada abda ke 8, menurut saya sudah sangat megah.  Pola bangunan ada kemiripan dengan masjidil haram, dengan lengkungan-lengkungan antar tiang yang terbuat dari marmer.

Imaman masjid yang masih tampak utuh, sayang pengunjung tidak boleh sholat disitu

Melihat ornament masjid, tampak sekali dominasi kritiasi, karena banyak hiasan lukisan dan patung seperi lazimnya gereja. Saya berusaha mencari peninggalan Islam yang khas dan menemukan lokasi imaman (tempat imam sholat).   Masih utuh, tetapi dipagari besi dan ada penjaga di dekatnya.  Tidak boleh lagi sholat di situ.  Lama saya berdiri dan merenung, mencoba berkotemplasi bagaimana situasi saat masjid masih berfungsi dahulu.  Jantung saya terasa berdegub.  Saya membayangkan betapa perjuangan untuk membangun masjid sebesar itu di abad ke depalan yang tentunya teknologi masih sederhana.  Lantai masjid dari marmer,begitu pula tiangnya, yang tentu harganya mahal dan pembuatannya tidak mudah.

Artefak dengan huruf arab gundul yang diletakkan dalam kotak kaca dan pengunjung hanya dapat melihat dari jarak sekitar 2 meter.

Di dekat imaman ada semacam batu putih tipis selebar 1 x 2 meter bertuliskan huruf Arab gundul yang jujur saya tidak dapat membacanya.  Artefak itu ditutupi dengan kaca, sehingga pengunjung hanya dapat melihat dari jarak sekitar 2 meter.  Di dekatnya juga ada “jam matahati” yang ditempelkan di tembok.  Sayang tidak dapat dilihat berfungsi atau tidak, karena didekatnya ada lampu, sehingga banyangan yang tampak di jam itu bukan dari sinar matahari melainkan dari lampu tersebut.

Mihrab yang dibuat di tengah masjid. Tampak tiang-tiang aslinya masjid.

Kira-kita ditengah masjid, saya menjumpai sesuatu yang saya duga itulah tanda utama bahwa masjid diubah fungsinya menjadi katedral.  Sepertinya ada bagian masjid yang dibongkar dan disitu dibuat semacam mihrab tempat pastur menyampaikan kotbah. Tampak sekali ornamen asli masjid yang tentu bernuasa Islam dan ornament gereja yang dihiasi gambar dan patung.  Lantai mihrab maupun atapnya dibuat lebih tinggi.  Atap bagian mihrab itu sangat mungkin dibuat dengan memotong atap masjid yang asli, karena langit-langitnya jauh lebih tinggi dibanding langit-langit masjid aslinya.

Di dekat mihrab itu saya menjumpai kursi berderet dan dipagari dengan tali merah.  Ternyata lokasi itu untuk acara kebaktian.  Ada tiga lokasi seperti itu.  Saya tidak dapat informasi apakah dibuat tiga karena ada tiga ordo yang berbeda.  Yang jelas dengan adanya tanda itu berarti  masjid itu masih berfungsi sebagai gereja, walupun sampai saja keluar sekitar pukul 11an tidak ada aktivitas kebaktian. 

Walaupun ada mihrab dan diding dihiasi dengan ornamen kritiasi, namun jika dilihat dari tiang-tiang dan ruangan yang terbuka masih kuat kesan bahwa itu masjid.

Di dinding sekeliling masjid, kecuali sekitar imaman, semuanya menuasa kristiasi yang dipenuhi dengan gambar dan patung-patung.  Namun demikian jika melihat ke tengah nuasa masjid masih tampak dominan.  Bentuk tiang dan penyangga atap lekat dengan bentuk masjid.  Ruangan besar yang datar tanpa pembatas juga merupakan bentuk khas masjid.

FORMALITAS VS BERMAKNA: SAFETY BRIEFING DI PESAWAT

Sekian waktu lalu, di blok ini, saya pernah mempertanyakan safety briefing di pesawat. Ingat saya waktu itu saya naik Lion Air atau Wings Air.  Seperti lazimnya, ketika penumpang sudah naik semua dan pintu pesawat ditutup dan pesawat mulai bergerak tetapi sebelum masuk runway, pramugari selalu memberikan penjelasan tentang keamanan dalam pesawat yang biasa disebut safety briefing.  Yang saya keluhkan, penyelasan itu tidak bermakna.  Paling tidak bagi orang setua saya.  Mengapa? Karena disampaikan dengan sangat cepat dan seringkali tidak ada titik-komanya.  Saya yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia saja, tidak faham penjelasan itu yang dalam bahasa Indonesia.  Apalagi orang yang dalam keseharian menggunakan bahasa daerah atau orang asing.

Bukankah selalu dijelaskan dalam dua bahasa?  Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?  Betul.  Tetapi bahasa Inggrisnya lebih tidak jelas.  Di samping pronunciation-nya tidak tepat, juga disampaikan dengan sangat cepat dan seperti tidak faham mana kalimat yang utuh.  Itulah sebabnya saat itu saya mengatakan, sepertinya safety briefing itu sekedar formalitas untuk memenuhi undang-undang penerbangan sipil.  Mirip orang naik motor menggunakan helm yang tidak ditalikan.  Sudah memenuhi undang-undang lalu lintas, tetapi tidak bermakna bagi keselamatan.

Nah, pagi tanggal 27 April 2019 saya terbang dari Edinbrugh (Skotlandia) ke Malaga (Spanyol) menggunakan pesawat Jet2.com.  Jenis penerbangan murah (biasa disebut low cost carrier), seperti Lion Air, Citilink dan sejenisnya.  Saya menggunakan penerbangan itu cari yang murah, apalagi saya terbang dengan istri, anak dan menantu.  Begitu naik pesawat, saya mencoba mendengarkan safety briefing apakah seperti di Lior Air karena sama-sama penerbangan murah.  Ternyata tidak.  Safety briefing disampaikan dengan jelas.  Saya orang Indonesia yang sehari-hari berbahasa Indonesia dapat menangkap safety briefing yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Mengapa berbeda ya?  Itulah yang saya pikirkan atau lebih tepatnya saya pertanyakan.  Apakah itu terkait dengan aturan di perusahaan penerbangan yang berbeda?  Atau itu terkait dengan budaya?  Jujur saya tidak faham.  Oleh karena itu saya mencoba mengaitkan dengan beberapa fenomena lain, baik di bandara maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mengamati pramugari yang menjual makanan dalam pesawat.  Sambil pengin membeli the hangat, karena pukul terbang pukul 06.30 sehingga pukul 04.30 sudah berangkat dari rumah (rumah anak).  Sangat pagi untuk ukuran orang Edinbrugh.  Jadi belum sempat sarapan.  Namun untuk berhemat, kami membawa roti dan pisang untuk dimakan di pesawat.  Namun seperti aturan yang lazim di penerbangan internasional, tidak diperbolehkan membawa cairan lebih dari 100 cc.  Jadi makanan membawa dari rumah, tetapi minuman membeli di pesawat.

Pramugarinya relatif masih muda dan tidak seperti pramugari di Amerika yang biasanya sudah senior (untuk tidak menyebut tua), namun pakaiannya sederhana dan salah seorang rambutnya digelung lucu, mirip dengan gelungan almarhum ibu saya di kampung.  Tampilannya ramah dan tampak sekali tidak terlalu formal. Senyum selalu berkembang di bibirnya dan setiap ada penumpang yang bertanya selalu dijawab dengan baik.

Ketika mereka lewat mendorong kereta makanan/ minuman di dekat saya, saya ingin segera pesan the.  Namun saya amati mereka membawa catatan dan hanya berhenti di deretan kursi tertentu.  Kiki, anak saya berbisik pramugari masih melayani penumpang yang sudah pesan makanan/minuman secara online.  Oh, ternyata soal makanan atau minuman saja harus pesan online jika ingin dapat duluan atau pasti dapat karena tidak kehabisan….Tunggu cerita kehabisan tiket kereta. Selesai melayani pesanan online, mereka berkeliling lagi dan penumpang dapat membeli makanan atau minuman.  Ngomongnya jelas dan mau menjelaskan apa makanan atau minuman yang dijual.

Ketika pesawat menjelang mendarat di Malaga, ada penguman sangat menarik.  Pramugari mengumumkan 30 menit lagi pesawat mendarat, penumpang yang ingin ke toilet dipersilahkan sekarang.  Kurang 20 menit dan kurang 10 menit pesawat mendarat pramugari kembali memberi pengumuman dengan setengah bercanda, adalah yang belum sempat ke toilet.  Diminta menahan dan siap-siap untuk mendarat.

Kesan saya pramugari di Jet2.com, meskipun pesawat kelas murah, memberikan safety briefing dan penjelasan lain dengan jelas.  Tampaknya mereka memahami penumpang dari berbagai bangsa, sehingga memerlukan penjelasan dengan baik.  Mungkin pramugari Jet2.com mementingkan makna penjelasan yang diberikan dan bukan sekedar memenuhi formalitas.

Besanku

Minggu ini, untuk kesekian kalinya saya ke Edinbruh mengunjungi Kiki, anak sulung saya yang menetap di sini.  Seperti biasanya saya selalu berkunjung ke rumah besan.  Keduanya pensiunan perawat.  Ternyata budaya orang Scotland mirip dengan orang Indonesia, sangat akrab dengan besan.  Kali ini kami bertemu dan makan siang bersama di Cairngorms National Park.  Sebuah lokasi di pergunungan yang di beberapa bagiannya selalu bersalju, tempat banyak orang berwisata. Apalagi tidak jauh dari situ asa Glenmore Forest Park: Loch Morlich Beach, sebuah danau tempat banyak orang bermain perahu layar.

Kami makan siang dengan menu soup Scotch Broth, rolls, chips dengan minum capuchino panas.  Menantu saya, Roy makan mac and cheese.  Anak saya Kiki makan roasted vegetable. Besan perempuan saya, Pearl dan isteri saya minum lemon warm water. Makan siang sambal ngobrol sana-sini. Apalagi di liburas paskah, sehingga saya dan isteri dapat hadian paskah ala Scotland dan kebetulan isteri juga membawa oleh-oleh berupa tas yang dibeli di Mirota dan roti pandan kesukaan anak.

Menurut Kiki, di UK ada pension resmi (state pension) yang besarnya tergantung penghasilan.  Seperti diketahui di UK setiap orang yang pernah berkerja dapat pension karena itu merupakan bagian dari uang yang dipotong dari gaji kita.  Di luar itu, setiap orang didorong untuk “menabung pensiun” yang juga disebut pensiun.  Besarnya terserah pada masing-masing orang, tetapi begitu seseorang menabung maka kantor/perusahaan tempat bekerja wajib memberi tambahan tabungan pensiun yang bersangkutan dengan besaran yang sama.  Jadi jika karyawan Pemkot Surabaya menabung 200 ribu per bulan, maka otomatis Pemkot Surabaya akan menambah tabungan karyawan tersebut 200 ribu, sehingga tabungan yang bersangkutan menjadi 400 ribu per bulan. 

Ketika foto kami makan bersama, seperti diatas saya kirim ke teman-teman BAN SM Jakarta, seorang teman dari IPB memberi komentar “orang UK itu hidupnya sederhana tetapi tampak bahagia”.  Mungkin beliau ingat kalau besan saya keduanya pensiunan perawat.  Namun justru komentar itu mengingatkan saya akan pertanyaan yang selama ini ada di pikiran saya dan belum mendapat jawaban yang tuntas.  “Seperti apa pola pension di UK, sehingga pensiunan perawat dapat hidup berkecukupan dan bahkan secara rutin liburan ke luar negeri”.

Apakah hanya itu yang membuat besan saya yang pensiunan perawat bisa hidup sangat layak dan rutin liburan ke luar negeri? Itulah pertanyaan yang belum terjawab.  Konon gaji terendah di UK sekitar 800 pound per bulan. Jika diambil standar pensiunan wajib 13.8%, berarti yang bersangkutan setiap bulan dipotong dana pensiun 110.4 pound atau 1, 9 juta rupiah.  Apakah dengan itu mereka dapat pensiun untuk hidup dengan layak ? Itulah pertanyaan besar saya.

Setelah selesai makan siang, saya ingin hiking menikmati lereng gunung syukur kalau bisa mencapai salju. Ketika saya mulai jalan bersama anak (Kiki) dan menantu (Roy), tiba-tiba besan perempuan saya (Pearl) ikut.  Saya ragu-ragu karena usianya 84 tahun.  Namun Kiki meyakinkan kalau Pearl sudah biasa hiking.  Jadilah kami berempat mulai mendaki, dengan memilih jalan yang relatif datar dan sudah baik path-nya.

Melihat Pearl dan Kiki jalan sambal ngobrol saya jadi mengerti kalau Pearl memang sudah biasa hiking.  Jalannya tegap dan tampak santai.  Kami terus berjalan, dan jalan mulai menanjak. Sampai di puncak menjelang jalan menurun karena akan melewati sungai, Pearl berhenti ditemani Kiki sehingga saya dengan Roy yang terus melewatu sungai dan menggapai satu lokasi tempat salju.  Nah ketika saya dan Roy sampai lokasi salju tiba-tiba Kiki menyusul dan mengambil foto dari jarak akan jauh.

Kemana Pearl?  Ternyata dia balik ke lokasi café sendirian.  Bukan main.  Bagaimana seorang perempuan dengan usia 84 tahun, mendaki gunung, walaupun tidak tinggi tetapi memerlukan waktu sekitar 1 jam dan kemudian balik sendirian.  Itulah pertanyaan kedua yang saya belum mendapatkan jawaban yang tuntas.  Bahwa Pearl seorang pensiunan perawat yang tentu faham kesehatan, ya.  Bahkan dia selalu menjaga makanan, ya.  Tetapi dengan usian 84 tahun masih menjadi gunung dengan santai dan balik sendirian, menurut saya sesuatu yang mengagumkan.